Tahun Baru; Pemuda Zaman Now

Tahun telah berganti, namun bagaimana dengan kedepan? generasi seperti apa yang dapat diharapkan mampu membangun negeri ini? Dalam Al-Quran digambarkan pemuda Ashhabul kahfi, yaitu sekelompok anak muda yang memiliki integritas moral (iman).
“Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS al-Kahfi [18]: 13).

Lebih lanjut kita mengenal serta mengetahui sejarah para pemuda seperti: Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.

Dari pendahuluan karakter tokoh diatas, setidaknya terdapat beberapa analisa karakteristik pemuda yang dapat kita jadikan gambaran dintaranya adalah;

Pertama, pemuda yang selalu menyeru kepada alhaq (kebenaran)
“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS Al-A’raf [7]: 181).

Kedua, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah [5]: 54).


Ketiga, mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).

Keempat, mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Ra’d [13]:20).

Kelima, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid (ibadah/ tadzakkur).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wassallam bersabda,
“Ada tujuh (7) golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, (yaitu): pemimpin yang adil, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah, orang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang laki-laki yang senantiasa mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya) dalam keseharian sampai air matanya mengalirkan, orang laki-laki yang diajak seorang wanita
yang mulia lagi cantik lalu ia berkata, ”Aku takut kepada Allah yang menguasai seluruh alam”, dan orang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan (amal) sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Namun diantara kajian maupun ilmu/ suara kebenaran yang diperoleh muslim hari ini (zaman now) pada umumnya dari iman yang ruh (rooha-yaruuh-ruuh) karena tiada tertutupi oleh kekafiran diri, itulah yang disebut dengan ayat, ada di dalam dada setiap masing-masing manusia. Mendustakan suaranya, berarti kita yang memperturutkan suara hawa yag digerakkan oleh nafsu (nafasa-yanfusu-nafs) yang sangat mencintai dan menyenangi dunia.


Ketika diri (nafs) telah menguasai manusia itulah syarr (kejelekkan diri atau syetan). Maka terjadilah berurut sebagai berikut yakni, hawa, nafsu, dunia dan syetan atau syetan itu dunianya adalah hawa dan nafsu. Karena itulah manusia disebut “al-insanu hayawan natiq” (manusia itu, hewan yang berbicara). Artinya, manusia akan menjadi hewan, jika tidak mendengarkan suara positif iman yang di
dalam dada, dialah shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (mau berda’wah) dan fathonah (Cerdas).


Ketika tidak mendengarkan suara positif tadi, maka sebaliknya manusia justru akan mendengarkan suara 4 sifat negatif, yakni tiada shiddiq, tiada amanah, tiada tabligh dan tiada fathonah. Sifatnya hawa atau memperturuti hawa yang bersifat pantang kelintasan dan pantang kedahuluan orang atau manusia yang lain. Maka itulah, hendaknya manusia kembali kepada asal dan usul atau usul dan asalnya, yakni iman yang di dalam dadanya.


Maka saat beranjak dari awaluddin makrifatullah (awal agama adalah mengenal Allah). Maka suluk adalah sarana untuk mengenal Allah subhanahu wata’ala tersebut. Di dalam suluk tersebut dilat ihlah wuquf qalbi (hati/ qalbu) yang terhenti dari hal hal yang bersifat duniawi tetapi dikonsentrasikan munajat kehadirat Allah subhanahu wata’ala. Tentu saja dalam hal ini diperlukan pembimbing (sang mursyid) yang menjadi wasilah bukan perantara.


Dalam teori elektisitas (kelistrikan) kita mengenal adanya kabel yang yang menjadi penghantar jalannya arus listrik. Maka nurun ala nurin (nur Ilahi) yang terpancar dari dzat dan fiil ilahi rabbi itu di dalam suluk dikonsentrasikan didalam latifatul qalbi. Sang mursyid sebagai mediator yang maha baik menghantarkan langsung kehadirat Ilahi Rabbi. Tidak ada yang sampai ke matahari kecuali cahaya matahari itu sendiri.


Begitulah sang mursyid yang menjadi channel KETUHANAN yang dapat menghantarkan sang mukmin yang menjadikan manusia kembali pada sifat/ asal-usul dasarnya dengan bersuluk menuju hadirat Ilahi Rabbi.

Dunia ini hanyalah panggung sandiwara tetapi dzat Allah subhanahu wata’ala-lah yang kekal abadi yang akan menyelamatkan umat manusia ini sampai ke alam baqa. Nah, darimanakah manusia itu bisa mengenal sesuatu tanpa ada guru yang membimbingnya.


Suluk hanya dapat dilaksanakan oleh mereka yang telah menerima amalan thariqah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassallam telah memberikan amanah kepada para sahabat sampai kepada para tabi’in dan sampai kepada para ulama (warisatul anbiyai wal mursalin) termasuk para waliyullah sebagai pemegang tampuk pusaka dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di akhir zaman ini.

Apabila kita kelak meninggalkan dunia yang fana ini maka yang berjalan menuju hadirat ilahi adalah ruh kita.
“Hai jiwa yang tenang kembalilah Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr: 27-28)

Perjalanan ruh yang serba metafisika ini tidak dapat berjalan begitu saja tanpa indikator. Indikator inilah yang disebut sang Mursyid. Beliaulah yang menyalurkan nurun ala nurin (Cahaya di atas Cahaya) itu kedalam ruh para muridnya untuk dapat melasanakan dzikir sebanyak banyaknya secara intensif pula.

Seperti halnya rasul didalam gua Hira dibimbing oleh Jibril ‘alaihi salam. Begitu dahsyatnya pandangan bathin sang Mursyid yang memimpin murid muridnya di seluruh dunia ini. Dan para mursyid membimbing muridnya melalui ruhnya yang disertakan Allah subhanahu wata’ala cahaya.

Keyakinan dan praktik keagamaan (yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kematangan beragama seseorang) berakar dari pengalaman universal di masa kanak-kanak. Seperti halnya tingkat perkembangan yang dicapai di usia anak-anak,maka kedewasaan jasmani belum tentu berkembang setara dengan kematangan rohani. Secara normal, seseorang yang telah mencapai perkembangan kedewasaan akan memiliki pula kematangan ruhani.

Namun perimbangan antara kedewasaan jasmani dan kematangan ruhani adakalanya tidak berjalan sejajar. Kematangan beragama menyangkut kehidupan batin manusia. Zakiah Daradjat menghubungkan kematangan beragama dengan kematangan kepribadian. Selanjutnya beliau menekankan pendidikan agama dalam pengertian pembinaan kepribadian yang utuh.


Kematangan beragama selanjutnya akan berpengaruh terhadap sikap keagamaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatan terhadap agama. Hematnya, ketika seorang anak mengikuti salah satu aliran Thoriqoh yang khos (khusus) & mu’tabar (diakui) maka akan terjadi perubahan pada kesehariannya. Dan hal tersebut merupakan sifat utama para pelaku thoriqoh (salik) yaitu ahli sufi (berakhlaq/ beradab) terlepas dari perubahan itu akan menjadi lebih baik ataukah sebaliknya memburuk sebab perlakuan zaman kekinian atau sebab lainnya.

Akhirnya kedepan, dengan tulisan singkat ini generasi yang diharapkan akan terwujud, Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam bishowab..