Menyorot Sanad Hadis dan Tarekat

Oleh: Dr. K. M. Mahmud Suyuti, M. Ag.

Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa diantara kalian melihatku di dalam tidurnya, maka ia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku dan siapa yang berdusta dengan sengaja, maka ia telah menyediakan tempatnya di dalam neraka. (HR Bukhari dan Muslim)

Periwayat hadis harus berlawat ke berbagai wilayah, dari negeri satu ke negeri lainnya, dari Madinah ke Hijaz, ke Syam, mencari dan menemui guru hadis dan bertemu langsung demi menerima sebuah hadis. Perjalanan dalam lawatan mereka bertahun-bertahun lamanya, lelah dan melelahkan memang.

12 mursyid yang dijadikan sampel perihal perlawatan mereka secara spiritual bertemu dengan guru-gurunya, masyaikh sebelumnya memiliki jawaban yang sama dan terekam dalam wawancara. Mereka menerima hadis dari Nabi saw. antara lain tentang cara pengucapan la ilaha illallah. Bagaimana posisi nabi saat memberi riwayat?!

Keadaan dan cara, bahkan sampai cara bertutur katanya Nabi saw., cara duduk nabi saw. dan pakaian yang digunakan digambarkannya secara detail dengan jawaban mereka yg sama. Kesamaan jawaban tidak tejadi kesepakatan di antara sebelumnya dan dipastikan tiada dusta mengingat siapa berdusta atas nabi maka neraka tempatnya.

mursyid A (berdomisili di makassar) dan B (Maros) sama, mursyid C, D, (Jawa) sampai 12 masing-masing sama cara dan metodenya menerima hadis. Sama-sama melalui ru’ya al-sadiqah padahal A, B, C, D dan seterusnya tidak begitu saling kenal dan tidak ada kesepakatan sebelumnya untuk memberi jawaban yang sama.

Kalo begitu, gampang, hanya cukup ketemu nabi maka hadisnya seorang mursyid sahih sementara ulama hadis harus berlawat kemana-mana dan bertahun-tahun?. Tidak, justru seorang mursyid harus berlawat dari maqam satu ke maqam yang lebih tinggi dengan susah payah dan melelahkan.

Bahkan mereka harus sampai ke puncak ahwal dengan penuh riyadah, latihan disertai kesungguhan yang bertahun-tahun lamanya kemudian bisa ketemu Nabi!

Rasulullah saw. telah memberikan teladan kepada kita tentang pentingnya menghubungkan sebuah sanad melalui persitiwa Isra wal Mi’raj. Nabi saw. bertemu dengan nabi Adam as. di langit ke-1, nabi Yahya as. dan nabi Isa as. di langit ke-2, nabi Yusuf as. di langit ke-3, nabi Idris as. di langit ke-4, nabi Harun as. di langit ke-5, nabi Musa as. di langit ke-6 dan nabi Ibrahim as. di langit ke-7.

Itu artinya Nabi saw. ber-tawassul ke mereka sebelum sampai kepada Tuhan. Nabi saw. mengendarai sanad-sanad leluhurnya untuk tiba pada Tuhan-Nya. Sedangkan nabi saw. begitu, maka demikianlah kita semua, hendaknya bertawasul dengan sanad-sanad untuk menuju kepada-Nya.

Seorang mursyid yang dipastikan pernah bertemu dengan Nabi saw. sesungguhnya sebagai petanda ittisal sanad, sehingga hadisnya kategori “sahih”.

[Editor: Hardianto]