Pemikiran Tasawuf Anregurutta’ Allahu Yarham K.H. Mustamin Arsyad

Anregurutta’ merupakan gelar Maha Guru yang Kharismatik dalam perspektif Bugis. Anregurutta’ Allahu Yarham KH. Mustamin Arsyad (beliau sering dipanggil Pak Kyai) Merupakan salah satu ulama Kharismatik yang ada di Sulawesi Selatan. Pada usia 9 tahun sudah menghafal 30 Juz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Balang Lompo Pangkep, Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh KH. Abd Mun’im Lempangan.

Pak Kyai menyelesaikan pendidikan formalnya dari Ibtida’iyah sampai Aliyah (PGA 6 Tahun) di Pesantren DDI serumah dengan Allahu Yarham Anregurutta KH. Ambo Dalle selama 3 tahun. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Mesir S1, S2 dan S3 di Universitas Al-Azhar Cairo pada jurusan Tafsir wa Ulum Al-Qur’an dengan prestasi Summa Cumlaude.
Selama di Mesir, Pak Kyai banyak Takhassus kepada ulama-ulama mesir, baik formal maupun non formal, seperti Filsafat Islam, Ushul Fiqhi, Hadis dan Ulumul Hadis, Ilmu al- Balaghah, Ilmu Tashawuf. Di perjalanan Takhassus pak kyai diwariskan Ajaran Tarekat sebagai Mursyid Tarekat al-Syadziliyah yang diwariskan oleh al-Imam al-Syaikh Abdul Halim Mahmud Radhiyallahu ‘Anhu (mantan Grand syekh al-Azhar Mesir).

Pak Kyai memiliki pemikiran moderat dalam pengamalan tasawuf, sebagai bukti dari beberapa karya dan murid-murid yang lahir dari beliau. Salah satu bukunya Islam Moderat (Refleksi Pengamalan Ajaran Tasawuf) berjumlah 319 halaman, garis besar buku tersebut berisi Sejarah Perkembangan Tasawuf, Perpaduan Tasawuf Nazhari dengan Tasawuf Amali, Islam Radikal Versus Islam Moderat: Membaca Pemikiran Kelompok Anti Tasawuf dan Pengamal Tasawuf.

Hal tersebut menunjukan ajaran dan gagasan Pak Kyai bahwa Islam sebagaimana difahami para ulama sufi merupakan sumber kerahmatan bagi alam semesta, berangkat dari:

1. QS. Al-Anbiya’107:
وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ  ١٠٧
Terjemahnya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

2. QS. Al-Haj ayat 78:
وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ
Terjemahnya: Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (menyulutkan).

3. QS. Al-Baqarah 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ
Terjemahnya: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Islam itu ajaran rahmat, jalan washatiyah (moderat), penuh keteladan yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan jalan-jalan sunyi seperti Tasawuf akan mewujudkan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang mulia dan dimuliakan. Kemuliaan manusia ditandai dengan adanya potensi berfikir dan beriktiyar untuk menempuh jalan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Di sisi lain ajaran tasawuf sering disalah pahami, bahkan ada yang mengklaim sebagai ajaran sesat, terutama pada golongan ekstrem dan radikal. Dengan mengeluarkan statement bahwa ajaran tasawuf itu ajaran sesat setan (thagut). Pemikiran-pemikiran seperti itu akan menimbulkan gejolak sosial bahkan akan menimbulkan konflik horizontal.
Melalui pemahaman pak Kyai, sebagai anugrah bahwa Islam itu perlu dipahami secara proporsional tentang apa itu tasawuf, dan bagaimana pengamalannya sebagai salah satu penafsiran dan pengalaman ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah, secara aspek historis, maupun subtansi.

Dalam sebuah syair yang dikumandangkan oleh Abu Madyan Al-Ghauts artinya:

Wahai Tuhan yang Maha Tinggi, yang menyaksikan apa yang gaib dan apa yang tersimpan di perut bumi.
Gelapnya malam tersingkap dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Mu.
Engkaulah penyelamat bagi orang yang terimpit berbagai jalan hidupnya.
Engkaulah petunjuk jalan bagi orang-orang yang kehilangan arah dan tersesat.
Kami menuju kepada-Mu dengan penuh harapan yang kuat untuk mengenalmu.
Semua berdo’a dengan menggemuruh dan beribtihal kepada-Mu.
Jika Kamu memaafkan maka Kamu pemilik Anugerah dan kemuliaan tanpa batas.
Jika kamu mengadili maka kamu Hakim yang bijak dan adil.

Syair tersebut sebagai salah satu bukti yang menginspirasi Pak Kyai mengkaji Al-Qur’an dan al-Sunnah dengan pendekatan Tasawuf, di kalangan mufasir dengan istilah al-Tafsir ‘Isyari atau Tafsir Sufi. Dari penelusuran Pak Kyai pemahaman ‘Isyari tidak sama sekali keluar dari koridor Al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan banyak menyelami subtansi Al-Qur’an dan al-Sunnah pada pamahaman ‘Isyari, akan melahirkan generasi yang mahami al-Qur’an dan al-Sunnah secara maknawi dan hakiki. Pemikiran seperti diatas dengan bimbingan mursyid akan melahirkan generasi yang mengamalkan Islam secara Rahmatan lil Alamin.

Penulis : Muhammad Asriady
Editor : Ali Akbar