Pendiri Tarekat Syadziliyah

Nama lengkap pendiri Tarekat Syadziliyah adalah Abu al-Hasan al-Syadzili ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abd al-Jabbar al-Syadzili. Ia lahir pada tahun 593 H/1197 M di sebuah desa bernama Ghamarah. Lokasinya tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al-Aqsha atau Maroko, Afrika Utara bagian ujung paling barat (Qadhiyyah al-Tashawwuf al-Madrasah al-Syadziliyyah, halaman 18).

Daerah Maghribi merupakan satu bagian wilayah dunia Islam yang mempertahankan semangat spiritual, sekalipun pada akhir separuh abad ke-13 H./19 M. Perancis menancapkan kuku kolonialisme di Aljazair dan Tunisia. Tepat pada saat Perancis mulai menjajah Afrika Utara, suatu kebangkitan yang amat spiritual terjadi di Maghribi, (Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi, halaman: 60).IKLAN – LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI

Al-Syadzili merupakan dzurriyat atau keturunan ke-22 dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. Urut-urutan sebagai berikut: (1)Rasulillah Saw., (2)Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Fathimah al-Zahra’, (3)Sayyidina Hasan, (4)Hasan al-Muthanna, (5)Abdullah, (6)Idris, (7)‘Umar, (8)Idris, (9)‘Isa, (10)Muhammad, (11)Ahmad, (12)‘Ali, (13)Bathal, (14)Wardi, (15)Yusya’, (16)Yusuf, (17)Qushayy, (18)Khatim, (19)Hurmuz, (20)Tamim, (21)Abd al-Jabbar, (22)Abdullah.

Rujukannya banyak, yakni al-Mafakhir al-Aliyah fi al-Ma’atsir al-Syadziliyyah, halaman: 11. Lathaif al-Minan wa al-akhlaq, halaman: 138. Lihat juga al-Tashawwuf wa al-Hayat al-‘Ishriyyah, halaman: 164. Lalu Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, halaman: 146. Lihat juga Qadhiyyah al-Tashawwuf al-Madrasah al-Syadziliyyah, halaman: 42. Rujukan lain adalah Thabaqat al-Syadziliyyah al-Kubra al-Musamma Jami’ al-Karamat al-‘Aliyyah fi Thabaqat al-Sadah al-Syadziliyyah, halaman: 19-20).

Sejak kecil Abu al-Hasan al-Syadzili biasa dipanggil dengan nama ‘Ali, ia dikenal sebagai orang yang memiliki akhlak yang amat mulia. Tutur katanya fasih, halus, indah, dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, al-Syadzili juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya al-Syadzili mendapat tempaan pendidikan akhlak serta cabang-cabang ilmu agama lainnya di bawah bimbingan langsung ayah-bundanya.Pada usia yang masih anak-anak itu al-Syadzili juga sudah menghafal Alquran serta menekuni sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw., (al-Tashawwuf wa al-Hayat al-‘Ishriyyah, halaman: 172).

Selain itu, sejak usia kanak-kanak al-Syadzili sudah terbiasa mengenakan pakaian yang indah, bersih, dan rapi. Namun, dalam hal makan dan minum al-Syadzili amat mudah pelayanannya dan tidak sampai menyusahkan orang lain, terutama ayah-bundanya.

Nilai-nilai keshalehan, ketakwaan, dan kebajikan sebagai seorang calon pemimpin umat yang agung, panutan bagi kaum muslimin, dan imam bagi para muttaqin, sudah tergambarkan dari kepribadian dan perilakunya sejak al-Syadzili masih usia kanak-kanak.

Al-Syadzili tinggal di desa kelahirannya sampai usia 6 tahun dengan mendapat tempaan pendidikan akhlak serta cabang-cabang ilmu agama lainnya di bawah bimbingan langsung ayah-bundanya (Qadhiyyah al-Tashawwuf al-Madrasah al-Syadziliyyah, halaman: 43).