Pengarahan PC. MATAN Pinrang tentang Pesta Nelayan Lero

Kader PC. MATAN Pinrang dan MUI Kec. Dipilih suppa menjadi Narasumber tentang Budaya Pesta Nelayan Di Desa Lero.
LITBANG Makassar Kementrian Agama
Pegawai Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar melakukan penelitian di Lero. Penelitian kali ini tentang pappande sasi (pesta nelayan) yang digelar masyarakat nelayan Mandar Lero.

Abdul Samad S.Ag., M.Pd. ketua MUI Kecamatan Suppa mengatakan kegiatan ini sebenarnya terjadi pro kontra di tengah masyarakat. Sehingga tahun 2000-an pihak MUI Kabupaten Pinrang mengeluarkan fatwa bahwa kegiatan ritual pesta nelayan ada beberapa rangkaian acara yang terjadi penyimpanan aqidah.

“Saya dulu bacakan khutbah seragam dari MUI Kabupaten Pinrang tentang penyimpangan dalam aqidah Islam, salah satunya mereka lakukan saat musim paceklik,” ujarnya.

Sehingga kegiatan tersebut, sudah lama tidak digelar, meskipun mereka (masyarakat nelayan) sembunyi-sembunyi melakukan.

Abdurrahim Hadi, S.Fil.I., MA. sekertaris MATAN Kabupaten Pinrang mengatakan ritual pesta nelayan yang dilakukan masyarakat sudah lama dilaksanakan. Mereka lakukan khusus kalangan mereka sendiri tanpa melibatkan pihak pemerintah dan tidak mempublishnya. Dalam ritual mereka ada sesajen disajikan ke 7 tempat yang disajikan.

Pesta nelayan jika ditinjau dari sisi sosial budaya harus dilestarikan sebagai kekuatan kebijaksanaan lokal, dengan beberapa dari yqng tidak menyalahi ajaran Islam.

Sisi ekonomi masyarakat, masyarakat sekitar bisa meningkatkan ekonomi kerakyatan masyarakat setempat.
Hanya, budaya tersebut dimoderasi dengan keagamaan, sehingga program kedepan pihak pemerintah desa melaksanakan dengan menyandingkan keagamaan dan budaya.

“Insya Allah kegiatan pesta nelayan tahun depan dirangkaikan dengan zikir akbar malam harinya, sedang arak-arakannya disiang hari, dan kegiatan tersebut diagendakan setiap 2 kali bukan lagi pada saat paceklik,” kata Rahim Hadi mengutip hasil perbincangannya dengan HM Amin kades Lero.
Pesta nelayan oleh sebagian masyarakat diimplementasikan sebagai kearifan lokal wujud kesyukuran atas nikmat Allah swt. dari hasil-hasil laut dari tangkapan dan pengelolaan perikanan oleh para nelayan.

(Haris Ali, S. Pd.)