Ngaji MATAN UINSA, Kyai Yardho: Jangan Sok Suci

Sudah menjadi agenda rutin setiap Rabu Sore, Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (PK-MATAN) UIN Sunan Ampel Surabaya Kembali menggelar ngaji kitab “Tajul Arusy” Karya Syaikh Ibnu Athoillah Al-Askandari pada Rabu Sore (14/10). Kajian yang diselenggarakan di Pondok Al-Jawi Surabaya, sekaligus secara online via aplikasi zoom ini diisi oleh pembina PK-MATAN UINSA sendiri, yakni Dr (Cand). KH. Moh. Yardho, M.Th.I.

Dalam kajian tersebut Yai Yardho saapan akrab beliau menjelaskan tiga nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia.

“Nikmat terbesar yang Allah berikan adalah pertama, diam di atas batasan-batasan Allah. Maksudnya menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, diberi kemudahan melakukan kebaikan dan menghindar dari keburukan itu nikmat yang sangat besar. Kedua, menepati janji, baik itu janji primordial ketika manusia belum dilahirkan maupun janji ketika bersyahadat. Ketiga, selalu tenggelam dalam penyaksian kepada Allah. Ini nikmat yang paling tinggi, yang kita kenal dengan istilah makrifat secara realitas. Yang bisa melakukan ini adalah orang yang benar-benar sudah mengenal Allah,” jelas Yai Yardho.

Kemudian Pengasuh Al-Jawi ini menambahkan bahwa bolak-baliknya hati manusia itu lebih dahsyat dari pada air yang mendidih.

“Jangan sok suci, bisa jadi dalam sekejap lebih buruk dari yang kita salahkan, karena bolak-baliknya hati itu lebih dahsyat dari pada air yang mendidih,” tambahnya.

Ngaji Virtual Via Aplikasi Zoom

Lanjut Yai Yardho bahwa disaat kita melihat kesuksesan orang itu yang kita lihat biasanya melihat yang sekarang, jarang kita lihat bagaimana perjuanganya dulu, bagaimana dibalik kesuksesannya itu.

“Ada sebuah pepatah bahwa disaat kalian melihat kami dipuncak, maka akan rugi. Tapi jika melihat dipermulaan, maka kalian akan beruntung. Itu karena disaat kita melihat orang lain sukses, kita jarang melihat dibaliknya. Seperti kita lihat guru kelihatannya tidak pernah dzikir, tapi sebenarnya di manapun sudah bisa dzikir, bisa seperti itu berkat perjuangannya dulu, melatih untuk terbiasa dzikir itu butuh perjuangan,” lanjut Yai Yardho.

Dosen UINSA ini menambahkan bahwa paling dahsyat adalah nafsu. Nafsu datang bisa membutakan mata.

“Usahakan setiap ba’da sholat baca istighfar, karena dosa itu harus selalu dibersihkan. Coba wajan kalau digunakan terus tapi selalu dibersihkan, maka tetap putih bersih. Coba kalau tidak selalu dibersihkan, ya hitam dan sulit hilang kalau dibersihkan. Dan paling dahsyat itu hawa nafsu, nafsu kalau datang itu bisa membutakan mata,” terangnya.

Kemudian di akhir Yai Yardho menjelaskan bahwa do’a sebenarnya adalah sapaan kepada Allah.

“Makna do’a itu sebenarnya adalah sapaan kepada Allah. Jadikan do’a itu sebagai sarana sapaan, bukan meminta, walaupun dibarengi dengan permintaan. Allah kalau disapa hamba-Nya itu senang sekali, wong Allah itu sayang sekali pada hamba-Nya. Jika sering nyapa, maka lama-lama akan akrab. Coba kita di facebook, dilike aja kita seneng, belum kalau dikoment, dsb. Itu kita dilike aja sudah senang, apalagi Allah, disapa hamba-Nya ya sangat senang sekali,” pungkas Yai Yardho.

(M. Alvin Jauhari/Surabaya)