PERINGATAN MAULID NABI ﷺ DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Peringatan Maulid Nabi merupakan perkara yang dinilai baik oleh mayoritas umat islam di seluruh belahan bumi. Selaras dengan riwayat Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Mas’ud R.A. : “Apa yang dinilai baik oleh umat islam maka hal tersebut di sisi Allah adalah baik, begitu pula sebaliknya.”.

Peringatan Maulid sendiri adalah suatu perkumpulan umat dimana di dalamnya dibacakan kalimat-kalimat dhikir, shalawat, pujian, dan sanjungan untuk Nabi ﷺ. Disampaikan pula mau’idhoh hasanah, sirah kehidupan Sang Baginda Rasul serta dilakukan amal sedekah seusainya. Yang kesemuanya adalah sama sekali tidak bertentangan dengan syariat dalam islam.

Kisah para Nabi dan Rasul sendiri sengaja diceritakan dalam Al-Qur’an yang di antara tujuannya adalah untuk memantapkan iman, islam dan aqidah Nabi ﷺ, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah :

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”. (Q.S. Hud : 120)

Jika sejarah para Nabi dan Rasul mampu memperkuat iman, islam dan aqidah Nabi ﷺ, maka bagaimana dengan sejarah pemimpin dari para Nabi dan Rasul itu sendiri? Apalagi di zaman sekarang ini kita amat butuh akan hal-hal yang mampu menjadikan iman, islam serta aqidah kita jauh lebih kuat dan lebih baik hari demi hari.

Tidaklah segala yang tidak dilakukan oleh Nabi itu hukumnya Bid’ah yang haram dan tidak boleh dilakukan oleh umat serta harus dikikis habis, namun seharusnya perkara tersebut dihadapkan terlebih dahulu kepada dalil-dalil agama yang ada agar muncul kejelasan hukum apakah hal tersebut wajib, Sunnah, haram, makruh atau mubah? Kaidah Ushul mengatakan : Penghantar kepada tujuan yang baik dihukumi seperti tujuan yang baik tersebut.

Tidak semua perkara baru itu dihukumi Bid’ah dan Haram untuk dilakukan, sebab jika demikian maka pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Sahabat Abubakar, Umar dan Zaid R.A. dapat digolongkan bid’ah dan haram sebab sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi, namun kenyataannya tidak seorangpun dari kalangan Sahabat yang protes dan ingkar terhadap kebijakan yang diambil oleh Khalifah Abubakar dan dilanjutkan oleh sahabat Umar, Usman dan Zaid R.A.

Sebagaimana Imam Syafi’ie menyampaikan bahwa “Perkara baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an / Hadits / Ijma’ itulah yang disebut dengan Bid’ah yang menyesatkan, adapun hal-hal baik yang tidak bertentangan dengan Qur’an Hadits Ijma’ maka hal terseut termasuk hal-hal yang terpuji.”

Pendapat Imam Syafi’ie ini selaras dengan pendapat Ulama-ulama Islam yang lain seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Katsir, Imam Al Izz bin Abd. Salam dll.

Peringatan Maulid Nabi merupakan upaya untuk mengenang kembali sosok mulia Nabi Muhammad ﷺ dan hal ini diajarkan dalam agama islam, coba kita lihat dan renungkan betapa kebanyakan amalan-amalan manasik haji dan umroh diwajibkan dalam rangka mengenang Keluarga Bapak para Nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S.

Mengagungkan Nabi merupakan salah satu ajaran islam, berbahagia di hari kelahirannya dengan berkumpul bersama saudara seiman seagama utamanya kalangan faqir miskin seraya menampakkan kegembiraan dengan berdzikir bersholawat dan membagikan makanan alakadarnya merupakan salah satu ungkapan rasa syukur kepada Allah dan ungkapan penghormatan kepada Baginda Rasul ﷺ yang memang diajarkan dalam agama

Nabi ﷺ juga mengajarkan kepada umat-nya untuk mengagungkan hari jum’ah sebab di antara keutamaannya adalah diciptakannya Nabi Adam A.S pada hari tersebut. Jika Jum’ah diagungkan sebab terciptanya salah seorang Nabi (Adam) bagaimana dengan hari dilahirkannya Penghulu para Nabi dan Rasul? Bukannkah hal tersebut lebih utama dan lebih layak untuk diagungkan?

Begitu pula mengagungkan tempat kelahirannya sebagaimana Jibril A.S perintahkan kepada Nabi pada malam Isra’ Mi’raj untuk sholat di Beth Lehem lalu jibril jelaskan jika tempat tersebut adalah tempat dilahirkan Nabi Isa A.S.

Atas dasar itulah mengenal sejarah dan sifat-sifat mulia Nabi dapat menjadikan sempurna kecintaan dalam hati dan mempertebal iman, hal tersebut diperintahkan dalam agama, dan kita manusia senantiasa condong akan segala yang indah baik halus dan lembut . Adakah makhluk yang lebih sempurna, lebih baik, lebih lembut dan lebih halus dari pada Nabi ﷺ?

Lebih lanjut, karena Nabi adalah Syi’ar agama bahkan beliau adalah sumber seluruh Syi’ar yang ada dalam islam. Adakah syi’ar yang lebih agung daripada Nabi ﷺ? mengagungkan Syi’ar merupakan perintah Allah dalam Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al Hajj : 32.

Peringatan Maulid memang tidak ada di zaman Nabi, dengan demikian dapat digolongkan Bid’ah (Perkara Baru) tapi Bid’ah Hasanah (baik) seperti hal-nya pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an di zaman Khalifah Abubakar dan tarowih berjamaah atas inisiatif Khalifah Umar, juga adzan jum’ah dua kali dari ijtihad Khalifah Usman R.A. Hal tersebut termasuk bid’ah hasanah sebab berdasar kepada hadits

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةَ

Begitu juga Allah telah berfirman : “Bersholawat kepada Nabi jelas dianjurkan dalam Al-Qur’an .” (QS.Al Ahzab 56)

Peringatan Maulid memotivasi Umat untuk bersholawat kepada Nabi. Segala hal yang mendorong kepada perkara yang dianjurkan dalam agama maka hal tersebut termasuk anjuran agama. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim : “Memperingati, merayakan dan mensyukuri Kelahiran Nabi ﷺ dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi dengan berpuasa setiap hari senin .” (HR.Muslim)

Dalam acara Maulid dibacakan sejarah, riwayat hidup dan banyak hal terkait dengan Nabi ﷺ, bukankah umat diperintah untuk mengenal, meneladani dan meniru Nabi? Kitab-kitab Maulid sangat amat efektif untuk mengantar umat melakukan hal-hal tersebut di atas.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ juga merupakan salah satu ungkapan rasa bahagia atas nikmat dan rahmat dari Allah SWT. Nabi adalah Nikmat dan Rahmat dari Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an :

(QS. Anbiya’ : 107)

(QS. Ali Imran )

(QS. Yunus : 58)

Terlebih, memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ memiliki begitu banyak fadhilah dan keutamaannya, sebagaimana yang disampaikan beberapa kalam sahabat Nabi, ahli fiqh hingga ahli Sufi yang ada dalam kitab “An-Ni’matul kubra ‘alal ‘alami fi Maulidi Sayyidi Walidi Adam”halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.

Sayyidina Umar RA. Berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام

“Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi Muhammad ﷺ,maka sesungguhnya ia telah menghidupkan islam.”

Sayyidina Ali RA,berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب

“Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi ﷺ, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan Maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia malainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi ﷺ, maka ALLAH akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

Imam Sirri Saqathi, semoga ALLAH membersihkan sir (bathin)-nya, berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi ﷺ, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi ﷺ. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.

وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi ﷺ melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan ALLAH akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada ALLAH SWT untuk mereka yang menjadi sebab dibacakan nya pembacaan maulid Nabi ﷺ. Dan beliau berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi ﷺ melainkan ALLAH SWT menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu.

Dan apabila ia meninggal, maka ALLAH akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi ﷺ, maka ALLAH akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi ﷺ, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka ALLAH tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi ﷺ.”

Dari pelbagai pernyataan diatas dan karena semua amalan telah diperkuat dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits, serta tidak tercampuri dengan amalan-amalan munkar maka hal tersebut termasuk dalam ajaran agama. Seperti inilah yang  menjadikan prespektif mayoritas umat Islam bahwa memperingati Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu amalan yang menunjukkan rasa syukur dan bahagia sekaligus ingin diakui menjadi ummat beliau Nabi Muhammad ﷺ. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Wallahu ta’ala a’lam bisshowab.

Author : Ali Akbar

Editor : A. N. Wachidah