Pentingkah Kita Memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ?

Memperingati Maulid Nabi, itu sangat penting. Banyak sekali poin-poin penjelasannya. Poin yang pertama, dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya kalau kita perhatikan, secara tidak langsung kita telah mengamalkan salah satu perintah Allah ﷻ.

Allah SWT berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.” (Q.S. Yunus : 58)

Ketika kita mendapat kenikmatan dari Allah atau mendapat rahmat dari Allah, ada perintah dari Allah untuk bergembira. Ketika mendapat nikmat, kita dianjurkan oleh Allah untuk menampakkan kegembiraan atas nikmat yang Allah berikan itu.

Semisal ketika kita akan menikah, kita disunnahkan untuk mensyiarkan dan mengumumkan pernikahan itu. Dengan cara mengundang saudara-saudara kita. Di satu sisi, hikmahnya agar mereka tahu jika kita sudah menikah dengan si fulan, sehingga tidak akan ada prasangka negatif ketika kita bersama sang istri/suami. Yang kedua sebagai bentuk kegembiraan kita, dengan memberikan makanan kepada mereka di saat kita bergembira agar mereka juga ikut bergembira. Kemudian contoh lainnya adalah di saat kita mengadakan tasyakuran ketika memiliki rumah baru, dan sebagainya. Kita tampakkan kegembiraan kita dengan mengundang saudara-saudara kita.

Jika mendapatkan rumah atau jika mendapatkan jodoh lalu menikah saja kita tampakkan rasa syukur kita kepada Allah dengan cara mengundang saudara-saudara kita. Lantas bagaimana ketika Allah berikan kepada kita sebuah kenikmatan agung yaitu dengan lahirnya Rasulullah Muhammad ﷺ? Bukankah kita menjadi muslim karena sebab diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai seorang nabi, sehingga menyampaikan risalah dari Allah kepada kita? Bukankah kita juga sudah mendengar bahwa Allah berfiman, “Dan tidaklah Aku mengutus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”?

Artinya, Nabi Muhammad itulah sebenarnya hakikat rahmat yang terbesar bagi kita. Dan kedua firman Allah yang telah disebutkan adalah sungguh berkaitan jika kita mau berpikir lebih dalam. Maka dengan lahirnya Nabi Muhammad yang merupakan rahmat dan karunia terbesar dari Allah kepada kita, kita bergembira. Itu anjuran dari agama kita. Berbeda ketika kita mendapatkan musibah atau ujian dari Allah, kita dianjurkan untuk menyembunyikannya. Agar jangan sampai orang lain tahu kalau kita sedang mendapatkan musibah. Tapi ketika mendapatkan kenikmatan, rahmat atau karunia dari Allah, justru kita dianjurkan untuk menampakkan kegembiraan kita.

Melaksanakan perintah Allah SWT untuk bergembira terhadap karunia dan rahmat yang Allah berikan kepada kita bisa dengan cara apapun. Termasuk atas rahmat dihadirkannya Baginda Rasulullah ﷺ. Tidak ada ketentuan kita bergembira harus dengan melaksanakan peringatan maulid Nabi Muhammad ﷺ. Artinya, kita boleh bergembira asal kegembiraan itu tidak melanggar daripada syariat agama.

Karena itu kita sering mendengar juga bagaimana kisah seorang non-muslim, Abu Lahab—paman dari Nabi Muhammad ﷺ—, yang disebutkan dalam Al Bukhariyah bahwasannya dengan sebab beliau memerdekakan Tsuwaibah, budaknya, karena perasaan gembiranya ketika mendengar berita lahirnya Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ, maka setiap hari Senin akan Allah ringankan siksanya di dalam neraka karena dia pernah bergembira dengan memerdekakan budak pada hari kelahiran Sang Baginda Rasul. Bahkan diriwayatkan bahwa di antara jarinya keluar air yang bisa melepaskan dahaganya khusus di hari Senin. Jika Abu Lahab saja yang jelas kita tahu bagaimana beliau namun tetap mendapat faedah daripada rasa gembiranya akan kelahiran Rasulullah, lalu bagaimana dengan kita yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ? Maka tentu kita akan mendapatkan faedah yang lebih daripada yang didapatkan oleh Abu Lahab.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah pun berpuasa pada hari Senin karena pada hari itu Beliau ﷺ dilahirkan. Jadi kegembiraan Nabi atas kelahirannya adalah dengan cara berpuasa pada hari tersebut. Nabi Muhammad bersyukur, sehingga beliau berpuasa di hari Senin.

Maka silahkan jika kita ingin bergembira dengan cara berpuasa, atau berbagi makanan dan sebagainya. Yang menjadi poin utama adalah kita bergembira sebab itu adalah perintah dan anjuran dari Allah. Sehingga bagaimana caranya, adalah sesuai cara kita masing-masing asalkan tidak keluar dari syariat Islam. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Disarikan dari penjelasan para guru.