Kisah Syekh Keramat (bagian 2)

Oleh Muhammad Rusmin Al-Fajr

A. Ziarah ke Makam Syekh Keramat

Sejak dahulu bumi Sidenreng Rappang telah menjadi destanasi utama para penyebar Islam dari Tanah Arab, baik dari kalangan Habaib maupun para Masyaikh. Mereka datang ke Sidrap untuk berdakwah, lalu tinggal menetap hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Bumi Sidenreng Rappang.

Demi senantiasa mengenang mereka agar spirit perjuangan terus hidup dan menginspirasi, serta agar senantiasa terhubung dan terjalin sebuah koneksi spiritual yang kuat dengan mereka sehingga keberkahan yang ada mereka dapat terus mengalir, maka PC MATAN Sidrap menjadikan Ziarah sebagai sebuah program kerja rutin setiap 3 bulan sekali.

Pada hari ahad, 21 Maret 2021 bersama jama’ah Majelis Futuhiyyah Haqqani, PC MATAN Sidrap telah melakukan ziarah ke makam Syekh Keramat, atau yang di masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Puang Seyyek Karame’.

Makam beliau terletak di jl. Padomai Tellang-Tellang, Desa Rijang Panua, kec. Kulo, Kab. Sidrap. Sekitar 5 KM sebelah utara kota Rappang.

B. Mengenal Syekh Keramat

Sebelum kedatangan Al-Habib Syekh Sayyid Abdul Rahim Assegaf Puang Makka, masyarakat hanya mengenal beliau dengan sebutan Puang Seyyek Karame’ yang artinya Tuan Syekh yang memiliki karomah. Tidak ada satupun yang mengetahui nama asli dan asal-usul beliau. Hal ini dikarenakan karena beliau sudah meninggal dan dimakamkan di situ sejak ratusan tahun yang lalu sehingga tidak ada lagi yang dapat dijadikan sebagai narasumber untuk mengurai keberadaan beliau.

Namun kedatangan Al-Habib Syekh Sayyid Abdul Rahim Assegaf untuk berziarah ke makam tersebut mengungkapkan misteri yang selama ini tersembunyi. Puang Makka sendiri datang berziarah ke sana setelah mendapatkan petunjuk ketika sedang berziarah di makam Habib Luar Batang.

Menurut Puang Makka, nama asli beliau adalah Habib Umar bin Abdullah Al-Idrus. Beliau datang langsung dari Hadramaut. Setelah kapal yang beliau tumpangi mendarat, beliau kemudian melanjutkan pelajarannya dengan menunggang kuda, dan kuda yang ditunggangi tersebut terus berjalan tanpa henti sampai kemudian tiba di Tellang-Tellang. Sesampai di sana kuda tersebut langsung saja berhenti. Habib Umar bin Abdullah Al-Idrus pun berkesimpulan bahwa ini merupakan sebuah petunjuk jika di tempat inilah beliau harus tinggal dan menetap. Beliau kemudian menancapkan sebuah tongkat di tanah dan berkata, “jika saya meninggal nanti, tolong makamkan saya di tempat ini”. Dan ketika belau pun wafat, sesuai dengan wasiatnya, beliau pun dimakamkan di tempat itu.

Semasa beliau hidup dan menetap di sana. Banyak karomah yang disaksikan oleh masyarakat, hingga akhirnya masyarakat pun memanggil beliau dengan nama Puang Seyyek Karame’. Nama ini kemudian menjadi populer hingga turun temurun dan menyebabkan nama asli beliau kemudian tidak dikenal lagi oleh masyarakat.

Salah satu karomah beliau adalah suatu ketika di tempat tersebut diadakan hajatan perkawinan. Saat malam tiba menjelang acara besok, para wanita yang sedang memasak kehabisan kelapa kering untuk dibuat santan. Saat itu tidak ada satupun laki-laki yang ada di tempat itu, sementara kelapa sudah sangat dibutuhkan. Maka para wanita pun segera mendatangi Syekh Keramat untuk meminta pertolongan. Atas izin Allah, Pu Seyyek Karame kemudian menunjuk pohon kelapa yang ada di depannya. Maka pohon kelapa itu kemudian rukuk sehingga para wanita dapat mengambil kelapa sesuai dengan kebutuhan tanpa perlu dipanjat lagi.

Kekeramatan Syekh Keramat tidak hanya ketika beliau hidup. Bahkan pada saat beliau meninggal dunia karamoh dan keberkahannya masih dapat dirasakan oleh masyarakat. Salah satu cerita yang masyhur adalah ketika ada seseorang yang mengganti rumah kuburan Syekh Keramat karena rumah yang ada sudah rusak dimakan usia. Tidak lama setelah orang itu menggantinya, tiba-tiba orang itu mendapatkan rezeki nomplok dalam jumlah yang sangat besar sehingga dia pun juga bisa membuat rumah baru. Bahkan menurut cerita, rumah beliau merupakan rumah yang paling bagus di Tellang-Tellang kala itu.

Demikianlah sedikit manakib kisah tentang Syekh Keramat atau Habib Umar bin Abdullah Al-Idrus, salah seorang penyebar Islam di Bumi Sidenreng Rappang yang terkenal akan karomahnya.