Aqidatul Awam ; Kitab Tauhid Populer

Kitab ini dikarang oleh Sayyid Ahmad Al-Marzuki, seorang mufti asal Makkah yang lahir pada tahun 1205 H atau 1791 M

TAUHID merupakan salah satu pokok dalam tradisi keislaman. Tauhid menjadi dasar bagi seluruh bangunan ajaran dalam Islam. Memeluk agama Islam adalah meyakini segala fundamen yang tercakup di dalam fan ilmu tauhid: mulai dari keesaan Allah swt; para malaikat; kitab-kitab Allah; Nabi dan Rasul; hari akhir; serta qadha dan qadar.
Semua hal ini dibahas secara utuh-seluruh dalam fan ilmu tauhid. Sesuai dengan nomenklatur yang ditetapkan, tauhid artinya mengesakan Allah swt. Begitulah tujuan kita belajar ilmu tauhid. Titik tekan ilmu ini adalah pengenalan dan pemantapan hati untuk mengesakan Allah, sepaket dengan lima rukun lain sehingga genap menjadi enam rukun iman.

Dalam konteks ini masyarakat awam tentu saja membutuhkan pedoman sederhana untuk memahami poin-poin penting dalam keimanan. Dan kebutuhan ini terjawab dalam kitab kecil yang berjuluk Aqidah al-Awam. Sesuai namanya, kitab ini merangkum kajian akidah dan ya, ditujukan kepada masyarakat awam.

Kitab ini dikarang oleh Sayyid Ahmad Al-Marzuki, seorang mufti asal Makkah yang lahir pada tahun 1205 H atau 1791 M. Kitab ini berbentuk nazam atau syair yang mudah dibaca dengan lagu sehingga mudah dihafalkan, terutama bagi anak-anak. Tak heran kitab ini menjadi kitab wajib di banyak Madrasah Diniyah kelas Awwaliyah dan santri pemula Pondok Pesantren. Santri biasanya diwajibkan menghafalkan dan menyetorkan hafalan kitab ini.

Aqidatul Awam merangkum materi-materi primer dalam ilmu tauhid, mulai tentang lima puluh aqaid yang wajib diketahui, yakni: 20 sifat wajib bagi Allah swt.; 20 sifat mustahil bagi Allah swt (tidak disebutkan secara eksplisit); satu sifat jaiz bagi Allah swt; empat sifat wajib bagi para Nabi; empat  sifat mustahil bagi para Nabi (tidak disebutkan secara eksplisit); dan 1 sifat jaiz bagi Nabi.

Kitab ini kemudian merinci identitas 25 Nabi dan Rasul. Lantas mengenalkan karakter dan identitas para malaikat. Setelah itu, ia merinci empat buah kitab beserta siapa saja penerimanya. Lalu mengisahkan peristiwa hari akhir. Pembahasan ini disambung dengan nasab dan kisah hidup Nabi Muhammad saw beserta putra/puteri dan para istri. Kitab ini juga merinci beberapa sahabat yang sekaligus menjadi paman dan bibi Nabi.
Peristiwa Isra Mikraj menjadi pembahasan selanjutnya yang kemudian disambung dengan doa penulis dan penyebutan identitas kitab: nama penulis, kapan ditulis, jumlah nazam, dan judul kitab. Kitab ini agak berbeda dengan kitab lain di mana judul dan identitas justru menjadi penutup sementara lazimnya kitab mencantumkan di halaman depan.

Benar-Benar Risalah
Kitab Aqidatul Awam ini benar-benar kecil. Ia hanya terdiri atas 57 (lima puluh tujuh) syair. Tidak lebih. Jika ditulis berurutan, ia hanya membutuhkan empat halaman buku tulis ukuran A5. Kalau mengikuti standar Unesco, tentu saja naskah ini tidak akan bisa disebut sebagai buku karena kurang dari 40 halaman.

Saking kecilnya naskah matan nazan ini, penerbit harus mengakalinya dengan menulis kitab ini dengan jarak antar bait yang sangat renggang. Tentu saja hal ini bermanfaat bagi santri pemula untuk memberikan catatan makna gandul. Kalau antar bait ditulis rapat, maka ia akan dimasukkan ke dalam satu volume kitab-kitab yang biasa dihafalkan: Alfiyah, Imrithi, dlst lalu dicetak dalam wujud kitab saku.

Adapun edisi cetak yang paling populer adalah versi terjemah bahasa Jawa dengan aksara Pegon yang diterjemahkan oleh KH. Zahwan Anwar, Pengasuh PP Darul Huda, Ngemplak, Kajen, Pati. Kitab ini pun hanya setebal 20 halaman. Tetapi jusru terjemah pegon inilah yang mempopulerkan Aqidatul Awam. Saking populernya kitab ini, santri pemula atau siswa Madrasah Diniyah Awwaliyah terkadang memahami kitab Aqidatul Awam itu ya berbahasa Jawa Pegon, padahal yang ia pegang adalah terjemahnya.

Sebagai sebuah kitab yang populer, kitab ini tentu saja mendapatkan sambutan positif dari khalayak. Jika ukuran popularitas artikel di jurnal adalah jumlah sitasi, popularitas kitab matan adalah seberapa banyak kitab tersebut diberi syarah. Nazam Aqidatul Awam sendiri disyarah oleh beberapa ulama.

Yang pertama oleh Sayyid Ahmad Al-Marzuqi sendiri dengan judul Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Kemudian Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani tak ketinggalan turut menuliskan syarahnya dengan judul Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Ada juga Tashil al-Maram li Daarisil Aqidatil Awam karya Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy.

Yang belakangan banyak dikaji adalah Jala’u al-Afham Syarh Aqidatul Awam. Kitab ini merupakan kumpulan penjelasan Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Makki Al-Hasani atas kitab Aqidatul Awam. Penjelasan tersebut kemudian dikumpulkan oleh KH. M Ihya Ulumuddin, mudir PP Nurul Haramain Pujon, Malang, Jawa TImur.
Semoga kita mendapatkan keberkahan. Amin.

Penulis : Muhammad Nashrudin
Editor : Ali Akbar