MATAN

Perjalanan Cinta Puang Makka bersama Habib Luthfi ibn Ali ibn Yahya

Sebuah catatan suluk sampai bertemu dengan Rasulullah SAW

Puang Makka Murid Maulana Habib Luthfi

Sudah menjadi ketentuan dalam dunia tarekat bahwa seorang murid haruslah senantiasa bersama dengan mursyidnya untuk meraih percikan kebaikan dan kemuliaan. Murid yang selalu bersama mursyidnya, akan mendapatkan energi ruhaniah yang dipantulkan oleh seorang mursyid.
Kebersamaan murid dengan mursyid, harus terwujud baik secara lahiriah dan batiniah. Murid seharusnya menyabarkan diri bersama mursyidnya.

Kebersamaan dalam berkhidmat seorang murid kepada mursyidnya agar dapat merasakan keberkahan. Maqam awal yang harus dilalui untuk selalu bersama dengan mursyid, memerlukan suluk khusus dan pelatihan ruhaniah disertai dengan ujian yang cukuplah sulit bagi murid pemula.

Suluk berupa ujian khusus inilah yang lama dilalui Habib Abdurrohim Assegaf Puang Makka saat awal mula berguru pada Maulana Habib Muhammad Luthfi Ali bin Yahya sejak tahun 1986.

Perjalanan

Guru Puang Makka, Habib Luthfi lahir di Pekalongan, 10 Nopember 1947. Selain sebagai Watimpres RI 2019 – 2024 dan Rais ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al-Muktabarah al-Nahdliyah, Habib Luthfi juga sebagai Presiden Tarekat se-Dunia. Sedangkan Puang Makka lahir di Makassar, 14 September 1960. Selain sebagai mustasyar PBNU, Puang Makka juga sebagai mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy.

Sebagaimana Syekh Yusuf berangkat ke tanah suci untuk belajar atas rekomendasi gurunya, Tuan Karamah. Demikianlah Puang Makka belajar ke Habib Luthfi atas rekomendasi beberapa guru. Selain dari abahnya, Puang Ramma, Puang Makka juga mendapat rekomendasi dari guru-gurunya yakni Kiai Idham Khalid, Habib Husen al-Habsiy dan Mbah Kiai Muzni untuk belajar di hadapan Habib Luthfi.

Khusus Mbah Muzni justru mengamanatkan ke Puang Makka kiranya jangan ke sini, yakni jangan ke rumah Mbah Muzeni di Karangcengis Aji Barang di Purwokerto sebelum Puang Makka ke rumah Habib Luthfi.

Atas rekomendasi guru, maka keesokan harinya Puang Makka segera bertolak dari Purwokerto ke Pekalongan. Mas Widodo cucu Mbah Muzni yang pertamakali mengantar Puang Makka atas amanah Mbah, “Wid, antar ini Habib ke Habib Luthfi” kata Mbah Muzni ke cucunya, Widodo.

Perjumpaan

Saat Puang Makka tiba di kediaman Habib Luthfi di Pekalongan, menunggu sampai tengah malam barulah bisa bertemu dan Habib Luthfi bertanya. Oh iya, nama antum siapa ? nggeh habib nama saya Abdurrohim dari Makassar.
Bin…? Habib Luthfi balik bertanya sebagai isyarat agar Puang Makka menyebut nama abahnya.
Bin Djamaluddin Assegaf. Jawab Puang Makka.
Bin…? tanya Habib Luthfi kemudian.
Bin Hanbali bin Abdur Razzaq bin Ahmad Shaleh, bin Zainuddin. Belum selesai menyebut nama kakek-kakeknya, Habib Luthfi memotong pembicaraan Puang Makka, “Kakek antum yang kuburannya di pulau luar Kota Makassar siapa namanya”? Tanya habib Luthfi.
Puang Makka tiba-tiba diam sejenak, tercengang, heran, campur kagum sambil menatap wajah Habib Luthfi yang tersenyum itu. Muncul serangkaian pertanyaan dalam hati bagi Puang Makka, kenapa Habib Luthfi mengetahui posisi makam tersebut yang berada di pulau luar Kota Makassar ? itulah karomahnya !
Di pulau itulah, yakni Pulau Barrang Lompo dimakamkan kakek Puang Makka, yakni Sayyid Alwi Assegaf bin Sayyid Abdullah bin Ahmad Syarif al-Allamah al-Thahir Assegaf, Awwalu Assegaf fi Sulawesi al-Junubiyah yang masyhur dengan nama Tuan Karamah, guru Syekh Yusuf.

Senyuman khas Habib Luthfi saat itu jugalah yang sangat berbekas di hati Puang Makka sampai saat ini, dan tidak terlupakan baginya.

Senyuman tulus Habib Luthfi yang keluar dari lubuk hati sanubarinya sejak tahun 1986 itu menjadi momen terindah pertama kalinya Puang Makka bertemu dengan habib Luthfi, senyuman itu pula yang selalu terbayang pada diri Puang Makka, bahkan senyuman gurunya itu dijadikannya sebagai prisai wasilah setiap hendak bertemu dengan Habib Luthfi secara lahiriah dan batiniah.

Istiqomah Berkhidmah dan Karomah yang mengikutinya

Memasuki tahun 1987, Puang Makka sudah mulai intens belajar di hadapan Habib Luthfi, mengikuti pengajian secara rutin, dan menjadi khadamnya. Mulai sejak itu pulalah Puang Makka banyak meniru pola hidup gurunya misalnya pantang tidur di malam hari. Bahkan beberapa pekerjaan yang cukup riskan seperti mencuci mobil gurunya di tengah malam hampir menjadi pekerjaan tetap Puang Makka saat berkhidmat di Habib Luthfi.

Pada tahun 1989-1992 karena Puang Makka mulai aktif sebagai salah satu unsur Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor, maka bolak baliklah beliau dalam satu dua hari Jakarta-Pekalongan demi pengkhidmatannya kepada sang guru. Tahun 1993, Puang Makka ingin izin pamitan kembali ke Makassar melepas suasana kangen dengan keluarga. Saat itu Habib Luthfi menyerahkan sebuah surban kepada Puang Makka agar dibawa ke tanah suci. Ini surban, saya berikan ke antum untuk dibawa ke tanah suci. Kata Habib Luthfi sambil menyodorkan surban tersebut Puang Makka.

Saat itu, puang Makka bingung dan ada yang sangat aneh disertai seribu macam pertanyaan yang muncul dalam hatinya. Saya ini orang miskin, mana mungkin bisa ke tanah suci ?. Demikian pertanyaan dan pernyataan yang terdetik dalam hati kecil Puang Makka.

Untuk tidak mengecewakan guru, maka Puang Makka menerima surban tersebut. Beberapa hari setelah tiba di Makassar, Puang Ramma menyampaikan ke Puang Makka untuk segera mempersiapkan segala-galanya sebagai syarat berhaji ke tanah suci. Siapkan KTP, paspor, poto, dan lainnya, tadi ada utusan pak JK (Jusuf Kalla) datang ke sini meminta saya dan empat orang keluarga untuk diikutkan ke tanah suci. Demikian kata Puang Ramma ke Puang Makka.

Ringkas kisah, berangkatlah Puang Makka ke tanah suci menunaikan ibadah haji dan membawa surban yang dititip Habib Luthfi tadi. Saat tawaf di Mesjidil Haram, surban tersebut hilang, tiba-tiba lenyap entah kemana. Setelah tiba dari tanah suci, Puang Makka bertolak ke Pekalongan dan di hadapan Habib Luthfi disampaikanlah bahwa al-hamdulillah Abah, saya ini sudah berhaji, tetapi begini abah…, anu abah,… Puang Makka sambil terbata-bata ingin melaporkan bahwa surbannya hilang, namun tiba-tiba Habib Luthfi berkata, iya tapi surban hilang toh. Iya Abah, jawab Puang Makka.

Kisah indah tentang Bersambungnya Ruhaniyah Guru dan Murid

Dari kisah di atas, minimal ada dua pertanyaan besar yang muncul dan perlu disimak. Pertama, mengapa dan kenapa Habib Luthfi mengetahui bahwa muridnya ini akan berangkat haji ke tanah suci, padahal saat itu Puang Makka belum mampu secara ekonomi. Kedua, dari mana Habib Luthfi mengetahui bahwa surban yang dititipnya itu hilang.

Sangat diluar dugaan bagi Puang Makka yang saat itu hidup miskin, tidak memiliki dana dan ongkos biaya haji ke tanah suci, namun bisa melaksanakan rukun Islam kelima. Di luar dugaan pula, karena kenapa Habib Luthfi, tahu bahwa surban yang dititipnya hilang di sana.
Dugaan dan asumsi serta beberapa pertanyaan yang mungkin muncul terkait dengan kisah tadi, Puang Makka menuturkan demikianlah antara lain karamah Habib Luthfi saat itu, tahun 1993.

Beberapa rangkaian kejadian penting selanjutnya yang disaksikan oleh Puang Makka terkait kemuliaan gurunya, karamah yang dimiliki gurunya itu, maka susah diprediksi sudah tingkat mana lagi maqam Habib Luthfi untuk saat ini dalam posisinya sebagai presiden tarekat sedunia.

Suatu ketika, Puang Makka berangkat ke Pekalongan tanpa memberitahu gurunya, Habib Luthfi. Secara rahasia, tidak diberitakan kepada siapapun, Puang Makka bersama ajudannya H. Ibrahim Tiro saat tiba di sana, menginap di Hotel Santika depan Stasiun Kereta Api Kota Pekalongan, dan bersepakat untuk tidak menelpon kepada seorangpun, kepada siapapun dirahasiakan keberadaannya.

Saat itu, yang menjabat Dandim 0710 Kota Pekalongan adalah Letkol Inf. Muhammad Ridha silaturahim dengan Habib Luthfi. Kepada Dandim, ditanya asal dari mana daerahnya ? iya abah, saya ini putra Makassar berasal dari Limbung Bajeng Kabupaten Gowa. Jawab Letkol Ridha. Habib Luthfi tiba-tiba membalas, nah itu dia Habib Puang Makka dari Makassar saat ini berada di Pekalongan, coba cari dimana beliau sekarang karena sudah dua hari di sini.

Letkol Ridha, setelah berusaha keras mencari akhirnya bertemu dan Puang Makka bertanya, info dari mana pak Dandim tahu bahwa saya ada di sini, di Hotel Santika. Iyek Puang saya mengetahui bahwa kita di sini karena Habib Luthfi menyampaikan ke saya, jawab Letkol Ridha.

Nah, kenapa Habib Luthfi tahu bahwa Puang Makka ada di Pekalongan saat itu sebagaimana yang diinfokan Letkol Ridha ?. Jawabannya, itulah kontak batin antara guru dan murid sebagai ekspektasi dari karomah.

Ijazah Baiat dan Khidmah Jam’iyyah

Habib Luthfi saat ini merupakan tokoh tarekat di dunia internasional, Rais ‘Am JATMAN NU dan berbagai jabatan bergensi pada pundaknya, adalah sosok guru yang mulia dan idola bagi Puang Makka. Jelasnya bahwa Habib Luthfi sangat berperan dalam mencetak kepribadian Puang Makka. Dari Habib Luthfi juga, Puang Makka menerima baiat Tarekat Syazdiliyah. Dari Presiden Tarekat sedunia ini kepada Puang Makka juga diijazahkan Dalailul Khairat dan sejumlah amalan lainnya.

Selain itu, Habib Luthfi telah mengijazahkan ke Puang Makka berupa surban seukuran enam meter. Pengijazahan surban ke Puang Makka dari Habib Luthfi saat itu disaksikan beberapa mursyid dari tarekat lain. Jamaah dari Makassar, H. Abdul Hafid Nur (alm), H. Ibrahim Tiro, H. Muhammad Muhlis, Zulfikar, dan Abdul Razak turut hadir menyaksikan Puang Makka saat menerima ijazah surban sepanjang enam meter tersebut.

Atas rekomendasi dari Habib Luthfi juga, Puang Makka diberi amanah sebagai pimpinan pusat JATMAN dengan jabatan Rais Sadis periode 2012-2018. Periode berikutnya, 2018-2023 menjabat sebagai Rais Awwal mendampingi Habib Luthfi. Selain masih aktif dalam struktur pengurus Pusat JATMAN NU, Puang Makka juga sebagai Mustasyar PBNU periode 2022-2027.

Atas rekomendasi Habib Luthfi, maka Puang Makka sejak aktif di JATMAN NU seringkali dipercaya memimpin sidang-sidang tarekat skala Nasional, pada level internasional Puang Makka pernah dipercaya untuk memimpin sidang tarekat tingkat Internasional pada Forum Muktamar Tarekat Sedunia yang diselenggarakan tanggal 15-18 Januari 2018 di Pekalongan, Puang Makka saat itu didaulat memimpin Sidang Pleno agenda pengesahan Tata Tertib.

Atas keterlibatan Puang Makka di JATMAN, beliaulah yang pertamakali mengusulkan agar para mursyid tarekat menggunakan gelar syekh demi mengembalikan marwah masyayikh masa lampau. Karena itu, gelar syekh telah mulai digunakan bagi setiap mursyid yang bergabung di JATMAN karena usulan Puang Makka.

Sebuah catatan pengalaman spiritual penting tercatat dalam buku diary Puang Makka, tertulis bahwa hari Jumat tanggal 06 Oktober 2017 kami bersama beberapa mursyid tarekat dan jamaah dari Makassar sowan ke Abah Habib Luthfi di Pekalongan dan pada keesokan harinya, menerima ijazah baiat Tarekat Syadziliyah, al-hamdulillah. Demikian, isi tulisan Puang Makka dalam buku diarinya.

Puang Makka yang jauh sebelumnya telah menerima baiat tarekat Syadziliyah dari Habib Luthfi, memang telah bercita-cita agar kelak akan membawa murid-muridnya dan beberapa mursyid dari Makassar untuk menerima baiat dari Habib Luthfi.

Mursyid tarekat dari Makassar yang ikut menerima baiat tarekat Syadziliyah di hadapan Habib Luthfi adalah mursyid tarekat Haqiqatul Muhammadiyah, Dr. AGH Syekh Baharuddin HS. Mursyid tarekat Samman, Syekh Andi Hidayat Puang Rukka. Ikut pula sebagai naibul mursyid Tarekat Yusufiah, Karaeng Nompo adalah anaknya, yakni Amin Sahib Sultan.

Jamaah Puang Makka dari tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf yang ikut berbaiat tarekat Syadziliyah di hadapan Habib Luthfi saat itu adalah Sayyid Ali Assegaf, H. Abdul Hafid Nur (alm), Pandu Surya Ageng, Anwar Abubakar, Mahmud Suyuti, Syekh Imran Abdillah, Syekh Asnawi, Syekh Asep Saefullah, Syekh Maulana, H. Mustari, Ibrahim Tiro, Faisal Ibrahim, Ikhsan Ibrahim, H. Muh Faried Wajedi, H. Muh. Idris, Muhammad Syahid, Sudirman Mahmud, dan Mudassir Idrus.

Subuh dini hari sabtu (07/10/2017), mereka ini telah resmi menerima baiat ‘am tarekat Syadziliyah dari Habib Luthfi. Setelah dibaiat, Puang Makka menyampaikan bahwa sejak tujuh tahun lalu, yakni sejak tahun 2010 rencana dan niat tulus baiat Syadziliyah ini sudah disampaikannya ke Abah, Habib Luthfi dan Alhamdulillah baru saat ini, cita-cita saya tersebut terkabulkan. Demikian kata Puang Makka di hadapan jamaah saat itu dengan haru, nada terbata-bata, mata berkaca-kaca sebagai ekspresi rasa senang bahagia dan gembira.

Selanjutnya Habib Luthfi dalam tausiahnya mengatakan bahwa kalian semua ini sudah resmi menjadi jamaah saya dan dawamkanlah zikir Lā-ilāha illallāh karena inti semua tarekat adalah zikir.

Habib Luthfi kemudian menjelaskan bahwa orang yang sudah berbaiat dengan salah satu mursyid tarekat tidak boleh pindah seenaknya kepada mursyid atau tarekat lain. Kalau pun tetap ingin pindah, harus mendapatkan ridha dari masing-masing mursyid.

Nasehat Indah Tentang Akhlaq dan Adab

Karena kalian semua ini sudah mendapat restu dan izin dari Puang Makka, bahkan Puang Makka sendiri yang mengantar kalian ke sini, maka saya baiat dan ijazahkan tarekat Syadziliah ini. Selanjutnya Habib Luthfi menutup tausiahnya dengan dua pesan penting.

Pertama, kalian ini tidak boleh berpersepsi bahwa mursyid yang satu lebih hebat atau lebih tinggi ilmunya dari mursyid sebelumnya.
Kedua, jika di antara kalian ada yang sudah berbaiat dengan mursyid lain tetapi terasa masih bimbang, maka diperbolehkan untuk tetap berbaiat tetapi li tabarruk, ngalap barokah dari mursyid tersebut.

Nasehat dan pesan Maulana Habib Luthfi

Setelah acara baiat, semua yang hadir tadinya duduk merapat masing-masing maju kedepan antri satu persatu mendekat ke Habib Luthfi untuk bersamalan. Sebagian jamaah kelihatan ada yang sengaja merebahkan wajahnya ke dada Habib Luthfi, ada pula jamaah yang memegang ujung surban habib Luthfi dan berbagai cara lain yang mereka ekspresikan.

Sampai saat ini, setiap Habib Luthfi menelpon ke Puang Makka, selalu disikapi dengan silaturrahim secara zahiriah dan batiniah. Karena itu, Puang Makka selalu gemetaran saat menerima telpon dari gurunya, Habib Luthfi.

Puang Makka menganggap dirinya tidak pantas dan suul adab baginya jika menerima telpon dari gurunya, Habib Luthfi. Sehingga, Puang Makka selalu saja menampik, mohon maaf abah tidak layak bagi saya sebagai murid berkomunikasi dengan abah lewat telpon. “Izin abah, besok saya berangkat ke Pekalongan sowan abah.”

Jadi sudah mentradisi dan kebiasaan Puang Makka, setiap beliau ditelpon oleh Habib Luthfi pasti keesokaan harinya bertolak ke Pekalongan menemui gurunya itu. Jika misalnya Habib Luthfi berada di Jakarta maka Puang Makka ke Jakarta, atau di manapun Habib Luthfi berada, Puang Makka berusaha keras untuk menemui gurunya, sowan, silaturahim, tabaruk khusus dengan sang guru yang mulia, Habib Luthfi.

Bertemu dengan Rasulullah saw

Kedekatan Puang Makka dengan Habib Luthfi dan kebersamaannya secara intens berdua secara zahiriah dan batiniah, sudah lama terjalin bahkan dengan isyarat mimpi telah bertemu dengan Rasulullah saw.

Saat pengajian takhassus yang dihadiri beberapa jamaah pada malam Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal 1438 H, atau 12 Desember 2016 di Makassar, Puang Makka bersumpah, Wallahi wa Billahi saya bermimpi bertemu dengan guru saya, Habib Luthfi bersama Rasulullah saw.

Di daerah padang pasir yang tandus, di tengahnya ada sebuah bangunan rumah berbentuk kotak persegi, yang di sekelingnya ada ribuan orang berkumpul. Kepada mereka puang Makka bertanya, ada apa ini ?. Mereka menjawab bahwa di dalam rumah itu ada Rasulullah saw. Puang Makka berusaha mendekat ke rumah itu dari arah depan, namun demikian padatnya dan sesak, maka tidak dapat menembus kerumunan orang untuk sampai ke rumah tersebut yang menurut mereka bahwa ada Rasulullah saw di dalamnya.

Puang Makka kemudian berjalan keliling memutar dengan cara melawan arah jarum jam, tetapi di samping kiri dan kanan rumah itu sama padatnya tadi, tetap tidak dapat ditembus, tidak ada sedikitpun celah jalan.

Puang Makka lalu bergegas mengambil rute lain dan berjalan cepat bagaikan sedang bertawaf, maka sampailah puang Makka di belakang rumah tersebut dan ternyata tidak ada satu orang pun di sana. Bagian belakang rumah itu tidak satupun orang, Puang Makka hanya melihat ada pintu kecil yang tertutup rapat.

Setelah berusaha mendekat ke pintu dengan jarak sekira sisa empat meter, tiba-tiba pintu itu terbuka dan ternyata yang membukanya adalah Habib Luthfi, mengenakan celana panjang putih dan baju kaos putih tanpa kerah. Habib Luthfi saat itu sambil terseyum kepada Puang Makka dibalik pintu, secara spontan Puang Makka berteriak, Abaaah… sembari berlari mendekat, namun di saat itu Habib Luthfi merapatkan jari telunjuk ke mulutnya sebagai isyarah agar Puang Makka diam, jangan berteriak.

Puang Makka kemudian memeluk dan mencium perut Habib Luthfi. Sambil mencium perutnya, tiba-tiba Habib Luthfi mengarahkan tangannya ke atas, memegang ubun-ubunnya Puang Makka tanpa bicara.

Beberapa menit kemudian setelah itu, Habib Luthfi memberi isyarah dengan menepis tangannya agar Puang Makka segera pergi meninggalkan tempat. Setelah Puang Makka beranjak hendak pergi sekira dua langkah berjalan mundur, Habib Luthfi kemudian menutup pintu tersebut.

Setelah mengalami mimpi yang sangat indah itu, mimpi sakral yang benar-benar menyenangkan hati akhirnya Puang Makka terbangun seiring dengan bacaan lantunan ayat suci al-Qur’an kedengaran dari corong mesjid petanda masuknya waktu subuh.

Puang Makka merahasiakan mimpi tersebut bertahun-tahun, namun gejolak hatinya tidak tertahan lagi untuk menayakan takwil prihal mimpinya kepada Habib Luthfi. Tahun 2020, berangkatlah Puang Makka ke Pekalongan untuk menemui gurunya. Di lantai dua kamar kediaman gurunya, Habib Luthfi ketika itu seorang diri, diceritakanlah prihal mimpinya Puang Makka kepada gurunya.

Sesaat setelah mendengar kisah mimpi tersebut, Habib Luthfi tersenyum dengan senyuman khasnya lalu memeluk Puang Makka. Dalam pelukan erat itu, Puang Makka bertanya. Abah, bolehkah mimpi ini saya ceritakan ke jamaah saya ? Puang Makka khawatir jangan sampai jika diceritakan akan tersebar dan bisajadi menjadi bahan fitnah. Mendengar pertanyaan Puang Makka tersebut, tiba-tiba Habib Luthfi tertunduk sambil membaca salawat. Kemudian Habib Luthfi berucap, menjawab “silahkan”, Habib Puang boleh menyampaikan (mimpi tersebut) kepada orang lain.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq
Wassalam.

Ditulis oleh Dr Mahmud Suyuti, Katib Amm Jamiyyah Khalwatiyah, Ketua PW Matan Sulawesi Selatan

Bagikan:

Iklan