Habib Husein Ja’far: Agama Selalu Punya Caranya untuk Hidup

Matan.or.id – Salah satu pelajaran dari adanya wabah corona menurut Habib Husein Ja’far Al Hadar menunjukkan bahwa agama punya seribu nyawa dan agama selalu punya caranya untuk hidup.

“Agama tidak akan mati sampai kapanpun. Mau ada corona, mau tidak ada corona, mau ada sekulerisasi, mau ada atheisme baru, dan lain sebagainya,” kata Habib Husein Ja’far, Kamis (28/05/2020) malam dalam acara Halal bi Halal (HBH) Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (MATAN).

Menurut Habib Husein Ja’far, agama yang selalu hidup itu adalah agama yang core utamanya adalah tasawuf.

“Karena itu yang memberi ruh agar agama terus hidup, karena tasawuf itu yang membuat agama memiliki kelenturan sedemikian rupa, yang dia tidak ada menabrak seperti air. Jika ia akan menabrak selalu mencari celah, sehingga tetap eksis,” jelasnya.

Karena tasawuf itu, lanjut Habib Husein, masuknya Islam di Indonesia menjadi soft. Baginya, ruh Islam sampai kapanpun adalah tasawuf.

Habib Husein Ja’far juga menjelaskan tentang tantangan dakwah hari ini dalam bingkai tasawuf. Menurutnya kunci dakwah era ini adalah kreatifitas.

“Bagaimana kita membuat konten yang telah disampaikan guru-guru kita, yang kita baca dari kitab-kitab, kita buat menjadi sesuatu yang menarik,” ungkapnya.

Menurutnya, diktum murid mendatangi guru hari ini sudah tidak begitu relevan. Mau tidak mau sekarang guru yang mendatangi murid. Meskipun tidak mendatangi secara fisik, tapi mendatangi secara spiritual.

“Bagi saya ini core utama. Bagaimana guru mengayomi murid, satu tahap demi satu tahap, satu maqom demi satu maqom, sebagaimana Nabi yang telah dimi’rajkan. Kata Mohammad Iqbal, jika dia yang dimi’rajkan, tidak akan turun lagi ke bumi. Tapi Nabi turun lagi untuk menemani kita, untuk menemani kita agar bisa naik tahap demi setahap sampai kita bisa mi’raj suatu saat insyaallah bersama Nabi Muhammad,” jelasnya.

Hal tersebut, katanya, merupakan tantangan dalam menghadapi generasi milenial. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menghadapi gerakan sebelah seperti gerakan hijrah.

Menurut Habib Husein pendekatan yang pas untuk mereka justru adalah pendekatan tasawuf. Bukan pendekata hukum.

“Kalau kita dekati secara hukum, orang-orang itu cenderung frontal dan menghindar, pendekatan yang pas adalah pendekatan tasawuf,” ungkapnya. (gigih)