Efektifitas Tasawwuf ; Pengingat Diri


Dengan jarak zaman yang sedemikian jauh dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tentu perbedaan perkembangan agama Islam pun sangat tegas terlihat kontras. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jika kita tidak belajar dan mengenal lebih dalam lagi tentang Islam, apa saja ilmu beserta makna di dalamnya, kita akan hilang arah dan kesulitan mengemban amanah hidup ini sebagai bagian dari umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun sayangnya, cukup banyak kaum muslim sekarang yang kurang memperhatikan hal tersebut. Dan terkadang bahkan mungkin sering, sesuatu yang jelas haramnya malah dianggap tradisi, dan yang jelas halalnya justru dianggap tabu di masa ini.
Sudah sangat jarang kita jumpai seorang penuntut ilmu yang niatnya adalah beribadah semata-mata karena Allah. Tidak perlu melihat orang sekitar, bahkan diri kita sendiri masih ada kemungkinan menuntut ilmu niatnya semata-mata adalah untuk mendapat gelar, penghargaan, dan/atau pengakuan diri. Bukan karena dan untuk beribadah. Sehingga efek yang sering terjadi adalah ilmu tersebut cepat hilang begitu saja, dengan tidak adanya niat untuk benar-benar mencari dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari serta didapatkan.

Keinginan untuk menuntut ilmu agama itu sendiri sudah baik, namun kurang sempurna rasanya jika kita kurang memperhatikan akhlak dan adab yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu. Sedangkan perbaikan akhlak dan adab sendiri sangatlah berperan penting dalam proses pengubahan diri kita menjadi muslim yang baik. Baik tidak harus sempurna, setidaknya kita ada kemauan dan usaha. Mengerahkan segala kemampuan untuk terus berproses mendekatkan diri, berada di jalan dan bimbingan-Nya, dan mengharap terus ridho serta kasih sayang-Nya.

Krisis Akhlak dan Adab Semakin Menjadi
Sejatinya, tangan kanan ialah untuk digunakan pada hal-hal yang baik. Seperti makan, minum, dan lain-lain. Namun di masa ini, tak jarang kita lihat kian banyak kaum muslim yang kurang memperhatikan hal-hal demikian. Minum air di dalam botol, misalnya. Tangan kanan digunakan untuk membuka tutup botol, lalu dengan tiba-tiba saja lupa dan terbiasa mengangkat botol memakai tangan kiri untuk meneguk air di dalamnya. Contoh lain, saat makan menggunakan sendok atau pisau makan dengan garpu. Sendok atau pisau makan digunakan untuk memotong makanan, dan hal itu dilakukan dengan tangan kanan. Sedang tangan kiri yang memegang garpu, digunakan untuk mengangkat makanan yang telah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Hal-hal kecil seperti inilah, yang kebanyakan umat muslim kurang sadar dan awas akannya. Padahal jelas ianya masuk ke dalam bab adab di kehidupan orang beriman. Dan diantara adab beramal adalah memulakannya dengan bacaan basmalah.

Adab adalah salah satu hal yang begitu dijunjung dalam agama. Dikatakan bahwasannya barangsiapa tidak memiliki adab, maka dia tidak memiliki ilmu. Ilmu yang luas tidak akan menjadi apa-apa tanpa memiliki adab. Salah satu karakteristik Islam adalah menjaga adab kepada Allah dan sesama makhluk. Jangan dulu membahas adab kepada makhluk, bahkan adab kepada Allah saja kadang masih berantakan. Mungkin kita sebenarnya sudah sadar betapa seringnya kita mengeluh akan sesuatu yang tak berjalan sesuai dengan keinginan dan rencana yang telah matang dibuat. Kemudian tanpa sengaja kita berpikir negatif dan lupa tentang Dia yang berhak atas segala sesuatu dalam hidup kita.

Kerap kali kita lupa akan hakikat kita sebagai manusia ciptaan-Nya, sebagai hamba yang seharusnya menghamba hanya pada-Nya. Lupa akan tujuan kita, lupa akan sekian banyak nikmat dari-Nya, lupa akan hal-hal positif lain yang seharusnya lebih kita perhatikan agar bisa senantiasa bersyukur dan ridho atas segala ketetapan yang pasti baik dari-Nya. Bahkan terkadang, sebab terlampau jauh dan lupa untuk beradab kepada Allah, tiba-tiba semakin menipislah rasa yakin dan percaya akan kuasa dan Maha Mampunya Allah. Betapa mengkhawatirkannya kondisi keimanan di saat-saat seperti itu.

Kita harus ingat bahwa selain setan, ada hawa nafsu yang juga musuh nyata dalam diri kita dan perlu terus dilatih serta dibiasakan agar ianya patuh pada kita, bukan kita yang malah patuh padanya. Dia pula yang bisa jadi faktor utama kita melupakan bahkan meremehkan adab-adab. Dan demikian, puasa menjadi salah satu bentuk ibadah yang bisa membiasakan kita pelan-pelan mendidik hawa nafsu tersebut. Semoga Allah senantiasa mencurahkan pertolongan dan taufik-Nya pada orang-orang beriman.

Pengingat Diri
Dari pelbagai permasalahan yang diuangkapkan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kita sangat membutuhkan pengingat diri. Pengingat dari mana kita berasal, untuk apa kita ada, dan ke mana kita akan kembali. Tak lagi bisa dielak bahwa kita butuh diingatkan untuk menjauhi larangan-larangan-Nya, menjadikan Al-Qurán dan Al-Hadits sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan, dan melaksanakan segala perintah Allah beserta Rasul-Nya.

Salah satu dari sekian macam pengingat diri adalah bertafakur—merenung. Membiasakan diri untuk tafakur bisa membantu kita untuk senantiasa tenang dan damai dalam meniti setiap langkah kehidupan yang sejatinya kesemuanya adalah pendidikan langsung dari Allah kepada tiap-tiap hamba-Nya. Pemeliharaan langsung dari Allah agar kita bisa terus maju dan semakin paham makna-makna kehidupan yang sebenarnya begitu mudah. Dengan tafakur, kita akan sadar untuk apa Allah menciptakan kita. Kita akan lebih bisa merasakan rahmat-Nya, pelan-pelan akan hilang kebiasaan-kebiasaan buruk pada diri dan hati kita.

Pengingat diri jika dibahas lebih lanjut, ada beragam macamnya. Mulai dari bertafakur, berada di perkumpulan yang baik, membaca buku bacaan yang baik, menghadiri majelis ilmu, hingga mengingat sendiri sesuatu yang pasti akan menghampiri setiap jiwa—kematian. Bagi seorang muslim, sudah selayaknya tak merasa asing lagi untuk menjadikan hal-hal tersebut sebagai kelaziman atau bahkan rutinitas yang merupakan prioritas. Pengingat-pengingat seperti itulah yang mampu menyadarkan kembali diri kita bahwa sebenarnya hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita hidup di dunia ini, ada aturan dari Sang Penguasa, Al-Khaliq. Kita hidup di dunia ini, hanyalah untuk mengumpulkan amal sebagai bekal menuju akhirat nanti. Dan segalanya adalah amanah dari-Nya yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Penulis : A.N. Wachidah
Editor : Ali Akbar