Tausiyah Syekh H. Andi M. Hidayat Puang Rukka pada Muzakarah Tarekat ke-3 dan Halal bi Halal Virtual JATMAN SULSEL

Berikut kutipan tausiyah Muzakarah Tarekat ke-3 dan Halal Bihalal yang disampaikan oleh Allahu yarham Syekh H. Andi Hidayat Puang Rukka (Mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman dan Anggota Majelis Iftah Idarah Aliyah JATMAN), pada hari Selasa, 26 Mei 2020 M/ 3 Syawal 1441 H pukul 20.00 Wita beliau memberikan pencerahan sebagai berikut:

Mengawali tausiyahnya dengan mengutip Q.S. Ar-Rum Ayat 30:

 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahannya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Rasulullah saw. telah mewariskan sistem ibadah kepada Allah swt. secara sempurna dan tetap mampu diakses dalam mengemban amanah pengabdian secara lahiriah (syariat) dan batiniyah (hakikat). Hadirnya ahli tarekat esensinya membuka akses jalan menyelaraskan secara bersinergi antara syariat, tarekat dan hakikat. Misalnya, Hadis tentang shalat dan korelasinya dengan hadis ihsan yang memunculkan sebuah metode yang berangkat dari maqashid syari’ah. Mengikuti sistem yang telah dirintis Rasulullah saw. dan kemudian ahli tarekat memberikan akses menuju jalan tersebut, maka akan masuk dalam kategori memperoleh kebahagiaan.

Berdasarkan sabda nabi Muhammad saw.

”Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, lalu berbahagialah (Rasul mengulang tiga kali) orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku.” (HR Ahmad dari Abi Sa`id al-Khudri).

Pemberi akses jalan menuju sistem Rasulullah saw. seperti yang diungkapkan melalui sabdanya:

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).

Khalifah menurut ahli tarekat adalah pemegang sanad mu’tabarah yang dibangun berdasarkan sistem Rasulullah saw. perspektif hadis, dikenal dengan istilah sanad hadis al-musalsal bi al-musafahah. Sanad tarekat harus senantiasa terjalin koneksi dan tidak boleh terlepas agar tercipta yang di sebut al-ma’iah. Sebagiamana dijelaskan:

 “Hendaklah kamu senantiasa bersama dengan Allah. Jika tidak bisa maka hendaknya kamu bersama. “orang yang selalu bersama dengan Allah”. Sesungguhnya dia me-wushul-kan kamu  kepada Allah, apabila kamu beserta dengannya. (Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili, Khazinatul Asrar Juz 1, h. 194).

Eksistensi guru mursyid adalah ulama pewaris nabi, karena perpanjangan tangan dari lisan rasul saw. dan pandangan kerohanian, walaupun terdapat mursyid secara akademis belum mampu menguasai ilmu-ilmu alat kelimuan Islam.

Seruan ahli tarekat ialah manusia berjalan di atas fitrah (Q.S. Ar-Rum: 30). Fitrah yang dimaksud adalah fitrah tauhid atau ma’rifat. Tidak ada perubahan seruan Sejak nabi Adam sampai Rasulullah saw. yaitu agama hanif. Ibadah ahli ma’rifat starting dari Allah dan kembali kepada Allah, bukan dari diri sendiri. Konsep yang digunakan Minallah, ila llah dan ma’allah, bukan hanya konsep iman yang sekedar hafalan. Tetapi seorang hamba paham, yakin dan merasakan dimana saja berada selalu bersama-sama dengan Allah. Metode untuk menggapainya adalah dengan zikir. Zikir terdiri atas dua, zikir hasanat dan zikir darajat.

Zikir hasanat adalah mengingat Allah dimana saja, sedangkan zikir darajat adalah mengingat Allah disertai dengan teknis tertentu berdasarkan pedoman-pedoman zikir secara jahr atau sir.

Zikir yang paling utama adalah la ilaha illa llah memiliki banyak karakter, yaitu disebut kalimat tayyibah, kalimat ikhlas, nafi isbat, da’wah, taqwa, saman al-jannah (memperoleh surga dalam Q.S. Ar-Rahman: 64), dan kalimat ‘urwatul wusqa (Q.S. Al-Baqarah: 256). Semoga kita semua diselamatkan oleh Allah swt., amin.

Penamaan Ahli zikir tarekat berbeda dapat diibaratkan sungai yang berbeda, sungai yang dilewati bermuara ke laut yang satu, biarlah kita berlayar dari sungai yang berbeda tapi akan ketemu pada laut yang satu dan kapal yang sama, yaitu la ilaha illa llah. Zikir adalah sumber dan pokok, zikir seyogyanya menjadi konsumsi makan dan minuman, Karena seoarng salik sementara berjalan menelusri suatu rute perjalanan menuju Allah.

Ahli tarekat seharusnya tampil sebagi penggagas persaudaraan lokal mupun global, pelopor kebaikan, pejuang dan benteng kebenaran. Dengan zikir la ilaha illa llah Muhammadur rasulullah menjadi agen perubahan kepada yang lebih baik.  Zikir la ilaha illa llah Muhammadur rasulullah harus dihidupkan dalam hati kita, anak keluarga, cucu, dan murid-murid kita. Dengan zikir dapat mengantar manusia menuju ridha Allah swt..

Silaturahim virtual online menunjukkan bukti Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Acara diakhiri dengan tawassul dan doa.

Selaku mudir JATMAN SULSEL Prof. Dr. H. Abdul Kadir Ahmad, MS. APU. memberikan penghargaan setinggi tingginya dan ucapan terima kasih kepada Habib Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka, Syekh Andi Hiadayat Puang Rukka, Syekh Sahib Sultan Karaeng Nompo dan Syekh Puang Dr. Baharuddin, MA., Sekertaris LP Ma’arif NU PBNU Drs. Harianto Oghie, seluruh pengurus JATMAN, Ketua PW MATAN SULSEL, serta simpatisan ahli tarekat dan jamaah halal bi halal.

(Hardianto)