CINCIN KESETIAAN

Dalam sebuah acara, ada seorang yg hadir tiba2 bertanya secara pribadi tentang cincin dalam ajaran tashawuf .

O sahabat..
Memang dalam tashawuf banyak ajaran2 yg di sampaikan melalui simbol2. Salah satunya adalah pemakaian cincin batu akik .

Di kawasan Asia tengah dalam tradisi thoriqoh naqshabandiyah, setiap murid yg selesai dibai’at maka mereka diharuskan memakai cincin sebagai tanda seorang MURID .

Apa makna simboliknya di balik trandisi ini?
Di samping bermakshud mencontoh prilaku para nabi as yg di riwayatkan bahwa mereka biasa memakai cincin .

Antara lain ;
Nabi Ibrahim as, memakai cincin batu Pirus
Nabi Musa as, memakai cincin batu Shafir
Nabi Dawud as, memakai cincin batuTopas
Nabi Sulaiman as, memakai cincin batu Sulaiman.
Nabi Muhammad SAW, memakai cincin batu akik Yaman. Dlsb .

Maka pemakaian cincin dikalangan kaum sufi juga bermakna senagai tanda IKATAN SETIA dalam ittiba’ pada Rasulullah SAW, laksana cincin ikatan bagi seorang mempelai perempuan sebagai tanda ikatan kesetian pada suami .

Ketahuilah dalam pandangan tashawuf Islam, semua manusia itu berjiwa wanita (min nafsin wahidah. QS. an-Nisa’ ayat 1), adapun yg berjiwa laki2 sejati (rijalullah) hanyalah Rosulullah SAW sebagai ABUL ARWAH .

Mengkuti thoriqoh dalam tashawuf berarti cinta dan setia pada Rosullah SAW .

Kenapa bermata cincin dari batu?

Batu itu bermakna penyerahan diri yg total pada Allah, hal itu karena batu mau dan bersedia di buat apa saja sesui kehendak tukang .

Itu pula makna hajar aswad yg disunnahkan untuk dicium, tiada lain agar kita mencapai jiwa taslim/berserah diri sebagai inti pengabdian pada Allah SWT .

Ada juga makna lain khususnya menurut Imam Jakfar shodiq bin Imam Muhammad Baqir, beliau pernah berpesan pada anak turunnya sebagai Dzuriyah Rosul SAW agar memakai cincin batu pirus yg berwarna hijau dan berurat hitam .

Hijau untuk mengenang kota madinah dan hitam kota makkah, dua kota suci sbg tanah air asal ushul seluruh ahlul bait nabi sehingga diharapkan selalu rindu untuk kembali kesana .

Wallahu a’lam bishowab .

Syaikh DR KH Dhiyauddin Kushwandi