Hakikat Penyucian Jiwa: Kisah Abu Yazid al-Basthomi Dengan Seekor Anjing.

Tahun 188 H (804 M) menjadi penanda lahirnya filsuf dunia tepatnya di Persia yang memiliki nama kecil Tayfur. Setelah memiliki putra, Namanya dikenal dengan Abu Yazid al-Busthami. Yazid sendiri adalah nama putranya, dan al-Busthami adalah nisbah yang ditujukan pada daerah kelahirannya yaitu Bistami, Qumis, di bagian tenggara Laut Kaspia, Iran.

Abu Yazid remaja tekun mempelajari dan mendalami al-Qur’an serta hadist-hadist Nabi Muhammad Saw. Ia kemudian mempelajari fiqh madzhab Imam Hanafi, sebelum akhirnya menempuh jalan tasawuf.  Beliau wafat sekitar tahun 261 sampai 264 hijriyah. Sampai sekarang makamnya yang berada di pusat kota Bistami, Iran banyak diziarahi oleh umat Islam.

Atas ketaatannya pada Allah, Abu Yazid al-Busthami pernah berkeinginan memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan sifat ketidakpeduliaan terhadap makanan dan perempuan, kemudian hatinya berkata: “Pantaskah aku meminta kepada Allah sesuatu yang tidak pernah diminta oleh Rasulullah SAW?” Bahkan karena ketinggian ilmunya, Abu Yazid menghukum dirinya sendiri jika melanggar.

Eskpresi ketaatan Abu Yazid itu menggambarkan bahwa kedudukan ma’rifahnya sebagai seorang sufi di abad ketiga hijriyah tidak diragukan lagi.

Suatu hari Abu Yazid mendapatkan ilmu berharga dari seorang anjing liar di tepi jalan. Saat Abu Yazid berjalan sendirian di malam hari, beliau melihat seekor anjing yang terus berjalan kearahnya. Seketika Abu Yazid mengangkat jubah beliau karena anjing tersebut terus mendekat kepadanya dan khawatir jubahnya najis jika tersentuh anjing tersebut.

Anjing itu pun spontan berhenti dan memandang Abu Yazid al-Busthami. Kemudian anjing itu berkata kepadanya.

“Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau cukup membasuh 7 kali dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat jubahmu kerana menganggap dirimu lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 samudera lautan,” ucap anjing jalanan itu.

Abu Yazid merasa tertampar mendengar ucapan anjing itu dan langsung meminta maaf. Abu Yazid mengajak anjing itu untuk bersahabat dengannya sebagai permohonan maaf yang tulus, namun anjing itu menolaknya.

“Engkau tidak patut berjalan denganku. Karena mereka yang memuliakanmu akan mencemooh dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum,” pungkas anjing itu sembari meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid pun termenung dan berkata, “Ya Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja aku tidak layak. Bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-Mu, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari segala kotoran.”

Sejak peristiwa itu, Abu Yazid al-Busthami senantiasa memuliakan semua makhluk Allah tanpa pandang bulu. Kisah ini menjadi pelajaran indah tentang hakikat penyucian jiwa. Dan kisah ini difirmankan Allah dalam al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa“. (QS. An-Najm: 32).