RIHLAH ILMIYAH DAN AMALIYAH PC MATAN SIDRAP

(Bagian Kedua)

Kegiatan kedua, Hari Selasa, tanggal 05 Januari 2021, Pelaksanaan Rihlah Amaliyah PC MATAN Sidrap dilaksanakan di Pondok Pesantren AL-ANSHAR Bacu-Bacue, Kec. Watang Sidenreng, Kab. Sidrap dengan agenda kegiatan Majelis Dzikir dan Kajian Tasawuf pada pukul 20.00 Wita.

Kedatangan Habib Haedar beserta rombongan di pondok pesantren Al-Anshar disambut oleh para santri dengan lantunan shalawat. Dalam ramah tamah sebelum dimulainya kegiatan, KH. Hamka Adama, Lc. sebagai pimpinan pondok mengucapkan terima kasih kepada Habib Haedar atas perkenannya hadir di pondok pesantren tersebut.

Kegiatan diawali dengan zikir dan salawat yang dipimpin oleh Al-faqir Muhammad Rusmin Al-Fajr (pimpinan majelis Fatihiyyah Haqqani). Dalam prolognya, al-faqir menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan zikir dalam diri seseorang. Bukanlah pribadi muslim yang baik yang hanya mau berdzikir saja lalu mengabaikan menuntut ilmu. Begitu juga orang yang hanya mau menuntut ilmu saja, tapi melalaikan dirinya dari berdzikir.

Setelah kegiatan zikir dan shalawat berakhir, agenda selanjutnya adalah kajian tasawuf yang dibawakan oleh Habib Haedar bin Usman Al-Hamid dengan tema Hakikat Tasawuf.

Di awal kajian, Habib Haedar banyak menceritakan kisah Imam Al-Ghazali dimulai ketika beliau dikirim oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu hingga kemudian menjadi ulama besar dan menyusun kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Diharapkan dengan mendengar kisah beliau dapat menjadi inspirasi dan motivasi dalam menuntut ilmu dan berjalan menuju Allah.

Selanjutnya dalam pokok materi kajiannya, Habib Haedar menjelaskan bahwa ilmu tasawuf sangat penting dipelajari dan dijalani bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, karena dengan jalan tasawuf saja seseorang bisa mencapai maqam Waliyullah.

Inti kajiannya, Habib Haedar menjelaskan bahwa Hakikat Tasawuf adalah Mujahadatun nafs atau perjuangan untuk melawan hawa nafsu. Melalui mujahadatun nafs kita bisa menghilangkan semua sifat-sifat buruk di dalam diri kita dan menghadirkan sifat-sifat yang terpuji. Dengan demikian inti daripada tasawuf adalah berakhlak yang mulia.

Menutup kajiannya, dengan mengutip sebuah hadist Habib Haedar mengatakan bahwa kalian manusia yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah swt. adalah mereka yang berakhlak mulia, sedangkan manusia yang paling jauh jaraknya dari Allah adalah mereka yang memiliki banyak bicara, suka menyebarkan berita kebohongan dan ada kesombongan dalam hatinya.

Penulis: Syekh Muhammad Rusmin al-Fajr

Editor: Hardianto