Table of contents: [Hide] [Show]

Sufi Milenial Matan Jawa Tengah

Pengurus Wilayah (PW) Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (MATAN) Jawa Tengah menyelenggarakan sarasehan dengan tema “Menulusuri Jejak Salik Millenial”. Sarasehan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Kemah Kebangsaan yang dilaksanakan di SMA Islam YMI Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan pada tanggal 17-19 Desember 2021.

Pemateri dalam sarasehan kali ini adalah Gus Candra Malik, seorang sufi, budayawan sekaligus penulis. Dalam pemaparannya, pemateri mengawali penjelasannya dengan membahas tentang istiqomah.

Istiqomah adalah hal yang berat, maka beristiqomahlah pada amalan-amalan yang ringan terlebih dahulu, seperti membiasakan menebar senyum kepada sesama, mengucapkan salam, dan lain sebagainya”.

Selanjutnya, pemateri yang juga seorang penyanyi ini berpesan kepada peserta untuk menyadari nikmat Allah swt. Seringkali kita sebagai manusia melupakan nikmat Allah yang sebenarnya telah kita rasakan setiap hari, seperti nikmat dapat bernafas, mendengar, melihat dan berbicara. Oleh karena itu Gus Candra Malik menegaskan, bahwa dalam bernafas, kita dianjurkan untuk senantiasa mengingat Allah swt.

Sarahsehan yang diikuti 150 peserta perwakilan dari MATAN se-Jawa Tengah ini berjalan dengan lancar dan gayeng. Materi disampaiakn oleh Gus Candra Malik dengan bahasa yang ringan sehingga mudah difahami. Sesekali beliau juga menyelipkan candaan dalam membawakan materi. Hal ini menambah antusias peserta untuk mendengarkan.

Di tengah-tengah pemaparannya, pemateri menjelaskan tentang apa itu syariat, tarekat dan makrifat. Menurut beliau syariat merupakan sebuah jalan, thoriqoh adalah sebuah cara untuk berjalan, hakikat adalah alamat yang dituju, dan makrifat yaitu si empunya alamat itu tadi. Ketika kader MATAN berjalan, dapat mengetahui jalan mana yang akan dilewati, kendaraan apa yang akan digunakan serta kemana ia menuju dan hendak bertemu siapa.

Ketika seseorang telah berthoriqoh, artinya sebagai murid, ia harus taat kepada mursyid. Ketaatan kepada mursyid ini tercerminkan dalam bentuk ketaqlidan murid kepada mursyidnya. Taqlid bukanlah pembodohan, karena mursyid adalah seorang guru yang dapat menuntun manusia berjalan menuju alamat akhirat dengan selamat. Tidak ada mursyid yang tidak mengajar, yang ada murid yang tidak belajar. Diamnya Mursyid adalah permata, marahnya adalah pelajaran.

Sebelum sarasehan ditutup, Halim, salah satu peserta dari Purbalingga bertanya, “Kapan waktu yang tepat untuk bertemu Mursyid? Apakah jika seorang murid sudah lama tidak bertemu mursyidnya, maka batal thoriqohnya?”

Pemateri kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang “Hubungan manusia terbatas oleh ruang dan waktu, namun hubungan Murid dengan Mursyidnya tidak. Kehadiranmu ke hadapan Mursyid adalah 1 %, Sisanya adalah hal ghaib yang behubungan dengan spiritualitas. Maka hadiahkanlah surat Fatihah kepada mursyid kita setiap hari. Ketika Mursyid sudah meninggal, maka hubungan antara murid dengan mursyid terjalin melalui jalur batiniah, karena sesungguhnya hubungan antara murid dengan mursyid tidak akan pernah terputus walaupun seorang mursyid sudah meninggal dunia”.

Untuk guru – guru kita semua, baik yang masih hidup ataupun telah intaqola ila rafiqil a’la … Al Faatihah

Share: