Pengurus Wilayah (PW) Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (MATAN) Jawa Tengah gelar Kemah Kebangsaan MATAN se-Jawa Tengah. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 17-19 Desember 2021 ini diikuti oleh perwakilan Pengurus Cabang dan Pengurus Komisariat se-Jawa Tengah. Tema dalam Kemah Kebangsaan ini adalah “Harmonisasi Cinta, Intelektual, dan Spiritualitas Kaum Muda dengan Wawasan Kebangsaan”.


Salah satu materi dalam kegiatan ini membahas tentang Sanad thoriqoh. Materi ini disampaiakan oleh KH. Dzikron Abdullah, Rois Wustho JATMAN Jawa Tengah. Penjelasan beliau dimulai dari kedudukan syari’at, thoriqoh, dan ma’rifat. Menurut beliau syari’at diibaratkan dengan perahu, thoriqoh diibaratkan dengan lautan dan yang terakhir ma’rifat merupakan mutiara yang dicari dalam megarungi lautan dengan perahu.

Selanjutnya pemateri yang sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ad Dainuriyah 2 Pedurungan Semarang ini berpesan agar kader MATAN bersungguh-sungguh dalam berthoriqoh. Kesungguhan dalam berthoriqoh ini diawali dengan memilih thoriqoh yang bersanad jelas sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sanad dalam berthoriqoh merupakan hal yang sangat penting. Jika sanad sebuah thoriqoh tidak menyambung ke Rosulullah saw, maka terputuslah sirr kerohaniannya.

Selain itu, seorang yang mendaku Mursyid Thoriqoh dengan sanad yang tidak jelas, maka ia tidak boleh membaiat orang lain, karena sanad merupakan syarat sebuah baiat.

Di akhir pemaparan materi, Rois Wustho JATMAN Jawa Tengah ini menegaskan bahwa dalam berthoriqoh, seorang salik hendaklah mengetahui sanad thoriqoh guru mursyidnya yang dianutnya, tidak hanya asal ikut baiat saja. Sanad thoriqoh merupakan hal yang sangat penting,

Apabila ada mursyid thoriqoh yang sanadnya tidak musalsal ( sambung sampai Nabi Muhammad ) dan tidak mendapat izin menjadi mursyid dari gurunya, hukumnya tidak boleh menjadi mursyid dan tidak boleh membaiat. Jika orang semacam ini tetap menjadi mursyid, membaiat, dan menalkin itu sama dengan pembegal thoriqoh.

Share: