Beragam Tharîqah / Tarekat Hakikatnya Adalah Satu

Matan.or.id _ Tharîqah / Tarekat adalah salah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thariqah / tarekat dari generasi ke generasi sampai kita sekarang.

Adapun dalam kontek wirid, Nabi Saw. telah memberikan kepada para sahabat sesuai dengan derajat dan ahwalnya. Secara khusus ada dua sahabat yang diberikan oleh Rasulullâh Saw.:

1. Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq mengambil dari beliau dzikir ismu al-Mufrad yaitu “Allâh”.

2. Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. mengambil dari beliau dzikir alnafi wa al-itsbat yaitu “la ilaha illallâh”.

Sebagaimana disebutkan oleh beberapa sumber sejarah bahwa sesungguhnya Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. datang suatu hari kepada Nabi Saw, lalu beliau bersabda kepadanya, “Wahai Ali kamu harus melanggengkan dzikir kepada Allâh Swt. dalam keadaan sendiri (khalwat)”. Sahabat Ali berkata, “Ini adalah fadhilah dzikir. Setiap manusia melakukan dzikir.” Maka Rasulullah bersabda, “ Wahai Ali kiamat tidak akan terjadi selama disebut lafadz “Allâh”. Lalu sahabat Ali bertanya, “Bagaimana cara aku berdzikir wahai Rasulullah?” Lalu Rasulullah menjawab, “Pejamkan matamu lalu dengarkan aku tiga kali, lalu ucapkanlah tiga kali sekiranya aku mendengar. Lalu Rasulullah bersabda, “Laa ilaaha illallâhu tiga kali, sambil memajamkan kedua mata beliau seraya mengeraskan suara dan Ali mendengar. Lalu Ali mengucapkan Laa ilaaha illallâhu tiga kali, sambil memajamkan kedua mata beliau seraya mengeraskan suara dan Rasulullah Saw. Mendengar”, (Abd Rahman Jabarut, Tarikh „Ajaibu al-Atsar fi al-Tarajim wa alAkhbar, Juz 1, halaman: 346).

Sejak munculnya tashawwuf Islam di akhir abad kedua hijriyah, sebagai kelanjutan dari gerakan golongan Zuhhad, muncullah istilah “Tharîqah” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada suatu yang tertentu, yaitu sekumpulan akidah-akidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Sufi. Pada saat itu disebut “Tharîqah Shufiyyah” (metode orangorang Sufi) menjadi penyeimbang terhadap sebutan “Tharîqah Arbabi al-Aql wa al-Fikr” (metode orang-orang yang menggunakan akal dan pikiran. Yang pertama lebih menekankan pada dzauq (rasa), sementara yang kedua lebih menekankan pada burhan (bukti nyata atau empiris). Istilah “tharîqah” terkadang digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami oleh banyak kalangan, ketika mendengarkan kata “tharîqah.”

Pada perkembangan berikutnya, terjadi perbedaan diantara tokoh Sufi di dalam menggunakan metode laku batin mereka untuk menggapai tujuan utamanya, yaitu Allâh Swt. dan ridhanya. Ada yang menggunakan metode latihan-Iatihan jiwa, dari tingkat terendah, yaitu nafsu ammarah, ke tingkat nafsu lawwamah, terus ke nafsu muthmainah, lalu ke nafsu mulhimah, kemudian ke tingkat nafsu radhiyah, lalu ke nafsu mardhiyyah, sampai ke nafsu kamaliyyah. Ada juga yang menggunakan metode takhalli, tahalli dan akhirnya tajalli. Ada pula yang menggunakan metode dzikir, yaitu dengan cara mulazamatudz-dzikri, yakni melanggengkan dzikir dan senantiasa mengingat Allâh dalam keadaan apapun.

Perlu digarisbawahi di sini, bahwa meskipun nama thariqah dan metodenya beragam tapi tujuan dan hakekatnya satu.

Hal ini sesuai dengan pernyataan para imam dan Syaikh tharîqah. Di antaranya adalah:

1. Imam al-Junaid bin Muhammad (297 H): Ahli Sufi adalah penghuni satu rumah, dimana orang lain tidak dapat memasukinya, (al-Risalah al-Qusyairiyah, halaman: 127).

2. Imam Ibnu Arabi (638 H): Sesungguhnya para ahli adzwaq (Tharîqah) jelas berada pada satu jalan, (al-Futûhât al-Makkiyah, juz 3, halaman: 213).

3. Ibnu ‘Ajibah menjelaskan pernyataan Ibnu Bana Sirqisthi: Madzhab Sufi telah disepakati maksud dan aktifitasnya meskipun berbeda-beda jalurnya. Sesungguhnya al-Haq adalah satu dan jalannya adalah satu meskipun berbeda-beda jalurnya, titik akhirnya satu dan rasanya (dzauq) satu. Maknanya sebagaimana dikatakan bahwa tharîqah-tharîqah itu bermacam-macam dan jalan al-Haq adalah satu. Madzhab Sufi adalah kesesuaian atau kesamaan antara ushul dan furu’, (al-Futuhât al-Ilahiyah, halaman: 101).

4. Abd. Razaq Qasyani (730 H), “Maksud saya, sesungguhnya jalan (thariq) dan tujuan (ghayah) adalah hakekatnya satu, yaitu AlHaq (Allâh Swt)”, (Syarah Fushûsh al-Hikam, halaman: 155).

5. Abd. Qadir Isa: Sesungguhnya jalan (thariq) hakekatnya satu, meskipun beragam metode amaliyah dan tata cara sesuai dengan ijtihad pada masa, situasi dan kondisi saat itu. oleh karena itu muncul beragam tharîqah sufi yang mana hakikatnya adalah satu, ( Haqaiq „an al-Tashawwuf, halaman: 272).

Selain beberapa pernyataan di atas, ada beberapa pernyataan senada yang mungkin terlalu banyak kalau semuanya ditulis. Diantaranya adalah: 1. Syaikh Abu Nasr Siroj al-Thusi (378 H), (al-Luma„ fî Târîkh alTashawwuf al-Islâmî, halaman: 457).

2. Syaikh Abu Thalib al-Makki (386 H), (Qûth al-Qulûb, juz 2, halaman: 79). 3. Imam Abu Hamid Muhammad aL-Ghazâli (505 H), (Ihyâ‟ „Ulûm al-Dîn, juz 1, halaman: 255).

4. Syaikh Ahmad Shawi al-Maliki al-Khalwati (1241 H), (al-Asrar alRabbaniyah wa al-Fuyudhat al-Rahmaniyah, halaman: 45).

5. Syaikh Muhammad Kansus Tijani (1294 H), (Kasyfu al-Hijab, halaman: 329).

6. Syaikh Muhammad Abu al-Faidl al-Manufi (1312 H), (Ma‟alim alThariq ila Allâh, halaman: 262).

Kebanyakan orang menganggap bahwa tashawwuf terdiri dari beberapa madzhab dan aliran. Mereka menyamakan dengan bidang keilmuan yang menggunakan analisa logika sebagaimana filsafat. Kalau filsafat menggunakan analisa logika maka pantas muncul beberapa aliran. Sedangkan tashawwuf adalah pengalaman seseorang (tajribah), maka tetap satu madzhab dan tidak terjadi beragam aliran. Kalau kenyataan jalan (tharîqah) tashawwuf bermacam-macam, tetapi adanya perbedaan dan beragam jalan tersebut, semuanya menuju satu tujuan, (lihat al-Ta‟arruf limadzhab ahli al-Tashawuf, halaman: 12-13).

Melihat beberapa pernyataan di atas maka sangat jelas sekali bahwa meskipun nama thariqah dan metodenya beragam tapi tujuan dan hakikatnya satu, yaitu al-Haq Allâh Swt. (ilahi anta maqshudi waridlaka mathlubi).

ditulis Ulang dari Kitab Sabilus Salikin