Halal Bihalal

Mahmud Suyuti Katib ‘Am Jam’iyah Khalwatiyah Wasekum PP Matan

Halal Bihalal sebagai tradisi sekaligus seremoni keagamaan pasca Hari Raya Idul Fitri, acara khusus untuk saling memaafkan, momen menjalin silaturahim antara sesama, menguatkan ukhuwah Islamiah, persaudaraan yang didasarkan kepada nilai-nilai keislaman.

Acara maaf-memaafkan dan silaturahim sangat sesuai dengan hakikat Idul Fitri. Idul berarti kembali sedangkan fitri berarti kesucian. Setiap yang berIdul Fitri harus sadar bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan dan dengan kesadarannya itu, bersedia untuk memberi maaf dan menerima maaf agar kembali kepada fitrah, sehingga dirinya menjadi halal dalam arti boleh, sah dan tidak berdosa.

Terminologi halal (sesuatu yang dibolehkan) berasal dari kata halla atau halala sebagai lawan dari haram (sesuatu yang dilarang), sehingga ouput dari  acara Halal Bihalal terkesan adanya penghapusan dosa akibat perbuatan haram yang telah dilakukan.

Tadinya antara seseorang dengan selainnya saling melakukan kesalahan dan tentu menimbulkan dosa, maka dengan Halal Bihalal mereka saling memaafkan, mencairkan suasana yang tadinya keruh menjadi jernih, meluruskan benang kusut sehingga tercipta kedamaian.

Halal Bihalal merupakan produk-made in Indonesia yang pertama kali diprakarsai ulama kharismatik, KH Wahab Hasbullah salah seorang tokoh pendiri NU bersama KH Hasyim Asy’ari. Prakarsa ini didasari kaidah thalabul halal bi thariqin halal, untuk mencari penyelesaian masalah mewujudkan keharmonisan dengan cara saling memaafkan.

Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 dan sebagian elit politik elit politik saling berselisih bahkan bertengkar sehingga penting adanya saling memaafkan, apalagi karena saat itu mereka tidak mau duduk dalam satu forum untuk membicarakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, sementara masih ada sebagian kecil kelompok elit lain dengan politik di bawah tanah dengan misinya merongrong kedaulatan NKRI.

Puncaknya pada tahun 1948 bangsa ini dilanda gejala disintegrasi, terjadi pemberotakan DI/TII, PKI Madiun dan di mana-mana. Situasi dilematis politik yang demikian bertepatan dengan bulan Ramadan sehingga Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim nasional yang karena sebentar lagi Idul Fitri dirayakan.

Pasca Idul Fitri, Bung Karno mengundang seluruh elit politik dan mendudukkan dalam satu forum silaturahim yang dikemas dengan acara Halal Bihalal di Istana Negara. Akhirnya mereka duduk bersama dalam satu meja dan saling memaafkan, tidak lagi saling menyalahkan melainkan saling menghalalkan sebagai pelebur dosa dari kesalahan masa lalu, inilah inti dari Halal Bihalal.

Menjadilah Halal Bihalal sebagai tradisi rutin kenegaraan setiap selesai Idul Fitri atau di bulan Syawal ini dan diikuti oleh instansi-instansi kemudian secara cepat menyebar di tengah-tengah masyarakat, dilaksanakan di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke negara-negara tetangga terutama Brunei dan Malaysia.

Halal Bihalal memang tradisi tetapi menjadi bagian integral dari silaturahim yang memiliki dalil sesuai sabda Nabi saw, Laysa al-Muwashil mukafi walakin al-mutawashil ‘an tashil man qatha’ak, artinya bahwa bukanlah bersilaturahim orang yang hanya membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah menyambung yang apa putus (HR. Bukhari) dengan cara saling memaafkan seperti yang telah disebutkan tadi.

Dalil lain dalam Al Quran memerintahkan agar orang-orang orang muslim yang bertakwa jika selainnya melakukan kekeliruan terhadapnya seharusnya memaafkan, menahan marah, dan atau berbuat baik (QS. Ali Imran/3: 134). Al-Quran juga menganjurkan agar kita memiliki sifat pemaaf dan selalu berlapang dada (QS. al-Nur/24: 22).

Kaum sufi dalam menginterpretasikan firman Allah SWT tersebut, yakni wal ‘afiina anin nas, lebih kepada makna bahwa rugilah orang yang tidak pernah diberi maaf dan lebih rugi lagi orang yang tidak pernah memberi maaf, beruntunglah orang yang selalu diberi maaf, dan lebih beruntung lagi orang yang selalu memberi maaf.

Itulah sebabnya dalam perspektif sufistik ada maqam al-Afwu (memaafkan) yang secara literal berarti menghapus, karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya apabila masih ada tersisah bekas luka itu dalam hati dan bila masih tersisah dendam sedikitpun.

Implementasi tradisi saling memaafkan lazimnya ditandai dengan al-mushafahat (berjabat tangan) dari kata al-shafhu yang arti dasarnya adalah kelapangan, darinya dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman kemudian al-mushafat yakni saling berjabat tangan esensinya adalah saling melapangkan dada, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Di tengah merebaknya wabah virus corona, jabat tangan cukup dengan cara bersalaman secara lisan melalui telpon selurer, atau mengirim salam disertai ucapan permohonan maaf via Short Message Service (SMS), WhatsApp (WA), Facebook (FB), Twitter, dan medsos lainnya.

Halal Bihalal secara formal menjadi kegiatan utama yang seharusnya dipertahankan dan dikemas dalam acara besar-besaran sebagai syiar Islam, namun di masa covid-19 ini cukup melalui aplikasi zoom meeting tanpa dibatasi waktu dan ruang, sehingga keberkahan Ramadan sangat terasa, berbekas sepanjang masa kapanpun dan dimanapun.

Nabi SAW mengajarkan doa, Ya Allah sesungguhnya aku memiliki dosa pada-Mu, dosa terhadap makhluk dan hamba-Mu. Aku bermohon kepada-Mu agar Engkau mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan, amiiin ya Rabbal Alamin.Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.