Gus Baha: Anak Itu Nguwalati

Konsep parenting dalam nalar pesantren

Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha’ di Bedukan Wonokromo. Gus Baha’ punya cara pandang tentang anak yang tidak lazim. “Ojo wani-wani karo anak, ndak kuwalat.” – Jangan berani sama anak, nanti kalian bisa celaka.

Bagi saya, yang selalu mendengar Jangan berani sama orang tua, nanti celaka. Gus Baha’ membalik kalimat tersebut, bahwa anak harus dihormati. Anak selamanya adalah anak.
.
Gus Baha’ menjelaskan bahwa anak, mempunyai ikatan yang tidak akan putus. Berbeda dengan istri, ketika cerai maka hak dan kewajiban yang pernah melekat akan gugur seketika.
.
Anak adalah penerus Kalimat Tauhid
.
Gus Baha’ memberikan poin penting tentang kalimat tauhid. Baginya, kalimat tauhid adalah kalimat kebenaran yang universal dan absolut. Sehingga jika kalimat tersebut diucapkan oleh orang gila sekalipun, kalimat tersebut akan selalu benar.
.
Kebenaran kalimat tauhid tidak bisa dimonopoli oleh siapapun. Meskipun diucapkan oleh seorang pendosa sekalipun kalimat tauhid tidak menjadi hina, begitu pula jika diucapkan oleh orang saleh sekalipun kalimat tsb tidak akan bertambah mulia.
.
Siapapun orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan menjadi mulia, siapapun orangnya. Sebab itulah Gus Baha’ menghormati anaknya, sebab anaknyalah yang kelak akan meneruskan kalimat tauhid tersebut.
.
Sebab inilah, Gus Baha’ mengaku tidak pernah memukul anaknya, “Bagaimana bisa mukul ketika saya selalu ingat bahwa ia adalah umatnya Nabi Muhammad yang kelak akan menjadi penerus agama Islam.” kata Gus Baha’.
.
Gus Baha’ selalu mewanti-wanti bagaimana anaknya harus bangga kepada bapaknya, ini bukan persoalan sombong-sombongan, tapi ini mendidik kepada anak agar ia tidak kecewa kepada orang tuanya dengan membanding-bandingkan orang tuanya dengan orang tua temannya.
.
Meskipun tidak lazim, minimal bisa memberikan kita pemahaman yang lain, bahwa mendidik anak adalah pilihan orang tua. Nasehat Gus Baha’ kepada para orang tua adalah jangan mengira bahwa anak nakal itu tidak ada hubungannya dengan orang tua, sangat berhubungan. Jika kalian ingin melihat dirimu, maka lihatlah anakmu

Oleh Qowim Musthofa