Nilai Pendidikan Akhlak Sunan Ampel

Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden Ali Rahmatullah adalah salah satu ulama masyhur yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa atau yang biasa disebut Wali Songo. Perjalanan dakwahnya dimulai atas undangan Prabu Sri Kertawijaya di Trowulan ibu Kota Majapahit. Sebelum sampai Trowulan, Sunan Ampel singgah dulu di Palembang dan Tuban untuk menyebarkan Islam. Dan di Trowulan itu adalah catatan sejarah keagamaan masyarakat Majapahit dari Hindu menjadi Muslim.[1]

Tugas utama Sunan Ampel adalah mengislamkan masyarakat Jawa yang mayoritas saat itu beragama Hindu di bawah kekuasaan Majapahit. Pada awal kedatangannya di Jawa, Sunan Ampel melihat banyak perbuatan tercela yang dilakukan oleh masyarakat, seperti hidup foya-foya, mabuk, berjudi, dan penarikan retribusi yang berlebihan oleh para adipati. Kemudian Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta yang merupakan sebuah wilayah di Surabaya.

Atas dasar tersebut dakwah Sunan Ampel berfokus pada perbaikan moral yang disebut moh limo. Moh limo artinya lima perbuatan tercela yang seharusnya tidak dilakukan yaitu  pertama, moh main (tidak main) disini diartikan dengan tidak bermain judi, karena judi bisa menimbulkan berbagai perilaku tercela lain seperti menimbulkan rasa dendam bagi yang kalah dan judi adalah perilaku yang tidak jauh dari mencuri, merampok, dan korupsi. Kedua, moh ngombe (tidak minum) artinya tidak mau minum minuman yang memabukkan, karena hal tersebut dapat merusak akal sehat peminumnya sehingga tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Ketiga, moh maling (tidak mencuri) adalah perilaku tercela yang merugikan korban. Ajaran ini sangat tepat jika dipegang dan diterapkan oleh semua wakil rakyat, sehingga tidak ada lagi kasus korupsi yang merugikan rakyat dan negara. moh madat (tidak mengisap candu) artinya tidak mau mengisap narkotika atau obat terlarang lainnya. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penggunanya menjadi malas dan kesehatannya terganggu. Kelima, moh madon (tidak berzina) Allah melarang hambaNya untuk mendekati zina apalagi melakukannya. Perilaku tercela ini dapat menimbulkan berbagai akibat serius seperti penularan penyakit HIV/AIDS dan dapat menghilangkan status keturunannya karena tidak mengetahui orangtua sebenarnya.[2]

Kelima ajaran Sunan Ampel ini tidak akan pernah lekang oleh zaman. Di era modernisasi ini masyarakat sering terlena dengan semua kemudahan yang ada, sehingga seringkali melupakan hak dan kewajiban kepada Tuhannya. Maka dari itu, penerapan moh limo  ini dapat menjadikan pribadi dan budi pekerti yang baik agar masyarakat tidak melupakan perintah dan larangan Tuhannya.(Risma Savhira)


[1] Muslimah dan Lailatul Maskhuroh, “Kontribusi Sunan Ampel (Raden Rahmat) Dalam Pendidikan Islam”, Dar El-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, Vol. 06, No. 01 (April, 2019).

[2] Sultoni, “Nilai-Nilai Ajaran Tasawuf Walisongo Dan Perkembangannya Di Nusantara”, Kabilah: Journal Of Soscial Community, Vol. 01, No. 02 (Desember, 2016).