Urgensi Thoriqoh dalam Spritualitas Generasi 4.0

Perilaku Keagamaan Generasi Milenial di Era 4.0

Dunia saat ini telah memasuki revolusi industri di fase keempat. Adanya revolusi industri 4.0 yang dirasakan saat ini tidak terlepas dari kontribusi revolusi industri 1.0 sampai 3.0. Revolusi industri gelombang pertama (Industrial Revolution 1.0) terjadi pertama kali di Inggris ditandai dengan penggunaan mesin uap sebagai pengganti tenaga manusia dan hewan. Revolusi industri gelombang kedua mulai memanfaatkan energi listrik sebagai alat produksi massal.

Revolusi industri ketiga ditandai dengan penggunaan otomatisasi dalam berbagai sektor industri. Dan revolusi industri 4.0 ini menjadi keuntungan tersendiri bagi sektor industri karena teknologi informasi dan komunikasi berpengaruh di seluruh rantai nilai industri. Sehingga melahirkan model bisnis yang baru berbasis digital guna menciptakan efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik.[1]

Revolusi industri 4.0 juga melahirkan sebuah kelompok manusia yang tumbuh dan berkembang dengan dorongan besar dari teknologi digital dan internet yang biasa disebut dengan generasi milenial. Generasi milenial adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1981-2000. Karakteristik generasi milenial umumnya adalah orang-orang yang kreatif, informatif, mempunyai passion, dan produktif.[2] Namun, tanpa disadari atau tidak, ekspansi teknologi digital telah membuat perilaku generasi muda di era 4.0 sangat berbeda dengan era sebelumnya, karena teknologi digital dan internet sangat memanjakan mereka dengan segala kemudahannya, sehingga mereka cenderung berpikir dan bertindak dengan instan, cepat, efisen, dan inovatif.[3]
Maka tidak jarang berbagai perubahan perilaku keagamaan dilakukan oleh generasi milenial, antara lain:
Pertama, hibridasi identitas. Salah satu ciri dominan dari generasi milenial saat ini adalah hibridasi identitas, yaitu sebuah percabangan dari perilaku keagamaan yang tidak linear. Hal tersebut disebabkan karena adanya pengalaman interaksi sosial yang dialami dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Kedua, hilangnya pemahaman konsep keislaman. Adanya spesialisasi di bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang mengakibatkan nilai-nilai spiritualitas Islam menjadi dikesampingkan, dan lebih mengandalkan akal pikiran.[4]
Ketiga, kesalehan milenial. Dulu pemahaman keagamaan didapat dari orangtua, pembelajaran di masjid, dan guru sekolah. Namun sekarang, terdapat realitas baru dengan menggunakan media smartphone yang dapat memberikan refrensi dalam versi elektronik yang dapat diakses melalui YouTube, Instagram, Twitter, Facebook, dll. sebagai upaya pemahaman keagamaan.
Keempat, bacaan Islamis populer. Pemanfaatan media elektronik sebagai jalan memahami agama sangat diminati milenial karena mereka lebih suka mengakses pengetahuan keislaman yang ditulis oleh tokoh-tokoh inspiratif muda yang kemudian dituangkan dalam bentuk novel, komik, meme dan video yang dapat diakses dengan mudah di sosial media.

Tokoh-tokoh inspiratif muda ini memang dinilai sangat berpengaruh dalam upaya pemahaman keagamaan bagi generasi milenial, karena tokoh-tokoh ini berperan bukan sebagai guru namun sebagai teman dari generasi milenial. Selain itu, tokoh-tokoh ini juga dapat memberikan ilmu sesuai zaman dan karakteristik generasi milenial saat ini.

Thoriqoh
Fenomena keadaan masyarakat muslim khususnya generasi milenial yang sedemikian rupa semakin membutuhkan bimbingan dan arahan dalam memahami Islam secara kaffah. Para ulama khususnya di bidang tasawuf merasa terpanggil untuk mengadirkan kembali konsep thoriqoh untuk menangani fenomena tersebut.

Thoriqoh menurut QS. an-Nisa ayat 168-169 adalah jalan Allah yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, atau jalan sesat yang menuju kekufuran.[5] Menurut Abbas Husayn Basri thoriqoh adalah suatu jalan yang ditempuh berdasarkan syariat Allah dan peraturannya, mengikuti perintah Rasul saw. yang memberikan petunjuk kebenaran.[6]

Dalam kalangan dunia tasawuf, thoriqoh berarti sebuah sistem yang bertujuan untuk mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji serta memperbanyak dzikir kepada Allah agar jiwa senantiasa terhubung dengan-Nya hingga mencapai maqam ma’rifah.[7] Artinya dalam praktik thoriqoh terdapat proses pengayaan pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai luhur dan juga mempunyai peranan yang cukup besar di dalam mewujudkan sebuah ‘revolusi spiritual’ di masyarakat.[8] Inti dalam ajaran thoriqoh adalah tazkiyah an nafs, mengingat hanya jiwa yang sucilah yang bisa berjumpa dengan Allah swt, sehingga pensucian jiwa adalah output dari seseorang bertasawuf (bertarekat).[9]

Urgensi Thoriqoh dalam Penanaman Karakter Spritualitas Generasi Milenial
Thoriqoh dinilai sebagai konsep yang berpengaruh dalam penyempurnaan batiniah generasi muda kepada Tuhan. Karena pertama, thoriqoh adalah basis yang suci pada setiap manusia. Thoriqoh dapat melandasi segala kegiatan manusia, baik agama, sosial, politik, dan budaya.

Kedua, thoriqoh adalah  alat pengendali dan pengontrol manusia, agar dimensi spiritualitas tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah pada penurunan moral, sehingga thoriqoh akan mengantarkan manusia pada tercapainya kesempurnaan moral.

Ketiga, thoriqoh berperan dalam menyelamatkan manusia dari kondisi kebimbangan akibat hilangnya nilai-nilai spiritualitas.

Keempat, thoriqoh sebagai penegasan bahwa bahwa inti dari hubungan manusia kepada Allah terletak dalam hati masing-masing, bukan hanya ekspresi ibadah semata. Sehingga jika hubungan hati manusia dengan Tuhan hilang, maka aspek-aspek ajaran Islam yang lain juga turut hilang.[10]

[1] Gunawan, “Mencari Peluang Di Era Revolusi Industri 4.0 Untuk Melalui Era Disrupsi 4.0” (Jakarta: Queensher Publisher, 2019), 11.
[2] Badan Pusat Statistik, Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia (Jakarta: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018).
[3]Wandi Ardiansah, “Person in Environment Remaja Pada Era Revolusi Industri 4.0,” Jurnal Pekerjaan Sosial 2, no. 1 (July 2019): 51.
[4] Muhammad Nabil, “Membumikan Tasawuf Di Tengah Krisis Spiritualitas Manusia Abad Modern Pandangan Sayyed Hossein Nasr,” Jurnal Esoterik 4, no. 2 (2018): 356.
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2. (Jakarta: Lentera Hati, 2002).
[6] Lindung Hidayat Siregar, “Sejarah Tarekat Dan Dinamika Sosial,” Jurnal Miqot 33, no. 2 (July 2009): 173.
[7] Mustafa Zahri, “Kunci Memahami Ilmu Tasawuf” (Surabaya: Bina Ilmu, 1995), 57.
[8] Said Aqil Siraj, “Dialog Tasawuf Kiai Said Akidah Tasawuf Dan Relasi Antar Umat Beragama” (Surabaya: Khalista, 2012), 76–77.
[9] Al Ghazali, “Raudhah Ath Thalibin Wa Umdat as Salikin” (Beirut: Darul Qalam, n.d.), 26.
[10] Ibid, 162.

Penulis : Risma Savhira D.L
Editor : Ali Akbar