Sabarrr…

Lha nggeh gus, kabeh wong ngongkon sabar. Gak iso ngomong liyane ta?” kata seorang putra kiai kepada saya yang baru saja ditinggal wafat ayahnya.

“Njih keranten mboten wonten kalimat liyo kadhos e gus, ujarku menenangkan.

“injih kadhos e,” balas dia dengan berusaha tetap khusnudzon.

Saya beberapa kali menemui seorang gus yang ditinggal wafat ayahnya, yang pastinya kiai atau hingga wafat masih dipanggil gus meski sebenarnya sudah maqam kiai, dan ia masih berusia terlalu muda untuk menanggung beban pesantren atau jama’ah ayahnya. Alih generasi dalam kultur ini tak mudah memang. Terkadang meski sang ayah telah berusia sepuh  ketika wafat, rasa kehilangan dan beban melanjutkan perjuangan ini tak juga jadi mudah. Beberapa malah lebih berat karena kefiguran kiai sepuh yang wafat lebih mengguncang psikologis masyarakat dari kiai yang lebih muda. Apapun itu, melanjutkan perjuangan para kiai yang telah berpulang ini akan berujung pada pembandingan. Menjadi tak sebaik figur yang telah berpulang akan mengundang stigma negatif, menjadi selevel atau bahkan lebih baik tak juga sepi dari mencari kesalahan dan kekurangan dibanding generasi sebelumnya. Dan satu kata yang akan selalu muncul ketika para gus ini berhadapan dengan situasi seperti ini, sabar.

“lha nggih, janjane sabar niku nopo seh koq dibolanbaleni ae kaleh tiyang-tiyang niki,” tukas sang gus bercanda sambil memendam kejengkelan karena seolah kata itu mampu menghilangkan kesedihan kehilangannya.

Dan saya diam, tak menimpalinya dengan macak ndalil. Saya hanya tertawa dan menguatkan tema pembicaraan akan betapa konyolnya orang-orang yang masih saja menggunakan diksi sabar meski mereka sadar bahwa diksi tersebut akan digunakan oleh lainnya. Iya, sabar. Sabar untuk terus mendengarkannya berulang-ulang.

Sambil tetap menjadi teman bicara dan bercanda yang baik, Saya mencoba mengingat-ngingat akan dawuh Syaikh Ibn Atho’ yang dikutip oleh Syaikh Hisyam Kamil dalam kitabnya Tuhfah al-Kirom yang mensyarah al-Arba’in al-Nawawiyah. Beliau berkata bahwa sabar adalah al-wuquf ma’a al-bala’ bi husni al-adab, yang definisi mudahnya adalah menghadapi cobaan dengan adab terbaik. Ini kalimat serius. Maksud saya, sabar ini gak mudah. Bayangkan, sosok yang ada di hadapan saya ini adalah bagian dari generasi millennials, generasi yang masih intens bermain Mobile Legend, PUBG, atau apapun namanya dari permainan arek nom-noman saiki yang serba virtual, dan tiba-tiba karena keadaan harus berhadapan dengan yang nyata yang penuh beban tanggung jawab dan pembandingan yang distigmakan sebagai urusan e ong tuwek-tuwek. Ini berat. Lompatannya terlalu jauh.

Definisi Syaikh Ibn Atho’ “al-wuquf ma’a al-bala’” ini seperti ada angin topan kita harus mandeg, harus wuquf. Piye jal? Tentu ini gambaran fatalis. Tapi yang ingin Saya sampaikan adalah, menghadapi cobaan bagi konteks lingkungan generasi yang sangat millennials ini berat, bagi konteks yang tidak terlalu mendukung prilaku millennials aja berat apalagi beliaunya ini yang hidup di kota terbesar nomer dua di Indonesia.

Usia-usia yang biasanya menghadapi permasalahan dengan melarikan diri atau memilih bersikap apatis, dan sang gus ini diminta untuk bersabar, untuk menghadapi. Ini luar biasa berat. Kemampuan untuk “al-wuquf ma’a al-bala’” untuk bisa dilaksanakan memiliki syarat dasar ketersambungan hati yang tak tergoyahkan kepada Allah. Bisa membayangkan? Millennials yang mampu ber-tajalli. Bukan lagi takhalli lalu tahalli, tapi tajalli. Belum lagi bagian kedua dari dawuh Syaikh Ibn Atho’, “bi husni al-adab.” Menghadapi sudah susahnya minta ampun masih diharuskan dengan adab terbaik, dengan ekspresi yang semestinya yang sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama ini.  

Mengikuti konsep Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang lebih memilih terma ta’dib, alih-alih tarbiyah yang digunakan oleh banyak perguruan tinggi Islam di negara kita, maka hasil dari ta’dib (baca: pendidikan) adalah memiliki ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, dan kebenaran sebagai representasi insan kamil, yang menjadi pencapaian pendidikan perspektif Syed Naquib. Yunita Furi Aristyasari, dalam jurnal yang bisa saya download yang tidak akan repot-repot saya tuliskan di sini karena ini bukan karya ilmiah, berargumen bahwa tujuan Pendidikan perspektif Syed Naquib ini relevan dengan tujuan Pendidikan di Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kognitif peserta didik, namun juga aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Hampir mirip dengan penyusun konsepsi syukur al-Ghozali; ilmu, hal, dan amal.

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya gini, untuk mampu mengekspresikan adab terbaik ini sudah menjadi kerja Pendidikan itu sendiri. Ini sudah menjadi satu prodi, bahkan satu fakultas, yang untuk menjadi sosok yang mewakili separuh definisi sabar Syaikh Ibn Ato’ butuh kerja serius dan waktu yang tidak sebentar. Iki abhot! Saya tidak tahu apakah orang-orang yang berbelasungkawa pada sang gus ini dan lalu mengucap kata sabar menyadari betapa contradicts apa yang mereka ucapkan dengan konteks dimana sang gus ini berada. 

Ini tak ringan, dan pada yang pada tak ringan ini saya selalu teringat pada dawuh almarhum kakek saya RKH. Sholeh Qosim yang kurang lebihnya berbunyi, “kakek-kakekmu ini pejuang, dan berjuang itu tidak mudah. Kalau tidak mau berjuang, mati saja.”

Pada sang gus yang berada di hadapan saya ini, saya hanya bisa berdoa. Karena kanjeng Nabi dawuh “al-du’a silah al-mu’min”, doa itu adalah senjatanya orang beriman. Saya berdoa semoga sang gus ini dipermudah dalam mencapai maqam sabarnya, dipermudah dalam meneruskan perjuangan orang tuanya, dipermudah dalam menyambungkan hatinya kepada Allah SWT. Dan kepada ayah sang gus, juga setiap nama yang saya kutip dawuhnya dalam tulisan ini, sudi kiranya panjenengan semua menghadiahkan fatihah. Al-fatihah.

Ahmad Miftahul Haq, M.Pd.
Alumni Al-Falah Ploso Mojo Kediri, Sekretaris PW MATAN Jawa Timur, dan Ketua Yayasan Blawong Putra Delta.