Manaqib KH. Abdur Rosyid (Seorang Kyai Sufi – Progresif), Jepara

Lebih dari 90 % jumlah umat Islam di Indonesia menganut Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyyah, Kondisi sosial ini tidak lepas dari jerih payah dan perjuangan salah satu ulama yang berjasa dalam merintis dan mengembangkan ajaran Nahdlatul Ulama’ didaerah tersebut.

Tersebutlah sesosok nama Almaghfurlah KH. Abdur Rosyid Saripan Jepara. dilahirkan pada tahun 1906 di Jepara, beliau merupakan putra sulung dari KH. Muhammad Zain bin Raden Ngabehi Brontodiwiryo atau Kyai Sulaiman dengan nama kecil Muqoddas. Menurut cerita lisan dari para orang tua, Kyai Sulaiman yang terkenal dengan sebutan Kyai Boang ini adalah putra Pangeran Diponegoro.

Mbah Rosyid mempunyai dua adik kandung yaitu KH. Chaidar dan Ibu Nyai Hj. Mukarromah (Istri dari KH. Ahmad Fauzan). Sejak usia belia beliau menimba ilmu langsung dari ayahnya, selain itu beliau juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Saripan Jepara dibawah asuhan KH. Abdul Qodir (suami bibinya yang kelak menjadi mertuanya), setelah itu beliau menimba ilmu di Pesantren KH. Khalil Kasingan, Rembang dilanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang dibawah asuhan langsung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dari Tebuireng beliau pergi haji ke Makkah dan bermukim disana selama 3 tahun untuk meningkatkan ilmu pengetahuan utamanya ilmu-ilmu agama.

Konsentrasi pada masyarakat

Sepulang dari Makkah beliau membantu mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Saripan Jepara dan memberikan pengajian dari satu desa ke desa lainnya, diantaranya secara rutin beliau memberikan pengajian di Masjid Purwogondo yang terletak 18 Km dari kediaman beliau setiap dua kali dalam seminggu, sikap istiqomah beliau dalam menyebarkan agama Islam terbukti dengan tetap mengajar rutin meskipun yang hadir satu orang.

Sikap istiqomah beliau seakan belum cukup, sebari mendakwahkan tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah beliau melengkapi jalan dakwah dengan sikap sabar, ikhlas serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Melihat realitas masyarakat pedesaan yang pada waktu itu umumnya masih banyak kaum dluafa’, yatim, fakir dan miskin yang memerlukan santunan, maka tergeraklah hati beliau bersama adik iparnya KH. Ahmad fauzan menghimpun aghniya’ untuk menyantuni mereka terutama menjelang Idul fitri dan hari Asyura, kegiatan ini masih berlangsung sampai sekarang.

Selain berjuang dalam agama dan sosial, beliau juga ikut berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia dari penjajah

Sang perintis NU dan menulis buku

Sebagai seorang ulama’ yang lahir dan besar ditengah-tengah pesantren, maka semangat dalam menyebarluaskan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah merupakan sebuah sikap niscaya dari beliau, baik melalui lisan maupun tulisan, diantara kitab yang beliau tulis untuk memasyarakatkan Aswaja adalah Kitab Tarjamatu Al Tauhid Li Ibtidail Murid dan As-ilatul Waro , kitab ini berisi himpunan tanya jawab tentang dasar-dasar hukum amaliyah Ahlussunnah Wal Jama’ah.


Sebagai perintis berdirinya Nahdlatul Ulama’ di daerah Jepara, kyai yang wirai ini tidak pernah absen dari perjuangan NU dengan berkhidmah sebagai Rais Syuriah NU Cabang Jepara dan Mustasyar NU Jawa Tengah, selain itu Kyai Rosyid juga ikut memprakarsai berdirinya lembaga pendidikan formal yaitu Madrasah Al-Islam Saripan Jepara yang terdiri dari berbagai jenjang SD, MI, MTs, Madin Awaliyah dan Madin Wustho dibawah naungan LP Ma’arif Jepara.

Wafatnya sang pelita, dalam bahasa santri sering di istilahkan dengan intaqola ila rofiqil a’la.

KH. Abdur Rosyid wafat pada tanggal 11 Dzulqo’dah 1401 H/ 9 November 1981dengan meninggalkan 14 anak dan 33 cucu, beliau dimakamkan di Pemakaman Gandrung Potroyudan Jepara, ribuan kaum muslimin serta ulama’ Jawa Tengah mengantarkan jenazah beliau, karib beliau Al Qutub Prof. Dr. Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih Al Alawy Pengasuh Pesantren Darl Hadits Malang yang menalqin jenazah beliau di Maqbaroh.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan Allah Swt. mampu meneladani dan meneruskan cita-cita perjuangan beliau.

sumber :
1. Buku silsilah Mbah Raden Ngabehi Brontodiwiryo (Mbah Sulaiman) Desa Jakenan, Pati : 1997
2. Artikel “KH. Abdul rasyid Cucu P. Diponegoro, Perintis NU di Jepara” Warta NU No. 14/TH.V/April 1989/Ramadlan 1409 H.
3. Wawancara dengan Ibu (Ning) Dra. Faiqoh binti KH. Ali Munif bin KH. Abdur Rosyid di Kelurahan Bapangan Kec. Jepara pada hari Sabtu, 9 Februari 2019.