Ludah Sang Kyai (mengenang HARI SANTRI

Teringat saat kami nyantri di pondok sabang hari menenteng kitab gundul dan berusaha dengan sangat unguk tidak melanggar aturan pondok. Tidak ikut pengajian kitab termasuk pelanggaran berat bagi santri. Setiap pelanggaran ada sanksinya.

Kami disanksi untuk membersihkan WC/toilet dan closetnya yang baunya cukup menusuk, memasak, ngepel asrama, jalan kodok, jalan jongkok, push up, disetrap, dipukul rotan oleh sang kyai, bahkan diludahi oleh kyai.

Mulut kami disuruh buka lebar-lebar, menengadah ke langit sambil membuka mulut dan sang kyai kerek…kerek…kerek lalu meludahi kami, terasa air ludah bercampur air liur sang kyai merasuk masuk ke tenggorokan kami.

Sanksi atau hukuman fisik yg tadinya terasa sadis dan pedis, kini saat waktu diludahi antara mulut kyai ke mulut kami justru terasi sedaaaaaap bagai susu mengalir dn itu kami anggap berkah dari sang kyai.

Kyai-kyai memberikan itu semua bukan karena marah pada kami, apalagi benci dan emosi itu tidak, namun semata-mata karena mereka menginkan kami sukses, memiliki motivasi yang tinggi meraih berkah kyai, guru-guru kami, mursyid kami tercinta.

(Rabu 10 oktober 2020)
✍🏿 Mahmud Suyuti