MATAN

Aliran dan Samudera

Begitu jernihnya air itu turun dari langit. Diserap oleh gunung-gunung beserta pepohonannnya. Mengalir bercabang-cabang menjadi sungai – sungai. Selalu turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Ia mencari tempat terendah. Persatuan kembali. Samudera lepas. Sesampai di sana air itu ingin naik kembali. Menguap melebur. Menjadi sesuatu yang jernih kembali.

Layaknya air, sebuah ajaran moral turun dari langit begitu jernihnya. Ajaran ini merembet meliuk-liuk bergelombang melewati celah-celah terendah. Memecah diri menjadi berbagai aliran sungai ajaran. Di tengah perjalanan, air sungai banyak yang memanfaatkan. Ada yang ingin sekedar meminumnya. Ada yang memanfaatkan untuk mengairi sawah. Ada yang mencuci baju sambil menyisakan deterjen perusak ekosistem. Ada yang beol geyal-geyol sambil merokok santai tanpa perlu susah payah menyiram. Ada pula yang tak bertanggungjawab secara sistematis menguras besar-besaran seluruh kandungannya demi hawa nafsu yang tak berujung.

Sebagaian ulah manusia ini membuat air menjadi keruh. Air yang dulunya bersih jadi kotor. Ajaran suci air telah tercemari dengan berbagai kepentingan. Air yang seharusnya turun ke samudera, dibelokkan kesana-kemari, ditampung berbagai wadah dan dimasukkan botol beraneka bentuk. Disesatkan dari tujuan semula ke samudera. Air itu sesaat bergejolak karena tersesat tak tahu arah kembali. Namun seiring waktu, air itu mulai diam, mapan mengikuti bentuk wadagnya. Mulai terjadi persesuaian. Seakan bentuk air adalah wadah itu.

Kemudian orang -orang secara aklamasi maupun tersistem oleh sebuah kekuatan yang rapi, memproklamirkan bahwa inilah satu-stunya bentuk air yang sah. Air itu dilabeli, dicap standard tinggi semacam ISO atau ROHS dan diproduksi masal serta didistribusikan secara luar biasa. Kita pun secara turun temurun menganggap bahwa itulah satu-satunya bentuk air yang baik. Kita kehilangan daya keberanian mengungkapkan bahwa air tidak hanya itu. Air di gunung, di bawah tanah, dan di telaga bening dalam hutan tak pernah kita anggap lagi.

Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kesejukan dan pelepas dahaga bertranformasi menjadi bentuk botol pemahaman yang kaku dan mudah pecah. Tak ada yang berani memanfaatkan selain hanya sebagai simbol keberadaan. Lihatlah ! kami ada ! awas jangan ganggu kami ! Semua orang bingung menjaga dengan hati-hati dan ekstra ketat jangan sampai botol itu rusak. Walau tak ada perang selalu saja siaga satu.

Air itu sesungguhnya telah kehilangan perhentian terakhir. Samudera nan luas….

*

Air adalah kodrat ruh manusia sedangkan botol-botol itu adalah diri kita beserta lembaga-lembaga atau halaqah yang kita yakini sebagai pembawa kejernihan ajaran. Namun sayangnya kita ini sering terjebak oleh institusi botol daripada melihat kemanakah jalannya air. Muncrat show of force ke atas seperti pertunjukan air mancur atau sampanye, ataukah selalu mengikuti kodrat mengalir ke bawah menuju samudera lepas.Kita tak pernah peduli. Hati kita tetap lebih condong dengan botol daripada air.

Kita terbiasa menuhankan botol-botol lembaga. Baik lembaga yang bernama kharisma individu, swasta atau negara. Sehingga kecondongan hati kita terhadapnya sepadan persis sama beratnya dengan kecondongan terhadap Tuhan. Bisa jadi Tuhan itu malah nomor dua bahkan kancrit buncit karena kita tak begitu percaya akan kedekatanNya. Walaupun kitab suci secara bloko sutho sudah ngomong apa adanya akan hal itu. Sebab ada yang bilang Tuhan itu nggak ada. Kalaupun ada ya masih sebatas retorika katanya ataupun hanya bukti keajaiban alam yang menunjukkan adanya peran Tuhan di balik semua itu . Bukan bukti wujud atau dzat.

Hidup modern harus logis dan serba techno bung ! Jangan ngomong Tuhan yang keberadaannya sampai ini tak bisa dideteksi dengan tehnologi tercanggih. Begitu semboyan kita saat ini. Dan tiba-tiba kita lebih sami’na wa ato’na terhadap apapun yang berbau tehhno.

Pada tahap akut pengkaburan pemahaman antara air dan botol, pikiran sudah terbiasa dengan: tak ada air nggak apa-apa asal ada botol. Tak ada rotan akar pun jadi. Asal ada kata Islam atau Islami, marem hati ini. Entah ada tidaknya nilai maslahat arus bawah umat ataupun kandungan ruhaninya, itu urusan belakangan. Gak ngurus ! yang penting Islam ! begitu terngiang lekatnya kalimat sahabat saya waktu kecil itu.

Seperti beberapa waktu lalu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat teman saya yang misuh-misuh. Kurang ajar ! jan*%# ! Dod, kemarin karena macet karnaval, aku akhirnya numpang mobil box. Eh..dia ngangkut mie instan bermerk “Islamie”. Setelah saya tanya sopirnya apakah ini milik pengusaha muslim ? Bukan mas…ya siapa lagi mas yang kerjaannya pinter dagang, katanya. Pak sopir tak peduli dengan urusan itu. Yang penting bagi pemahamannya, dia harus bekerja halal mengeluarkan keringat mengentaskan kemiskinan keluarganya.

Kapokmu kapan ! saya cuma bisa berkomentar sependek itu.

Atau kalau kita pergi ke Singapura, coba masuk ke salah satu swalayan. Anda akan terkaget-kaget ada salah satu makanan kaleng dari Australia bertuliskan “Halal Pork” dengan gambar hidungnya miss Piggy yang seksi itu. Itu semua hanya sebagian contoh kecil yang masih kasar permainannya.

Kesalahpahaman pemaknaan, keremangan memandang masalah, dan ketersesatan itu ternyata begitu menyelimuti kita semua. Dari rangkaian keilmuan dan pengalaman yang mengerucut pada kata sesat atau tidak, ternyata hanya karena urusan bentuk botol. Bukan kejelian memandang aliran air.

Orang-orang yang bijaksana seharusnya mampu membebaskan air-air dalam botol, mewakafkan tanahnya untuk dilalui arus besar air yang tak punya jalan mengalir menuju samudera. Bukannya malah memecah botol sambil mengganti dengan botol baru yang sesuai dengan selera penafsirannya.

**

Kita ini memang pecinta aliran dan bentuk daripada belajar mencintai samudera tak terbatas. karena aliran mudah dikendalikan. Sedangkan samudera tidak. Kita senang menyumbat aliran-aliran kecil. Menghadang, menohok dan gemagah menginjak yang kecil agar eksistensi sebuah imperium aliran besar tetap terjaga. Tak ada kelegawaan untuk bertemu, berdialog, membimbing dan kemudian berfastabiqul khairat : ayo siapa yang mampu menempuh jalan terendah agar air cepat sampai ke samudera…

Sekali aliran tetap aliran. Sama sekali bukan samudera. Tak peduli arus mainstream atau minor.

Mungkin kegamangan akan perjalanan menuju samudera hanya karena kita tak terbiasa di tempat yang luas. Memang sih bagi yang nggak biasa, hidup di samudera itu nggak enak. Nggak jelas lor kidul. Semua membaur menjadi satu. Tak bisa membedakan asal usul aliran. Tak ada suku dan keturunan.Tak ada pengkaplingan. Tak ada lagi jahitan. tak ada motif. Tak ada warna. Persisi seperti kain ihram. Agar orang mampu khusyu wukuf sejenak di padang Arafah.

Berdiam hening di padang penyaksian yang sangat luas.

Ternyata kita yang masih suka aliran-aliran dan lembaga, masihlah sebentuk air yang belum tuntas perjalanannya menuju samudera. Masih ada kemungkinan air ini tak sampai ke samudera alias tersesat. Bila saja kita berani meneruskan perjalanan, biasanya pada muara batas antara aliran sungai dan samudera, antara air tawar dengan air asin, akan terlihat papan pengumuman yang besar sekali :

Selamat datang

Anda memasuki kawasan samudera

Tunggal ilmu ojo adu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal agomo ojo padu. Belum kenal Tuhan jangan belagu..

Sama-sama cari makan, sesama sesat dilarang saling menyesatkan….

***

Jikalau kalau

Jikalau ada hadits yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi tujuhpuluh tiga aliran golongan dan hanya satu yang benar, mari menegaskan kepada diri sendiri bahwa yang satu golongan benar itu bukan diri kita. Tak lain agar kita lebih serius dan khusyu ber Al fatihah. Meminta petunjuk tentang jalan yang lurus dari sekian pilihan yang ada. Atau mari memaknai hadits itu dengan cara pandang yang progresif namun sederhana. Misalnya, Islam itu kita ibaratkan kue pizza yang dipotong terpecah jadi tujuhpuluh tiga bagian, dan yang benar hanya satu, maka makan saja utuh-utuh semuanya. Agar Islam kita utuh dan benar. Dekati semuanya. Jadikan saudara seperti janji kita diakhir shalat. Masalah kapan memakannya, ya tinggal disesuaikan dengan kontekstualnya kebutuhan hidup.

Kalau ada potongan bagian yang terlalu pedas karena banyak paprika nya, jangan tergesa membuang. Taruh dulu, nanti kalau badan lagi lemes kan bisa buat tombo ngantuk. Artinya, kalau kita nggak suka teman-teman yang berhaluan keras yang gemar main hakim sendiri dengan alasan menegakkan hukum Islam, dekati saja. Jangan dibenci. Ajak berteman. Ketika korupsi sudah demikian parah, dan aparat begitu impotentnya terhadap koruptor, kita tinggal bilang :

“Ustadz, Bib, bagaimana kalau kita turun ke jalan, sweeping rumah koruptor. Kita ajak pengacara muslim beserta akuntannya, lalu sidak ditempat memakai metode pembuktian terbalik tentang darimana harta ini diperoleh. Kalau tidak bisa menjawab dengan benar, ya silahkan sampeyan dan para anak buah melampiaskan hasrat Rambo seperti biasanya. Silahkan terapkan hukum Islam tentang pencurian. Langsung di tempat. Di jamin korupsi cepat abis. Negara cepat adil makmur merata. Masak sih sama pencuri yang rata-rata berperut gendut dan tidak punya ilmu beladiri nggak berani. Padahal sampeyan dan anak buah begitu heroiknya berhadapan dengan preman kafe-kafe yang berbadan kekar dan jago berkelahi.

Jikalau ada potongan bagian yang nggak ada dagingnya alias sayur thok, jangan grusa-grusu bilang nggak mau. Taruh dulu. Nanti ketika kolesterol dan tekanan darah meninggi, kita pasti butuh bagian itu. Artinya bila ada sesama muslim yang kelihatan melempem adem ayem ngglendhem yang kerjaannya tazkiyatun nafs, jangan dianggap pecundang. Ketika segala ikhtiar dan heroiknya perjuangan atas nama Islam mengalami puncak kebuntuan, pertikaian, kelelahan dan kelalaian, para mereka akan tampil menjadi pahlawan yang memberi peneduh sekaligus penyemangat hidup. Seperti segarnya sayur mayur hijau di atas pizza.

Kalau kita tidak bisa memakan semua, cara tergampang adalah ; ambil titik tengahnya. Kosong. Nol. Ambil saja sikap seperti anak muda yang kasmaran tapi nggak berani pacaran ” kayaknya kita lebih baik berteman aja deh daripada saling menyakiti “

Tidak memakan apa-apa namun berada di tengah dilingkupi semua potongan. Puasa. Enaknya metode ini, tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya. Karena puasa satu-satunya ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya. Dalam rumus matematika biner, puasa adalah bilangan Nol, sedangkan utuhnya kue pizza adalah bilangan satu. Artinya, kalau kita nggak mampu jadi angka satu, langsung aja jadi angka Nol. Jangan setengah – setengah alias banci. Yang namanya setengah-setengah itu nggak profesional. Angka setengah dalam kinerja tehnologi biner tak diakui, cacat. Tak akan mampu menjalankan program apapun

Bila angka nol dan satu telah berpadu serasi bergantian saling meng”ada, tentu akan menjadi program yang sangat dahsyat. Menjadi aplikasi nyata.

****

Jikalau kita pengen khusyuk menghamba pada Allah, sudahi saja menohok sesama, ndhak perlu tunjuk hidung menyesatkan orang atau golongan. Baik menyesatkan secara terang-terangan ataupun malu-malu dengan kamuflase logis ayatis dan spiritual ghaib klenis.

Kalau kita mengaku tidak sesat, sudah seharusnya berani memproklamirkan diri : Aku termasuk orang yang dijamin surga layaknya Muhammad SAW. Aku tak perlu membaca Al Fatihah sebanyak tujuh belas kali sehari. Sebab aku tidak sesat. Sebab Al fatihah itu isinya hanya pengakuan orang yang selalu minta petunjuk atas ketersesatannya. Aku tak perlu memohon Ihdinassiratal mustaqim karena aku yakin jalanku sudah lurus.

Minimal woro-woro ini diumumkan di milis ini secara gentleman. Atau kalau ingin lebih berskala besar, sekalian saja mengiklankan diri di koran atau televisi. Dijamin cepat terkenal, banyak pasukan pengikut, dan tentu saja peluang pasar yang menggiurkan daripada sekedar lima ribu orang yang berada dalam milis ini. Ayo siapa berani mulai ?

Kalau saya pribadi sih cari selamatnya saja. Pakai doanya Abunawas. Ya Allah…hamba ini nggak pantas masuk surgamu. Tapi…kok kayaknya juga nggak kuat panasnya neraka….

Minimal kalau saya tersesat, mbok diingatkan bagaimana saya harus menggoyang-goyangkan badan, mencubiti kulit dan membelalakkan mata agar tetap tersadar bahwa saya ini tersesat di bumi Allah, tersesat di alam-alam ghaib miliknya Allah, tersesat di suasana-suasana ciptaan Allah, tersesat di keramaian logika berfikir otak made in Allah, tersesat di ilusi-ilusi rasa bikinan Allah. Tersesat di mana sajalah. Asalkan sadar, bahwa dalam ketersesatan itu semua milik Allah…alias tetap ingat Allah.

Hambamu yang tersesat

Dody Ide

Bagikan:

Iklan