Untuk Siapa Hijrahmu: Menata Kembali Kondisi Hati

Semua orang dari hamba Allah yang mau mengingat-Nya, mengenal-Nya dan mendekat pada-Nya, merekalah orang-orang yang akan mendapat derajat tinggi di sisi Allah. Dan merekalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Betapa menggembirakannya jika kita bisa tergolong menjadi bagian dari mereka. Allahummaj’alna minhum.

Namun, tentu balasan yang besar akan membutuhkan pengorbanan yang setimpal pula. Akan ada beberapa faktor yang sangat penting untuk diperhatikan dan sering-sering dievaluasi. Karena itu, guru kita melanjutkan penjelasan sebelumnya kepada bab niat. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan bukan karena Allah, maka akan menjadi sia-sia. Semua sia-sia. Maka di dalam hijrah—kembali berada dalam jalan Allah dengan tuntunan Rasulullah—, poin utama yang penting adalah niat dan tujuan.

Sebagaimana telah disabdakan oleh Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَو امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى ما هَاجَرَ إِلَيْه

Artinya : “Sesungguhnya setiap amalan (perbuatan) tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena mencari dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang mana para ulama menyebutkan bahwa ia merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam As-Syafi’i berkata bahwasannya dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Dengan sebab bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam As-Syafi’i, beliau berkata bahwa hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqih. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata bahwa hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Ibn Daqiq Al-Eid mengatakan bahwa para ulama sangat senang untuk memulai karya tulisnya dengan menggunakan hadits ini seperti Imam Abu Abdillah Al-Bukhori, mengapa demikian? Jawaban yang dikemukakan oleh Ibn Daqiq yaitu dengan menukil pendapat Abdurrahman Ibn Mahdi bahwa “Dengan menuliskan hadits ini pada permulaan sebuah karangan, akan menggoreskan garis sebuah peringatan untuk para pelajar supaya memperbaiki niatnya”. Maka betapa krusialnya bab niat ini untuk kemudian dibahas lebih dalam dan dimantapkan lagi sebelum menginjak pada bab-bab yang lain.

Sesungguhnya Allah tidak memandang dhohir, dan amal-amal dhohirmu. Tapi yang Allah lihat adalah hati kalian. Maka apa yang terbersit dalam hati, itulah yang dipandang Allah. Jangan sampai melakukan kebaikan, tapi justru malah mendapat kerugian. Karena niat yang salah, karena tujuan yang salah. Jangan sampai melakukan ketaatan tapi malah merugi. Karena sesungguhnya yang bisa memberi apapun itu Allah, bukan manusia. Maka jangan menjadikan manusia sebagai tujuan. Demikian beberapa lanjutan kalam nasihat salah seorang guru kita.

Betapa sering guru-guru kita memberi nasihat perihal pentingnya berhati-hati atas kesegala hal yang terbersit dalam hati walau sekejap saja. Sebab hati adalah tempat Allah memandang kepada kita bahkan dalam setiap detiknya. Allah tak melihat kepada segala hal dhohir kita. Maka yang perlu kita jaga dengan ketat di setiap detiknya, adalah hati. Kalau-kalau terkadang terlintas keinginan untuk dipandang orang, diakui sebagai orang yang dekat dengan-Nya, mendapat perhatian khusus dari guru, dan lain sebagainya.

Kita bukan hanya diperintahkan untuk beribadah. Tapi diperintahkan untuk beribadah dengan ikhlas. Kemudian guru kita lanjut menjelaskan mengenai adanya malaikat yang ditugaskan khusus untuk menolak semua amal yang dilakukan bukan karena Allah. Namun ternyata ada pula yang lolos dari malaikat tersebut tetapi saat disodorkan kepada Allah, Allah memerintahkan untuk melemparkan amal itu kepada orang yang beramal. “Sebab orang tersebut sama sekali tidak mengharap ridha-Ku. Bukan ridha-Ku yang ia harapkan.”.

Dari kisah tersebut, kita paham bahwa bahkan malaikat pun tidak tahu betul kondisi hati kita. Apalagi kita, kita sama sekali tidak tahu kondisi hati kita dan hati orang lain. Hanya Allah satu-satunya yang tahu dan paham akan kondisi hati kita.

Untuk menjaga hati diri sendiri saja kita lemah. Maka kita berikrar, tapi dalam ikrar itu kita juga meminta tolong pada Allah. Karena pada hakikatnya, kita tidak mampu mengatur hati kita semuanya. Sebab kesemuanya adalah tiada yang milik kita, semuanya sejatinya hanyalah milik Allah dan ada pada genggaman-Nya. Demikian nasihat guru kita perihal pentingnya menyerahkan segalanya kembali pada Allah dan sering-sering meminta pertolongan sebagai bukti lemahnya kita, hinanya kita, tidak berdayanya kita tanpa Sang Maha Cinta.

Diolah dari berbagai sumber dan dari beberapa kalam para guru.