BUDAYA MAPPACCI BAGI PENGANTIN BARU DI MANDAR DAN BUGIS

Mappacci berasal dari kata bahasa Bugis yang artinya membersihkan atau mensucikan. Kata mappacci atau mappepaccing ini berakar kata Pacci (bersih). Kegiatan ini biasanya dilakukan saat malam hari seorang calon pengantin baik pria maupun wanita. Tujuannya adalah agar kedua calon mempelai membersihkan jiwanya dari sifat-sifat yang tidak baik menuju ke alam rumah tangga. Kebiasaan yang buruk saat masih lajang bagi seorang calon mempelai pria tidak boleh melakukan setelah ijab kabul maupun memplai wanita. Sehingga dalam pernikahannya memperoleh rumah tangga sakinah mawadah warahmah sesuai dengan tujuan pernikahan dalam agama.

Kegiatan ini adalah murni budaya tidak ada ditemukan dalam ajaran agama kita (Islam) ditemukan dalilnya bahwa seorang memplai harus mappacci, tapi jika melihat tujuan mappacci dan istilahnya sangat sesuai dengan ajaran agama.  Al-Qur’an mengisyaratkan dalam surat al-Baqarah ayat 222  

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ                               

Terjemahan: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan membersihkan diri”.

Ayat ini sungguh sangat jelas perintahnya untuk senantiasa membersihkan dari noktah hitam kepada setiap hamba Allah. Rasulullah SAW bersabda,

 “Demi Allah, sesunguhnya aku beristighfar (memohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Rasulullah SAW adalah manusia terbaik dan dijamin Allah SWT karenanya ia diberi sifat ma’ sum yang bebas dari dosa-dosa yang lalu DNA akan datang, tapi beliau selalunya memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Bagaimana dengan kita (manusia) yang dipenuhi noktah-noktah hitam dalam setiap saat?. Karena itu, penting bagi seorang kedua mempelai untuk selalu membersihkan dirinya dari noktah-noktah hitam itu, dan senantiasa menjaga kesehatan jiwanya, agar memperoleh tujuan pernikahan samawa. Pernikahan bukanlah mainan dalam kehidupan ini, tapi persoalan serius untuk membangun kehidupan selamanya hingga fi dunya wal akhirah.

Wallahu’alam bish-shawab

Wailallahi Turja’ul Umur

Penulis

Abdurrrahim Hadi (Sekertaris PC MATAN Pinrang)