Fenomena Akhlaq

Seiring berkembangnya zaman, pemuda-pemudi kian berkembang sangat pesat. Jiwa-jiwa idealis, kritis, dan inovatif selalu menjadi motif untuk menjadi sarana meningkatkan kualitas diri masing-masing. Terlebih mereka yang telah menduduki bangku perguruan tinggi, tidak asing lagi bagi mereka untuk melakukan perubahan-perubahan pada diri sendiri maupun lingkungan mereka. Pemahaman liberal (kebebasan) telah menjadi darah daging bagi setiap gerakan mereka. Berdasarkan pandangan bahwa demokrasi merupakan suatu wadah yang mana menjadi ladang untuk bebas berpendapat tanpa memahami makna suatu batas. Hal-hal seperti inilah yang dapat melahirkan sebuah persinggungan antar sesama meskipun terlahir di tanah air yang sama. Sebuah persinggungan yang terus berkepanjangan dikhawatirkan menghasilkan dampak bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang ada di sebuah tatanan masyarakat.

Semakin lama semakin banyak kita menemukan pemuda-pemudi yang memiliki pola berfikir liberal di lingkungan kita. Pola berfikir demikian lambat laun dapat menciptakan sifat yang pragmatis. Sifat yang cenderung mengedepankan ego diri masing-masing untuk mencapai sebuah tujuan dengan praktis dan tanpa melalui proses yang panjang. Perilaku-perilaku seperti inilah yang kebanyakan mengutamakan akal dan mengesampingkan hati. Dengan begitu, hati dapat menjadi kering karena kekurangan asupan ruhaniyyah dan memanifestasikan perilaku (Akhlaq) yang tidak sesuai dengan bisikan hati nurani. Kita sebagai umat muslim sudah seyogyanya untuk memperbaiki akhlaq diri kita sendiri. Karena sesuai dengan alasan diutusnya Nabi Muhammad S.A.W.

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (H.R. Bukhori)

Hadits tersebut telah jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W. diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Dan kita sudah seharusnya berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki diri kita agar kita dapat memiliki Akhlaq yang terpuji (Akhlaq Mahmudah).

Akhlaq Mulia    
Akhlaq mulia adalah sebuah anugerah dari Allah yang diberikan kepada hambanya yang terpilih. Seorang hamba yang dikehendaki Allah untuk menjadi hamba yang baik, maka Allah akan menganugerahkan baginya akhlaq mulia. Dan sebaliknya, jika seorang hamba dikehendaki menjadi orang yang tidak baik, maka Allah berikan baginya Akhlaq yang tidak baik. Etika baik, budi pekerti luhur, atau akhlaq terpuji memang bisa dibentuk oleh lingkungan. Namun, akhlaq mulia bukan semata karena dibentuk oleh lingkungan. Karena segala sesuatu tidak bisa diperoleh dengan instan dan tanpa berusaha.

“Sesungguhnya akhlaq ini dari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki baik maka Allah memberinya Akhlaq yang mulia dan barang siapa yang Allah kehendaki buruk maka Allah memberinya Akhlaq yang buruk”. (Faydhul Qodir, juz 2, hlm. 694).

Pokok dan Sumber Akhlaq
Untuk membangun sesuatu, maka kita perlu memiliki sebuah pondasi agar sesuatu yang kita bangun dapat berdiri kokoh dan tidak mudah runtuh. Pondasi akhlaq berakar dari 4 hal, diantaranya ialah:
1.       Hikmah adalah keadaan jiwa yang dapat digunakan untuk menemukan kebenaran dari semua perbuatan sadar yang salah.
2.       Keberanian adalah kekuatan sifat kemarahan yang ditundukkan oleh akal dalam keputusan maju dan mundurnya sifat yang muncul dari keberanian.
3.       Menjaga kehormatan diri adalah mendidik kekuatan syahwat dengan didikan akal dan norma.
4.       Adil adalah keadaan jiwa dan kekuatannya yang menguasai kemarahan dan syahwat dan membawanya kepada kehendak hikmah (ilmu dan norma), dan mencegahnya menurut batas kebijaksanaan. (Ihya’ Ulum ad-Din, Juz 3, hlm. 49-50)

Dengan begitu, merupakan suatu kewajiban bagi kita sebagai umat muslim untuk terus berusaha memperbaiki akhlaq kita masing-masing. Diawali dengan mengatur ego diri kita agar tidak menjadi pemuda-pemudi yang liberal pragmatis. Meskipun kita telah menjadi pemuda-pemudi yang menyandang nama mahasiswa hingga gelar sarjana. Kita tidak boleh lupa bahwa yang pantas mendapat gelar “Maha” hanyalah Allah semata.

Penulis : Iros Mandala Robby Billah
Editor : Ali Akbar