Ngaji MATAN UINSA, Yai Yardho: Orang Berilmu itu Lebih Mulia

Rutinan Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (PK-MATAN) UIN Sunan Ampel Surabaya ngaji kitab “Risalah Laduniyyah” Karya Imam Ghazali Kembali diselenggarakan pada Jum’at Malam (16/10). Pengajian ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Jawi Surabaya sekaligus disiarkan live streaming melalui aplikasi zoom dan youtube.

Pengajian yang diikuti oleh para muhibbin MATAN dari berbagai daerah ini diisi oleh pembina PK-MATAN UINSA Dr (Cand) KH. Moh. Yardho, M.Th.I yang juga sebagai pengasuh Pondok Al-Jawi dan Dosen di UIN Surabaya.

Dalam pengajian ini Yai Yardho menjelaskan bahwa ilmu itu lebih mulia dari pada kebodohan.

“Ilmu itu lebih mulia dari pada kebodohan. Bodoh itu seperti kebutaan dan kegelapan, sedangkan ilmu itu seperti melihat dan cahaya.  Orang alim itu pasti lebih mulia dari pada yang tidak alim, apalagi alim dan mau mengamalkan ilmu, ya pasti lebih mulia, “jelas Yai Yardho.

Yai Yardho melanjutkan bahwa hukum kebodohan itu tidak ada, sedangkan ilmu hukumnya ada.

“Kebodohan itu hukumnya tidak ada, kalau ilmu hukumnya wujud atau ada, sedangkan ada itu lebih baik dari pada tidak ada. Orang yang berilmu itu dalam belajar punya metode yang banyak, sedangkan orang bodoh ya sedikit pastinya. Kemudian terkadang orang yang bisa berfikir itu tidak bisa membedakan,” lanjutnya.

Di akhir pengasuh Al-Jawi ini menambahkan bahwa jiwa itu bisa menerima semua ilmu dan bisa menyimpan apapun.

“Jiwa itu bisa menerima semua ilmu dan bisa menyimpan apapun, bahkan lebih canggih dari database. Jiwa itu istilahnya seperti lauh mahfudz, artinya tidak pernah hilang atau terjaga. Jadi apapun yang sudah terekam di jiwa itu gak akan hilang, kalaupun lupa itu sebenarnya tidak hilang, hanya saja jiwa belum bisa menampilkan di layar ingatan kita,” pungkasnya.

(Alvin Jauhari/Surabaya)