Kisah Syekh Keramat (bagian 1)

Oleh: Hudri Mattaliu


  • Sejak dahulu kala banyak para Auliya yang hadir dan bermukim di Bumi Sidenreng Rappang. Beberapa yang masyhur di antaranya, Syekh Abdul Rahman atau Syekh Bojo di Allakuang, Syekh Syihabuddin atau Syekh Boddi atau Sehetta Woddi di Rappang, Syekh Umar bin Abdullah atau Syekh Keramat di Tellang-Tellang, dan Syekh Mahyuddin atau Puttuang di Dea, Baranti.

  • Sejak dulu pula bumi Nene’ Mallomo merupakan salah satu destinasi atau tujuan para Habaib (dzurriyah atau keturunan Rasulullah SAW) dari Hadramaut. Mereka datang lalu tinggal, berdakwah hingga wafat dan dimakamkan di sini. Diantaranya adalah Habib Abu Bakar bin Muchsin Al-Hamid di Sereang dan Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Hamid di Lakapopang, Massepe.

  • Bumi Sidenreng Rappang sejak dulu juga dikenal dengan sebagai tempatnya para ulama ‘amilin yang terkenal dengan keshalihannya, seperti Anregurutta KH. Abdul Muin Yusuf (Kali Sidenreng), Anregurutta KH. Muhammad Abduh Pabbaja, Anregurutta KH. Makka Abdullah, Anregurutta KH. Fatahuddin Sukkara, serta masih banyak lagi lainnya yang tidak mungkin disebutkan namanya satu persatu.
    Sejumlah fakta di atas sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan jika bumi Sidenreng Rappang adalah bumi yang diliputi oleh keberkahan. Namun, menilik kondisi saat ini, seolah-olah keberkahan itu sudah tidak dirasakan lagi saat ini. Musibah kegagalan panen atau bencana, kemungkaran dan kemorosatan moral yang tidak terbendung terjadi justru ketika masjid-masjid masih penuh dengan jama’ah dan dakwah ada di mana-mana?
    Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah karena derasnya arus modernisasi sehingga masyarakat mulai meninggalkan tradisi kita karena dianggap sudah ketinggalan zaman? Ataukah karena cara beragama kita yang hanya berfokus pada aspek syari’at lahiriah saja? Ataukah mungkin karena semakin berkembangnya paham-paham baru yang justru semakin menjauhkan kita dari para ulama dan menyebabkan kita melupakan para Auliya Allah dan para Habaib? Wallahu a’lam bis shawwab.

  • Kita hanya berharap semoga di hari jadi Sidenreng Rappang ke-677 menjadi momentum untuk kita mengingat kembali para Auliya Allah, para Habaib dan para ulama kita yang dengan keberkahannya bisa menjadikan Sidrap bangkit dan tumbuh kembali.
    Madrasah hati bersama sahabat hati ingin berusaha kembali melestarikan amaliyah dan tradisi aswaja yang mulai ditinggalkan di wanuata tercinta kita ini, dengan menziarahi makam-makam Auliyaa Allah ini. Dan kali ini kami dan para sahabat hati berziarah ke makam Syekh Umar bin Abdullah atau Syekh Keramat yang makamnya terletak di Padomae, Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo.
  • Menurut cerita dari Al-Habib, Syekh Sayyid Abdul Rahim Assegaf atau yang lebih dikenal dengan nama Puang Makka, yang kemudian diceritakan kembali oleh ketua Tanfidziyah PCNU Sidrap Gurutta Muhammad Yusuf kepada kami, bahwa beliau – Syekh Keramat datang langsung dari Hadramaut ke wilayah Akkarungan Rappang sekitar abad ke-13 untuk menyebarkan syiar islam. Dalam meneguhkan dakwahnya diwilayah tersebut, Syekh Umar bin Abdullah memperlihatkan karomahnya sehingga masyarakat menamainya Syekh Keramat.
    Naaah… demikian beberapa kisah tentang Syekh Keramat yang diceritakan kembali oleh Gurutta Muhammad Yusuf dikediamannya.Mari kita selalu mengenang mereka dengan menziarahi makam mereka, atau sekurang-kurangnya mendoakan mereka. Mari kita jaga ilmu dan tradisi yang telah mereka wariskan kepada kita, seperti majelis dzikir (massikiri), majelis doa (mabbaca doang), majelis maulid dan shalawat (mabarazanji), majelis tahlil (makulhuwallah), dan lain sebagainya.
    Semoga dengan ikhtiar kecil yang kita lakukan tersebut mendapatkan rahmat dan ridho Allah, curahan keberkahan dari Rasulullah SAW dan dukungan spiritual atau madad dari para Auliya-i shalihin wal ulama-il amilin sehingga bumi Sidrap kembali diliputi keberkahan sehingga bisa bangkit kembali dan tumbuh lebih tinggi lagi.

  • SIDRAP BANGKIT DENGAN BERKAH ALLAH MELALUI PARA AULIYA DAN ULAMA

Editor: Hardianto