Niat-Niat Mulia Sebagai Modal Utama

                Segala sesuatu jika dipautkan dengan dan karena Allah, maka ianya akan menjadi sesuatu yang amat tak ternilai. Sekalipun pada mulanya hanyalah sesuatu yang kecil atau bahkan remeh. Yang bersifat kebiasaan atau adat misalnya, akan menjadi teramat agung dan mulia ketika dilandaskan dan dihubungkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Semisal saja beberapa aktivitas keseharian seperti mandi, makan, minum, tidur, berpakaian, dan lain sebagainya. Jika kita melakukan sekadarnya saja sebagai kebiasaan dan kebutuhan harian tanpa mengaitkannya pada Allah secara sengaja, maka kesemuanya pun akan sia-sia alias tak akan ada nilai lebih di hadapan Allah. Akan sekadar menjadi nilai keseharian kita belaka.

                Sedangkan para guru kita kerap kali menyebutkan betapa berkahnya kehidupan para wali Allah yang sama sekali enggan atau tidak rela jikalau ada sedetik waktu saja yang terlampaui tanpa ada keterkaitan dengan Allah atau dengan hal-hal bermanfaat yang mengundang ridho-Nya. Kemudian dicontohkan ketika membahas bab mimpi, para kekasih Allah tidak ingin mimpi yang sia-sia atau kurang bermanfaat. Hal yang terkadang atau memang tak pernah terlintas dalam pikiran kita saja begitu diperhatikan oleh mereka. Lantas bagaimana dengan niat yang jelas menjadi dasar utama, pondasi atas segala sesuatu sebagaimana hadits Baginda Rasulullah yang begitu masyhur bahwasannya apa-apa yang dikerjakan adalah bergantung pada niatnya? Tentu sangat kita pahami bagaimana para kekasih Allah tidak akan melewatkan implementasi ilmu mengenai itu—yakni niat—begitu saja.

               Jadi, sekali lagi mengenai niat, saat kita jelas menghubungkannya dengan Allah, menyambungkan dan mengaitkan kesemuanya pada dan karena-Nya semata, maka sungguh ia akan menjadi aktivitas yang begitu agung di sisi Allah. Ia bahkan bernilai pahala dan mampu membantu menaikkan derajat kita di sisi Allah. In shaa Allah.

                Mengapa demikian? Sebab, ketika kita misalnya makan dengan niat-niat mulia seperti agar kuat, mampu, dan maksimal untuk taat dan beribadah pada Allah. Kemudian misalnya juga agar kita memiliki cukup tenaga untuk membantu siapapun di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan, pun agar menjaga amanah dari Allah berupa tubuh, serta niat-niat suci lainnya. Bukankah hal-hal demikian jelas jauh berbeda tingkatannya di hadapan Allah jika dibandingkan dengan yang sekadar makan untuk memuaskan nafsu, sebagai rutinitas saja, hanya karena sudah masuk waktunya makan, karena lapar, atau sejenisnya?

                Begitu pula dengan perkara-perkara yang lainnya. Misal saat kita mandi. Kemudian kita niatkan untuk niat-niat agung misalnya agar badan lebih segar dan wangi saat akan sholat, atau akan ta’lim (menuntut ilmu agama), atau akan membaca al-qur’an dan lain sebagainya. Juga agar tidak membuat orang di sekitar kurang nyaman dengan bau badan kita, kemudian agar mampu memaksimalkan ibadah-ibadah sebab tubuh merasa lebih segar, serta niat-niat mulia yang lain. Apakah hal yang demikian tidak jelas terlihat oleh mata kita perbedaan-perbedaannya dengan yang hanya sekadar mandi tanpa ada niat-niat agung di dalamnya? Hanya sekadar mandi sebab ingin mandi saja, dan sebagainya. Sungguh sangat jelas betapa jauh perbedaannya. Amal kecil bisa menjadi besar sebab niatnya, pun amal yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya.

               Namun sayangnya, yang begitu sangat disayangkan, hal begini justru kurang menjadi perhatian utama di kalangan ummat muslim sendiri. Yang di dalam Islam jelas ada hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung dari niatnya. Dan bahkan ia juga menjadi salah satu kaidah utama dalam hukum fiqih kita. Semoga setelah mengetahui ilmu ini, kita diizinkan dan dimampukan oleh Allah untuk senantiasa mengamalkannya dan mengajak orang di sekitar kita agar bersama-sama mengerjakannya semata untuk mendapat ridho Allah.

               Berapa kali kita dengar hadits yang menyebutkan bahwa niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya sendiri? Mengapa? Sebab, yang jadi pembahasan adalah niatnya orang yang beriman pada Allah. Seseorang yang beriman pada Allah, kedudukannya jelas jauh lebih mulia dari yang tidak. Dan niat, letaknya adalah di dalam hati. Sedangkan hati jika dibandingkan dengan yang lain adalah tentu jauh lebih mulia daripada yang lain. Sebab hati adalah tempat Allah memandang. Tempat Allah setiap detiknya memperhatikan kita.

               Allah tidak melihat cantik kita, paras kita, elok kita, dhohir kita, penampilan fisik kita, dan lain sebagainya. Yang Allah pandang hanyalah hati kita. Yang mana apa-apa dalam hati itu tergambar pada lisan kita. Baik buruknya hati seseorang, tergantung pada lisannya. Semoga Allah senantiasa menolong semua ummat muslim untuk taat dan beribadah kepada-Nya. Aamiin.