Jakarta, JATMAN Online – Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya menegaskan sekali merah putih tetap merah putih.

Habib Lutfhi menggambarkan bagaimana perjuangan pendiri ketika membangun rumah pada zaman belanda. Di luar rumah mereka memasang bendera asing, namun di dalam rumah menggelar bendera merah putih dengan ditutupi dengan menanam janur, pisang, padi, dan menjalankan tradisi.

“Boleh saja bendera penjajah di luar rumah dipasang, tetapi di dalam, sekali merah putih tetap merah putih, itulah filosofi yang sangat tinggi,” kata Habib Lutfhi ketika menghadiri Doa Bersama Munajat Awal Tahun di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya (09/01).

Habib Luthfi mengatakan bahwa membangun bangsa Indonesia dengan kasih sayang memang tidak semudah yang kita perkirakan.

“Sentuhan-sentuhan yang sebenarnya penuh kasih sayang untuk membangun bangsa dan negara ini tidak semudah yang kita perkirakan sebagaimana membalikkan telapak tangan,” ucapnya.

Menurut Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, tergantung bagaimana orang menangkap dan membekali para generasi penerus melalui berbagai falsafahnya.

“Sejak dulu sudah ditunjukkan lewat cerita pewayangan. Misalnya, Werkudoro yang bisa terbang, itu sudah menunjukkan bahwa bangsa ini butuh orang-orang yang paham antariksa, dan luar angkasa,” katanya.

Diibaratkan, seperti tokoh Antareja yang bisa menyelam bumi, ternyata bumi pertiwi memang memiliki kandungan-kandungan yang luar biasa.

“Jadi, sejauh mana kita mempunyai rasa handerpeni (rasa memiliki) itu bisa dimanfaatkan di dunia pertambangan dan sebagainya,” tambahnya.

Menurut Habib Luthfi, para leluhur dan pendiri bangsa ini sudah menanamkan rasa toleran dan filosofinya yang tinggi kepada generasi penerusnya.

Hebatnya, sambung Habib, Ketika warna janur dan dedaunan lain tetap layu, sementara warna merah putih tidak akan layu. “Yang menjadi pertanyaan, kita akan jadi golongan yang cepat layu atau merah putih yang kuat?” tegasnya.

Hal yang selaras disampaikan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen. Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, Indonesia memiliki karakteristik yang unik sehingga perdamaian itu tercipta.

“Bangsa Indonesia ini dikenal dengan gotong royong, dengan kasih sayang, dengan bantu membantu. Inilah yang menjadi sifat dasar bangsa kita dan tercipta harmoni,” jelasnya.

Kemudian ulama asal Jawa Timur KH. Jaiz Badri mengatakan, Pandanglah Indonesia dengan kasih sayang. Jangan memandang Indonesia dengan kebencian, karena kasih sayang itu adalah inti ajaran Rasulullah.

“InsyaAllah, merah putih bukan hanya masker yang kami pakai, Merah Putih mendarah daging di dalam hati kami. Maka Indonesia tidak boleh dipecah belah, Indoensia harus tetap utuh,” ungkapnya.

sumber Jatman Online

Share: