Ngaji Tajul Arusy “Jangan Mengkhawatirkan Masa Depan”

Kyai Yardho dalam kajian rutin ngaji kitab Tajul Arusy karya Syekh Ibnu Athoillah yang diselenggarakan PK-MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa ketika seseorang tidur, tapi sedang campur-aduk atau lalai kepada Allah, maka yang akan dilihat dalam tidurnya adalah kecampur-adukan atau kelalaianya tersebut. Oleh karena itu, sebelum tidur dianjurkan terlebih dahulu untuk wudhu’, istighfar atau berdzikir kepada Allah. Hal itu juga untuk berjaga-jaga ketika mati, maka dalam keadaan suci.

Ruhan atau syukma itu ketika tidur akan keluar dan bertamasya. Ketika sebelum tidur dalam keadaan suci dan bertaubat, maka akan bertamasya ke tempat yang baik. Begitupun sebaliknya ketika tidur dalam keadaan tidak suci, maka akan bertamasya ke tempat yang buruk. Orang-orang tertentu, sebelum tidur itu berusaha menghadirkan Allah sehadir-hadirnya, supaya terbawa dalam tidurnya. Tidur yang seperti ini walaupun cuma 10 menit, biasanya sudah terasa cukup atau bahkan seperti sudah tidur berjam-jam. Selain itu, tidur dalam keaadan suci itu akan membukakan hati dan juga ketika ada bahaya, maka akan reflek.

Kajian yang diselenggarakan pada Rabu Sore (28/10) ini, Pengasuh Al-Jawi tersebut menambahkan bahwa ketika ada seseorang bangga dengan dunia yang datang kepadanya, maka orang tersebut adalah orang bodoh, dan lebih bodoh lagi ketika dunia itu hilang, ia menangisinya atau sedih. Ciri-ciri orang ahli akhirat adalah senang atau bahagia, ketika ada orang yang meminta-minta, begitu sebaliknya jika merasa terganggu, maka ia termasuk orang yang ahli dunia.

Kemudian tanda-tanda orang yang lalai atau akalnya rendah adalah orang yang mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, seperti besok makan apa atau saat ini yang sedang kuliah ragu dan khawatir tentang masa depanya gimana, mau kerja apa. Ini adalah termasuk orang yang akalnya rendah atau lalai. Jadi saat ini adalah mengerjakan apa yang sekarang perlu dikerjakan, tidak perlu khawatir tentang masa depan. Urusan rezeki sudah ada yang mengatur, tidak usah ragu.

Yang seharusnya perlu dikhawatirkan adalah besok akan mati dalam keadaan iman atau kafir, khawatir besok masuk neraka apa surga, dan khawatir besok menerima buku amal dari arah kanan atau kiri, bukan malah mengkhawatirkan yang remeh-remeh itu, apalagi yang sudah ditentukan oleh Allah. Sejelek-jeleknya raja itu pasti akan mengasih makan kepada pekerjanya, apalagi Allah, yang kita sudah beribadah dan taat kepada-Nya, tidak mungkin orang yang bertamu di ruang tamu tapi sia-siakan, apalagi tiap hari bertamu kepada Allah. Atau kita disuruh bertamu ke rumahnya orang kaya dengan iming-iming akan dikasih sesuatu, pasti kita percaya karena kaya, begitupun juga Allah, masak kita tidak percaya kepada Allah. (Alvin Jauhari /Surabaya)