MATAN

Silaturrahim MATAN Yogyakarta

Gus Hasan: Santri MATAN Harus Percaya Diri Saat Terjun ke Masyarakat

Yogyakarta, – Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) Dr. Hasan Chabibie hadiri kopdar bersama Muhibbin (pecinta) MATAN se-Yogyakarta, Minggu (28/05).

Gus Hasan, sapaan akrabnya, menceritakan kegiatan dengan Menteri Kemendikbud Nadiem Makarim yang mengajaknya berkeliling melihat perkembangan pesantren.

“Saya kira-kira bulan februari lalu dengan pak menteri sering jalan ke pesantren dan meninjau perkembangan pendidikan pesantren, lalu pak menteri bertanya kepada saya, apa motivasi ke pesantren?,” kata Kepala Pusdatin Kemdikbud ini, Minggu (28/05).

Kemudian, Gus Hasan menjawab bahwa para santri datang ke pesanten untuk mendapatkan nilai-nilai baik spiritual, islam dan nasionalisme.

“Mereka datang ke pesantren untuk mencari nilai-nilai karakter di pondok pesantren NU yang diajarkan tentang keagamaan sehingga membentuk para santri memiliki spirit nasionalisme cinta tanah Air, ” ujarnya.

Selain itu, Gus Hasan berpesan kepada santri MATAN yang harus memiliki sikap percaya diri dan cakap dalam bersosial di masyarakat. “Santri harus percaya diri berbicara dengan keilmuannya saat terjun ke masyarakat,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sekitar dua bulan lalu sowan ke Habib Luthfi dan menyampaiakan keresahan anak muda saat ini.

“Sekitar dua bulan lalu saya mengikuti persiapan Multaqo Sufi Dunia, ada dua hal yang saya tanyakan ke Abah Luthfi tentang anak Muda Yg Hedonis & Radikalis, yg realistas kita terjadi di kalangan generasi anak Muda saat ini,” ungkap Gus Hasan.

Bagaimana kita menyikapi kondisi ini, apakah ruang tasawuf berperan? “Abah Luthfi menjawab bahwa para Masyayikh tasawuf harus turun gunung, sering turun ke bawah membersamai anak2 Muda yang sedang mengalami kegelisahan dan bergaya Hedonis,” tutur Gus Hasan.

Dengan begitu, ini menjadi tugas sahabat-sahabat MATAN bagaimana menjelaskan Taqarrub illalloh ke anak-anak muda secara mudah, dimengerti dan menarik dipahami.

Bagaimana agar tasawuf ini seolah-olah tidak berjarak dengan sains dan tekhnologi? dan peran tasawuf ini dimana? “Abah menjawab: Hal ini akan dibawa sebagai materi acara Multaqo sufi, dan Abah berharap MATAN harus terlibat dalam agenda kegiatan multaqo sufi dunia di Pekalongan yang akan datang,” tandasnya.

Akhir tausiyahnya, Gus Hasan menitipkan pesan tiga hal di atas harus dipegang bersama, untuk tantangan MATAN di masa depan dengan mampu mengoptimalkan media sosial.

“Insya Allah rencana pertengahan juni akan diadakan rapat program kerja di ponpes futuhiyah Mranggen, untuk menyiapkan MATAN di acara Multaqo sufi tgl 25-27 Juli 2023 mendatang,” pungkasnya.

Bagikan:

Iklan