TAREKAT DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Munculnya tarekat sebagai pendidikan agama Islam alternatif ditengah kehidupan masyarakat telah tercatat sejarah cukup berhasil dalam menanamkan nilai-nilai keislaman bagi para pengikutnya. Khususnya di indonesia yang disebutkan sebagai negara akan aliran tarekat terbanyak didunia, sebagaimana diungkapkan ketua umum PBNU K.H Said Aqil Siroj yang menyatakan bahwa Indonesia menampung banyak aliran tarikat. Bahkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah terbanyak aliran tarekat di dunia.

Sementara dalam defenisi Tarekat berasal dari bahasa Arab Tariqah yang berarti jalan, sistem, metode, dan madhhab (aliran) Kemudian kalimat tersebut menjadi kalimat baku dalam bahasa indonesia. Mulyadi Katanegara mengartikan dalam konteks Timur Tengah, tarekat adalah jalan kecil (jalan pintas) menuju wadi (oase) dan sulit dilalui karena terkadang sudah tertutupi pasir. Dari ungkapan Mulyadi ini tersirat ma’na bahwa tarekat tidak banyak diketahui orang, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya, sehingga wajar saja kalau tarekat dipandang amaliah yang illegal legitimasinya. Dalam istilah tasawuf, tarekat merupakan suatu metode tertentu yang ditempuh seseorang secara kontinyu untuk membersihkan jiwanya dengan mengikuti jalur dan tahapan-tahapan dalam upayanya mendekatkan diri kepeda Allah Swt.

Esensi pendidikan thoriqoh/ tarekat ialah proses pembersihan jiwa dari akhlak tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, atau dapat diartikan bahwa tarekat ialah mengamalkan ajaran islam secara totalitas, baik lahir maupun batin demi meraih ridla Allah SWT atau wushul pada Allah SWT. Dengan  demikian, thoriqoh/ tarekat dalam perspektif ini dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya, menjadi pengajar ilmu agama, memberi petunjuk pada orang tentang cara-cara beribadah atau tentang akhlak mulia, dan lain sebagainya.

Prinsip fundamental dalam wacana tasawuf, atau seorang yang ingin mengembangkan pendakian spritualnya (baca: salik atau murid), ia harus memiliki seorang pemandu atau pembimbing yang disebut dengan istilah Guru Murshid. Sebagaimana ungkapan yang cukup mashur dalam wacana tasawuf, yaitu, “Siapa yang tidak memiliki guru pembimbing, maka setanlah yang akan menjadi gurunya”. Sehingga ini sangat sejalan dengan metode Pendidikan yang dalam istilah Pendidikan islam disebut sebagai “tarbiyah”.

Istilah tarbiyah berakar pada tiga kata, raba yarbu yang berarti bertambah dan tumbuh, yang kedua rabiya yarba yang berarti tumbuh dan berkembang, yang ketiga rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Kata al rabb juga berasal dari kata tarbiyah dan berarti mengantarkan pada sesuatu kesempurnaannya secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur. Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan agama islam disamping ilmu pengetahuan tentang agama Islam juga diarahkan pembentukan pribadi yang sesuai ajaran Islam dalam proses belajar mengajar pendidikan Islam mencakup aspek pengetahuan dan aspek keterampilan sehingga anak didik memiliki pengetahuan tentang Islam sekaligus mampu untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan alam sekitarnya.

Mengenai sikap murid kepada guru ini, al-zarnuji dengan mengutip kata-kata Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ana abdu man allamani harfan wahidan” (Aku adalah hamba orang yang telah mengajari saya wuruf satu). Selanjutnya dikembangkan etika hubungan yang harus dilaksanakan murid, antara lain:
(1) dengan tidak berjalan di depannya, duduk ditempatnya,
(2) tidak memulai mengajak bicara kecuali atas perkenannya,
(3) berbicara macam-macam di depannya,
(4) tidak menanyakan hal-hal yang membosankannya,
(5) tidak boleh mengetuk pintunya ketika guru belum datang dan
(6) cukuplah dengan sabar menanti di luar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

Dengan etika tersebut, tampak bahwa pola pembelajaran yang di-kembangkan menjadi teacher centred bukan student centred.

Konteks terekat dalam perspektif Pendidikan penulis sangat merekomendasikan metode pembelajaran yang digunakan oleh pengamal tarekat antara murid dan guru sehingga ilmu yang murid terima dapat diamalkan secara menyeluruh. Selain itu dalam kehidupan sosisal murid sebagai generasi penerus bangsa dapat berakhlak mulia ditengah kodisi krisis kemanusiaan dan krisis akhlak sehingga kedepan negara dapat melahirkan generasi-generasi yang mampu menyelesaikan persoalan dinamika bangsa dengan menggunakan akhlak. Penulis berkeyakinan, dengan akhlak negara akan terbebas dari korupsi dan tingkahlaku yang merugikan orang lain serta diri sendiri, ini telah sesuai dengan tujuan dari Pendidikan Nasional itu sendiri.

Penulis : Muhammad Ikram S.Pd, M.Pd
Editor : Ali Akbar