Pinrang. Ahad, 12 Januari 2022.

Desa Mattiro Tasi, Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan. Kader-kader MATAN dari berbagai daerah larut dalam suasana acara suka cita dari hajatan seorang pesalik. Ikut bersama-sama merasakan dan mendoakan kesuksesan hajat seorang muslim merupakan salah satu adab sesama muslim, dan bahkan hak yang mesti ditunaikan dalam ajaran Islam. Kali ini, kader-kader MATAN dan jamaah tarekat Khalwatiyah Samman berkolaborasi membaca Ratib Samman qasidah Burdah Busairi yang akan dipimpin oleh Syeikh Irsan Daeng Mangngerang (mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman) bersama Syeikh Muhammad Rusmin Al-Fajr (Ketua Majelis Futuhiyah Haqqani, badal khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Haqqani)

Mendahului pembacaan ratib, setelah shalat Ashar berjamaah kader-kader MATAN mengadakan diskusi ringan diawali pembahasan-pembahasan seputar perkembangan ajaran Islam bercorak tasawuf, penggunaan teknologi dalam dakwah tarekat, serta seputar tradisi dan budaya Islam yang mulai luntur ditengah-tengah masyarakat akibat perubahan pola hidup masyarakat, dan tantangan dari faham keagamaan yang mudah memvonis bid’ah atau syirik.

Misalnya, makanan dan minuman khas kedaerahan yang telah didoakan pada momen tertentu oleh Sebagian kalangan dikatakan syirik, sedangkan disatu sisi dipahami bahwa makanan dan minuman yang telah didoakan akan memberikan khasiat keberkahan bagi jasmani dan kondisi rohani bagi seseorang mengonsumsinya. Terkait dengan memberikan vonis halal atau haramnya sebuah makanan, Allah swt. telah memberikan warning dalam Q.S. Al-Maidah: 87-88 sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

Terjemah Kemenag 2002:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. al-Maidah: 87-88)

Ayat diatas tentu memberikan kehati-hatian dalam memberikan status hukum suatu makanan dan minuman, khususnya yang teah didoakan oleh seorang salih. Di samping itu, Allah telah menjelaskan pula apa-apa yang diharamkan-Nya. Walaupun Allah telah menyediakan dan menghalalkan sesuatul yang baik bagi hamba-Nya, namun harus tetap diperlakukan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan. Maka, firman Allah dalam ayat ini melarang hamba-Nya dari sikap dan perbuatan yang melampaui batas.

Suatu hal yang perlu kita ingat ialah prinsip Syariat Islam, bahwa apa yang dihalalkan oleh agama, adalah karena ia bermanfaat dan tidak berbahaya; sebaliknya, apa yang diharamkannya adalah karena ia berbahaya dan tidak bermanfaat, atau karena bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Oleh sebab itu, tidak boleh mengubah-ubah sendiri hukum-hukum agama yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Mengetahui apa yang baik dan bermanfaat bagi hamba-Nya dan apa yang berbahaya bagi mereka. Dia Maha Pengasih terhadap mereka. Janganlah mereka menetapkan hukum-hukum menurut kemauan sendiri dan tidak pula berlebihan dalam menikmati apa-apa yang telah dihalalkan-Nya.

kue Khas Makassar Jum’at Berkah

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ   ٣١ 

makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (al-A’raf/7: 31)

Rasulullah telah memberikan suri teladan tentang kesederhanaan ini. Dalam segala segi kehidupannya, beliau senantiasa bersifat sederhana, padahal jika beliau ingin niscaya beliau dapat saja menikmati segala macam kenikmatan itu sepuas hati. Akan tetapi beliau tidak berbuat demikian, karena sebagai seorang pemimpin, beliau memimpin dan memberi teladan kepada umatnya, pola hidup sederhana, tetapi tidak menyiksa diri.

Diskusi kemudian dilanjutkan pada malam harinya setelah pembacaan ratib dan qasidah burdah. Setiap kader MATAN diberikan kesempatan menyampaikan sesuatu permasalahan atau pengalaman perjalanan spiritual. Sesuatu yang  urgen kemudian diberikan penjelasan oleh syeikh Irsan dg. Mangngerang dan Syeikh Muhammad Rusmin Al-Fajr. Acara ditutup oleh Hardianto dengan memperkenalkan MATAN dan majelis ratib yang dirutinkan kader MATAN kepada masyarakat Ammani Mattiro Tasi. Hadir kader-kader MATAN dari PC. MATAN Pinrang, Sidrap, Maros, Parepare, Makassar dan Gowa.

(Hardianto)

Share: