Rasulullah yang Puasa, Rasulullah yang Hidup Syahid

Sebentar lagi kita memasuki bulan puasa. Pertanyaan sederhana, seberapa puasa diri kita atau seberapa puas diri kita atau bahkan seberapa tidak puaskah diri kita.

Rasulullah sangat paham dan expert dalam bidang ekonomi. Peninggalan kantor administrasi Khadijjah coorporate nya masih dapat dilacak jejaknya di sepanjang jazirah Arab. Beliau juga mampu mendidik sahabatnya sampai mempunyai kekayaan layaknya Warren Buffet era kini, dan itu real cash passive income mencapai lebih 200 milyar sebulan per individu, bukan sebatas pergerakan saham bluechip yang derivatif – fluktuatif.

Tetapi dalam hidupnya, beliau sangat puasa. bajunya hanya tiga pasang, hidupnya hanya di petak rumah tak lebih dari RSS jaman sekarang.

Kalau Musa mampu membelah lautan, Muhammad bahkan lebih. Beliau malah mampu membelah bulan secara sempurna kemudian menangkupkannya kembali. Dan bekas guratan belahaan itu memang benar -benar ada dan bisa kita lihat, tentu bagi yang suka ilmu astronomi hal ini tak terbantahkan fakta ilmiahnya. Tetapi Muhammad bukanlah orang yang menggunakan kekuatan seperti itu untuk melumat orang yang memusuhi layaknya karakter Musa yang menenggelamkan Firaun.

Beliau sangat berpuasa untuk tidak meneror yang memusuhinya, walaupun sangat mampu.

Muhammad adalah pewahyu Quran yang melompati kemutakhiran segala jaman. Beberapa ulama scientis Indonesia secara diam-diam ( karena kurang mendapat respon luas dalam negeri ) telah mendapatkan penghargaan tertinggi di Jepang, British Library dan Yayasan Einstein berkat penguakan bahwa di balik susuanan ayat, jumlah kata, karakter huruf, rincian kalimat adalah kompleksitas rumusan ilmu pengetahuan eksak plus non eksak tercanggih, sangat rasionil dan sangat tak terjangkau di kekinian ( irrasionil ).

Para beliau melihat rahasia ini begitu mudahnya persis seperti para ahli kimia melihat rumus H2O atau proton neutron yang bagi orang awam sudah bikin pusing…

Ah, tetapi ketawadhuan beliau, kesederhanaan beliau mampu menyelimuti rapat hal -hal yang demikian sehingga seakan-akan dibalik kedigdayan dan supra kecerdasan itu, Muhammad malah lebih menonjol ke”ummi”annya. Dan memang begitulah prasarat seorang massanger paripurna. Sosok itu haruslah sangat rendah hati, punya kemampuan menahan diri untuk tidak menonjol dan punya kemampuan menemani segala lapisan masyarakat.

Kalau dalam isitlah Jawa, kesuperan Rasulullah ini dikenal dengan rumusan dua konsep ” nglurug tanpo bolo ‘ alias menghadapi seseorang dengan jiwa besar seorang diri tanpa membawa bala tentara, entah yang bersifat pasukan beneran, pasukan keturunan darah biru, pasukan referensi ilmu pengetahuan, pasukan gelar, pasukan kekayaan, pasukan jaringan politik dan lain sebagainya. Dan berdampak pada konsep kedua, ” menang tanpo ngasorake ” alias unggul tanpa merendahkan. Flat, sejajar.

Rasulullah lebih mengutamakan pembicaraan dari hati kehati, alias dari ruh ke ruh. Sebab di luar itu kurang menyentuh ruang universal, alasannya sederhana, tidak semua orang pandai, tidak semua orang kaya dan tidak semua orang berasal dari keturunan yang menguntungkan.

Dan memang faktanya, adakah yang yang lebih universal dari ruh ? sampai – sampai begitu agung posisi ruh ini ditegaskan dengan kalimat “mirruhi” oleh Allah – sebuah ungkapan yang sangat pribadi dari Allah sendiri. Kalau ilmu, harta dan ketubuhan ya sudah selesai hanya sampai pada prosesi pemakaman. Sebab semua itu hanyalah bekalan penguakan kesyukuran atau kekufuran hidup di dunia.

Sesudah fase itu, pertanyaan awal cuma satu, ” Man Rabbuka “. Dan nggak mungkin jawabannya keluar konteks misalnya ” lho posisi saya kan ulama kok nanya gitu sih.. lha kan saya ini sudah berfikir mati-matian atas kejadian alam…saya ini sudah berderma kemana – mana lho…saya anaknya ustadz lho…dll. Padahal jawaban yang dibutuhkan cuma singkat, jelas dan cepat, ” Ya Ini…Allah..”. Bukan ya itu, bukan ya sana, buka ya di antah brantah, bukan ya nanti…bukan ya tak terjangkau…

Tetapi sesungguhnya konsep Innalillahi wa inna ilaihi rajiun bukan hanya ditujukan kepada orang yang mati saja. Konsep ini seharusnya berjalan dalam diri kita detik demi detik seperti keluar masuknya nafas. Ketika dalam hidup seseorang hanya bisa berkata innalillahi tetapi tak mampu meneruskan penggalan kalimat wa innalillahi rajiun, maka sangat mudah dipastikan orang tersebut akan mudah stress, gedhe rumongso, merasa paling bisa dan sejenisnya.

Tetapi nggak usahlah kita membahas sifat orang, toh sebenarnya hal itu sudah menyiksa bagi pelakunya. Biasanya ketidaknyamanan lambung, tengkuk, daerah mata dan dada sudah menjadi imbalan pasti.

Wa inna ilaihi raajiun adalah konsep puasa sesungguhnya seperti yang dicontohkan Rasulullah. Konsep ini sangat bertalian erat dengan aplikasi ucap alhamdulillah. Tetapi lucunya, kita ini kalau bilang kalimat hamdallah masiiih sajjja diembel-embeli kalimat pelengkap keakuan diri.

Tidak percaya ? coba, betapa lancarnya kita tidak sadar ngomong misalnya” alhamdulillah…akhirnya sempurna sudah karyaku ini. Lho? yo opo se rek..! lha wong sudah bilang Alhamdulillah yang berarti segala puji bagi Allah, lha kok masih memuji kesempurnaan karya sendiri. Allah ya Allah, nggak usah ditambahi dengan ku – ku yang kecil tapi suka ngeyel ini.

Bentuk kongkrit fisik konsep innalillahi wa innalillahi rajiun yang kontekstual pada jaman ini, kalau meluruskan konsep demokrasi, seharusnya adalah dari Allah, oleh Allah, untuk Allah. Misalnya Bahwa hutan adalah pemberian dari Allah, maka selanjutnya konsep “oleh Allah” adalah pengelolahannya harus berdasarkan rujukan – rujukan Quran yang berfungsi memakmurkan bumi.

Namun memang paling berat adalah titik tumpu kalimat wa inna ilaihi atau ” oleh Allah” ini. Sering kali karena kita emosi, segala sesuatu daya yang di”oleh”i Allah kita anggap kitalah yang berdaya. Seakan-akan kita lah yang menentukan gerak jutaan partikel atom dalam diri. Sepertinya kita sendiri yang mampu memompa jantung, menggerakkan aliran darah. Sampai – sampai sistem otomatis yang begitu hebat ini kita anggap biasa dan nggak perlu kita telisik titik sumbernya.

Dan pembelokan – pembelokan ini yang menyebabkan kita keluar dari jalan lurus ihdinassirathal mustaqim. Sehingga seakan -akan walau kita ini sungguh – sungguh punya niat berjihad Islam, tetapi banyak sekali realitasnya yang mengedepankan nafsu “gedhe rumongso”. Seakan -akan tanpa keringat kita, Islam akan hancur, akan musnah, akan selalu dalam kebodohan.

Sik..sik kita ini siapa sih ? wong kita ini debu…dan mampukah setitik debu ini mengubah arah angin ? tak terbalikkah ?

Lho, tapi bagaimana dengan konsep ikhtiar ? Mungkin sudah mblenger kita dengar nasehat pak kyai yang menyitir Quran ” Allah tidak merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu merubah diri sendiri “. Memang, hal ini sering kita kaitkan dengan perubahan nasib dari kurang untung jadi berubah mujur.

Tetapi yang sering kita lupa meneliti, ayat ini ( Al Anfal 53 ) begitu jelas menyebutkan kalimat ” nikmat yang telah diberikan “. Maknanya, sesungguhnya nikmat kita ini tiap hari bertambah, tetapi penyikapan pada titik bersyukur yang sesungguhnya tak pernah kita rubah.

Sebelumnya dalam hal ini, mohon maaf, saya bukan ahli tafsir, tetapi Quran adalah pegangan hidup. Jadi di wilayah ini tidak saya tafsir, tetapi saya benturkan dengan realitas keseharian saja.

Kalau perubahan secara fisik saja, toh apa artinya. Tanpa ikhtiar pun mekanisme sunatullah Allah akan memaksa pada keadaan itu karena janji Allah akan menggilirkan kejayaan suatu kaum secara bergantian. Dan intinya lagi-lagi agar umat atau suatu kaum supaya bersaksi dan belajar ( Ali Imran 140 ).

Pertanyaannya, sejalankah perolehan materi ini dengan rasa bahagia dalam diri ? kenapa negara maju tingkat stress dan angka bunuh dirinya lebih banyak ? kenapa Pakde Di bisa tidur pulas di becaknya padahal debu dan suara jalan raya begitu bising, sedangkan teman saya yang keluarganya punya padhang pasir biji timah hitam dan berumah banyak masih insomnia ?

Lalu sesungguhnya apa sih yang Allah perintahkan agar kita berubah ? tentu adalah mental dan penyikapan – penyikapan kita terhadap realitas.

Konsep oleh Allah adalah, konsep syahadah. Sebuah konsep penyaksian yang gampang – gampang mudah. Sebuah konsep di mana seorang hamba diperintah full bersaksi atas segala kejadian, dipaksa untuk mempelajarinya, dan diwajibkan ( kun ) untuk mencari jalan keluar terbaik ( bil hikmah ). Tiga hal inilah yang seharusnya kita sebut dengan konsep hidup syahid. Sebuah konsep yang tantangannya luar biasa.

Sampai – sampai rasulullah mengajarkan bahwa awal berislam adalah syahadah, bersaksi dalam keadaan hidup. Tentu beliau lah maestro hidup syahid, dan beliau tidak mati syahid bila dikaitkan dengan qital. Tetapi apa kita meragukan bahwa beliau tidak mati syahid ? monggo dijawab sendiri -sendi…ri…

Begitu capek deh nya hidup syahid ini. Bagaimana tidak, konsep syahadah, konsep iqra dan konsep bil hikmah harus selalu jalan bareng tanpa ada yang tertinggal salah satunya. Titik tujuan akhir tiga hal inilah yang disebut rahmatan lil ‘alamien.

Kadangkala, mengidealkan hidup syahid inilah yang membuat orang frustasi dan dengan mudah melegalkan konsep mati syahid secara sembrono. Padahal semasa hidup rasulullah aturan mainnya sangat ketat. Sampai-sampai Sayyidina Ali saja tidak jadi membunuh musuhnya hanya karena beliau teliti ada pergerakan hati yang diselimuti hawa nafsu pribadi. Padahal peluang menghancurkan 100 % ada.

Dan kejadian seperti ini memang tidak mudah dihadapi, terbukti ketika penahlukan kembali kota Makkah oleh rasulullah, banyak sahabat yang keburu nafsu balas dendam karena pernah diperlakukan semena -mena. Tetapi untunglah panutan kita adalah Sang Paripurna Rasulullah Muhammad, bukan Musa. Sehingga hari yang awalnya direncanakan sahabat sebagai hari pembalasan, diganti beliau dengan hari kasih sayang.

Bayangkan juga bila nabinya Nuh, pasti deh..Makkah sekarang sudah jadi danau…

Wilayah tauladan penyikapan ini, bila tidak segera kita selesaikan, kita hitung sendiri ke dalam diri, lambat laun secara samar akan menjadi buah kerumitan diri. Dampaknya, supaya semua olah karya, keringat dan darah ini menjadi kooptasi momentum ego diri, seringkali sesuatu yang mudah jadi diperumit supaya terlihat eksistensi diri. Walaupun sesungguhnya pengorbanan atas hal semacam itu sangatlah mahal dan berpotensi memakan korban sekitar, entah berupa tatanan sosial bahkan nyawa.

**

Wa ba’du, Inti tulisan ini sekedar mengajak kembali pada sebuah kesederhanaan, berani berdamai dengan diri sendiri dulu, mengendapkan segala yang seakan – akan, dan belajar jadi orang biasa saja. Sebab Muhammad adalah nabi yang paling biasa dan sederhana diantara 25 lainnya.

Kenapa sih malu pada kesederhanaan dan takut jadi orang yang biasa – biasa saja ? Padahal Allah sendiri tidak pernah gemagah dan malu membuat kalimat atau konsep wahyu dengan judul yang sangat biasa, seperti An Naml ( semut ), Al Baqarah ( sapi betina ), Al Ankabuut ( laba-laba ), Al jaatsiyah ( berlutut ) …

Lha kalau kita ini, demi sebuah elisitas kecanggihan keluar diri, karena kebanyakan nonton TV, wong cuma sekedar haus saja kadang kita ngomong ” gue lagi butuh isotonik cairan elektrolit neh..lagi dehidrasi “. Mungkin yang berprofesi dokter akan tertawa geli melihat dialog itu. Lha wong itu lho… cuma campuran gula garam buat obat mencret.

Atau mungkin supaya lebih terlihat macan intelek, kita pakai bahasa gini ” Tubuh saya lagi butuh Na+, K+, MG2+, Ca2+…karena terjadi asyncronisasi energi “. Mungkin malah pedagang di pasar yang nimpali omongan, ” lho mas itu degan ijo kok bahasanya jadi rumit ya ? ini lho tak kasih gratis…! di sini over quota mas, kita kan stockist ( he..he..gantian pedagang kelapa mudanya sok pakai bahasa bisnis ).

Ah, kita ini terlalu berperayaan lebaran kata – kata, tetapi puasa kelaparan makna…tak pernah punya kesanggupan meringkas dan mengembalikan segala kejadian sampai pada titik puasa sesungguhnya alias ummi…

Akhirnya kita tidak mampu betah memasuki ruang puas alias bersemayam dalam rasa syukur abadi sebagai abdi yang punya kehangatan hubungan dengan Khaliknya.

Dan sungguh sayang bila waktu ramadhan yang konon katanya setan-setan dibelenggu, ternyata kita tetap tidak bisa mempuasakan cara bertindak, berfikir dan berbicara.

Tapi ya nggak apa -apalah kalau kita anggap riwayat setan dibelenggu itu hanya doktrin obsolet, lha wong memang sekarang jamannya setan kesurupan manusia….he..he..setannnya dah dibelenggu, tapi manusianya memaksa memasuki alamnya yang penuh bara…nggak bisa hening tenang layaknya lailatul qadar yang diidamkan….

Wassalam, pencari seribu bulan