Wahdatus Sama’ ; Syaikh Yusuf al-Makassari

“Wahdatus Sama” merupakan istilah yang dicetuskan oleh Asy- Syekh Al-Haj Yusuf Abul Mahasin Asy Syafii Al Asy’ariy Aliyatullah  Taj Al-Khalwatiyah Al-Makassari. Wahdatus Sama adalah terpusatnya kebergantungan  kesadaran batin hanya kepada Allah swt. dan akhirnya fana’ dalam Allah dan baqa’ dengan-Nya. Beberapa ahli pernah berkata: “siapa yang tidak merasakannya, tidaklah merasakan khasiat Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya diantara orang-orang arif yang sempurna makrifatnya.” Begitulah ungkapan Syekh K.H. Sahib Sultan Karaeng Nompo  (Rais Syuriah Idarah Wustha JATMAN SULSEL dan Mursyid Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah)

Kitab Taj Al-Asrar menjelaskan bahwa “hamba itu tetap hamba meskipun ia fana’ dalam Allah dan Baqa’ pada-Nya dan disifati dengan sifat keTuhan-an, dan bahwa Tuhan tetap Tuhan meskipun zahir didalam hamba-Nya dan disifati dengan sifat-sifat kehambaan. Maka pahamilah dan jangan keliru, karena Allah disifati dengan sifat

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١١﴾

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syura: 11) 

Ajaran fana’ Syekh Yusuf menunjukkan adanya wahda (Kesatuan), dengan tetap menafikan kesatuan wujud antara hamba dengan Tuhan (Wahdatul wujud oleh Ibn Arabi), bukan pula bersatunya hamba dengan Tuhan (al-Ittihad oleh Abu Yazid Al-Busthani), bukan pula Tuhan turun mengambil tempat dalam diri manusia (Al Hulul oleh Al Hallaj), bukan pula penyinaran sinar atau pancaran cahaya (Al-Isyraq oleh Suhrawardi). Syekh Yusuf  memiliki konsep dan argumentasi tersendiri, Hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan  (al-’Abdu ‘abdun, al-Rabbu Rabb). Ajaran Syekh Yusuf menunjukkan ketidak samaan dengan 4 sufi besar di atas, berdasarkan pemahaman Q.S. Al-Maidah ayat 7.

Menurut Syekh Yusuf, Nabi Muhammad SAW. adalah manusia yang paling sempurna dan yang tertinggi makamnya, dan berakhlak dengan akhlak-Nya. Tidak pernah mengaku “ana al-Haq/ aku Yang Maha Benar,  hanya mengucapkan yang Allah wahyukan kepadanya. Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi: 110 yang artinya:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. Jadi tidak boleh ada hamba yang mengakui dirinya sebagai Tuhan.
Firman Allah swt:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thaha: 14)

Seorang hamba mampu mencapai maqam fana’, walaupun tidak mengucapkan syatahat yang khariqul adat (ungkapan sufi yang diluar kebiasaan/ adat), maka hamba tersebut tetap disebut mencapai insan al-kamil, al-‘arif billah melalui jalur syariat, tarekat, hakekat dan ma’rifat.

Perjalanan spiritual Syekh Yusuf Al-Makassari dimulai dengan mendalami tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Ba’lawiyah, Syattariyah dan Khalwatiyah (memperoleh gelar Taj Al-Khalwati /mahkota Khalwatiyah). Saat ini Tarekat Khalwatiyah jalur Syekh Yusuf ada jalur dari Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka, Syekh K.H. Sahib Sultan Karaeng Nompo, dan Syekh Sayyid Muhammad Rijal Assegaf Puang Awing.

Penulis : Subhan
Editor : Ali Akbar