Efektifitas Tasawwuf ; Kemurnian Ilmu & Meraih Guru bersanad Rosulillah SAW

Tasawuf mengajarkan kita beragama dengan menggunakan rasa, mengajarkan kita untuk senantiasa merasa diawasi dan dibersamai oleh Allah. Dikatakan bahwa ilmu tasawuf itu seluruhnya seputar adab. Setiap waktu dan keadaan memiliki adabnya. Dan setiap kedudukan juga memiliki adab. Imam Ghazali sendiri dalam Ayyuhal Waladnya menyebutkan istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan manusia sebagai dua pilar tasawuf.

Dan Imam Junaid Al-Baghdadi dalam menerangkan tujuan sufi mengatakan, “Kami tidak mengambil tasawuf ini dari pikiran dan pendapat orang, tetapi diambil dari menahan lapar dan meninggalkan kecintaan kepada dunia, meninggalkan kebiasaan kami sehari-hari dan mengikuti segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.”

Tidak jarang kita dengar bahwa ulama dalam bidang ilmu tasawuf juga merupakan ahli dalam bidang ilmu agama lainnya. Imam Junaid Al-Baghdadi, misalnya. Beliau tidak hanya seorang imam sufi di zamannya, tetapi juga ahli fiqih. Beliau seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Beliau adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Imam Malik pernah berkata, “Barangsiapa bersyariah saja tanpa tasawuf niscaya ia akan berlaku fasik (tidak bermoral) dan barangsiapa yang bertasawuf saja tanpa bersyariah niscaya ia berlaku zindik (penyeleweng agama). Dan barangsiapa melakukan kedua-duanya maka itulah golongan Islam yang hakiki.”

Mengenai ilmu, sebenarnya ilmu apapun mampu membuat kita merasakan keagungan dan kebesaran Allah. Dan jika berkaitan dengan ilmu agama Islam sendiri, sangat jelas harus diketahui bagaimana dan darimana asal-usul ilmu tersebut. Sebagaimana sering kita dengar maqolah ulama yang mengatakan bahwa siapa yang belajar ilmu tanpa ada guru, maka gurunya adalah setan.

Maka penting kita mencari guru, namun lebih penting lagi untuk memilih guru di zaman seperti ini. Di mana fitnah bertebaran dan maksiat merajalela. Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asyari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, menyatakan dalam Risalah fi al-‘Aqaid beliau bahwa untuk memperoleh keselamatan dunia akhirat orang harus memilih guru yang memenuhi empat (4) syarat, yaitu:
1. Mengetahui sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan para Rasul/Nabi-Nya, sekaligus dalil naqli maupun argumentasi rasionalnya, sehingga ketika murid mengalami keraguan dan gangguan akidah, ia dapat meluruskannya.

2. Berakidah sesuai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

3. Mengetahui:
(a) berbagai hukum Allah yang berkaitan dengan lahiriah manusia seperti najis hadats dan semisalnya;
(b) berbagai hukum yang berkaitan dengan batiniahnya seperti syukur, tawakal dan semisalnya; serta
(c) berbagai detail bahaya yang merusak amal ibadah manusia seperti riya’ (pamer), ujub (bangga diri), dan semisalnya.

4. Mengamalkan berbagai hukum Allah yang telah diketahuinya dan tidak melakukan larangan-larangan yang mencederai keadilannya. Sebab, guru yang benar-benar dapat diikuti adalah guru yang adil.

Tanpa guru yang benar dan jelas sanad keilmuannya, kita akan kesulitan mempertanggung-jawabkan keilmuan kita. Seorang ulama bernama Abdullah bin Al-Mubarak menyebutkan, “Isnad adalah sebagian dari agama. Tanpa adanya sanad, maka siapa saja akan berbicara apa saja yang ia kehendaki.”. Salah satu pemuka tabiin, Muhammad bin Sirin menyatakan, “Sungguh ilmu ini (yaitu tentang hadits dan sanadnya) adalah bagian dari agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ajaran agama.”

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita pahami bersama betapa pentingnya tasawuf untuk peradaban Islam yang lebih maju. Agar kita tidak hanya fokus pada ibadah tanpa memahami makna dan tujuan beribadah itu sendiri. Agar kita bukan beribadah karena nafsu belaka. Agar kita menghamba murni karena ingin mengharap ridho-Nya semata. Tidak lagi bingung menentukan arah dan tujuan hidup. Tidak lagi resah dan gelisah tentang apa yang sebenarnya ingin didapatkan. Tidak ada lagi ketakutan, kecuali takut kepada Allah, yang membuat kita semakin ingin mendekat kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa memberi bimbingan dan pertolongan kepada umat Islam di manapun berada. Amin.

Penulis : A.N. Wachidah
Editor : Ali Akbar