Jalan Pengabdian Seorang Sālik

(Sebuah Manaqib Dr. KH. Hamdani Mu’in)

oleh: Husni Mubarok

Hamdani Mu’in, begitu nama yang diberikan ayahandanya, KH. Abdul Mu’in. Dilahirkan di Subang, Jawa Barat, tepatnya di kampung Keboncau, Ciasem Pada 5 April 1971. Sejak kecil, anak ketiga dari delapan bersaudara ini memiliki semangat belajar yang tinggi. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah pertamanya (tahun 1984 dan 1987) di kampung halaman, ia melanjutkan perjalanan mencari ilmu ke Tasikmalaya, Jawa Barat, di pondok pesantren Sukahideng sambil sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama, sekarang Madrasah Aliyah/MA) guna memenuhi hasrat intelektualnya. Di pesantren Sukahideng dan di bangku PGA ini ia menemukan kenyamanan dalam mencari ilmu, sehingga hasrat intelektual Hamdani muda terobati. Di pesantren Sukahideng yang terkenal dengan ilmu lughohnya, Calon Kyai Hamdani mengasah keterampilan bahasa Arabnya dibawah bimbingan KH. Moh. Syihabuddin Muhsin. Di pesantren ini pula, ia mulai tertarik dengan tafsir, sebuah ilmu tentang menyingkap makna al-Qur’an, yang kelak digelutinya. Ketertarikannya pada bidang tafsir banyak dipengaruhi oleh gurunya, KH. Fuad Muhsin.

Setelah menyelesaikan sekolah PGA pada tahun 1990, didorong oleh rasa haus akan ilmu, Hamdani muda melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Kaliwungu, tepatnya di pondok pesantren al-Fadhlu, asuhan ulama kharismatik, KH. Dimyati Rois. Komitmen belajar yang ia tanamkan pada dirinya mengantarkannya menjadi santri teladan, sebuah penghargaan yang sebelumnya belum pernah ada. Sebagai seorang santri, Hamdani mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengaji, baik di kelas maupun di luar pelajaran kelas. Waktu mengajinya hanya terpotong oleh masak, makan, mandi, dan tidur. Di luar itu, tidak ada waktu tanpa mengaji. Kaidah yang dipegangnya bukan bagaimana bisa “memanfaatkan waktu dengan baik”, tapi bagaimana bisa “mencuri waktu”, ya… mencuri waktu untuk mengaji. Ia tetap berangkat mengaji walaupun dalam keadaan sakit, kecuali ketika sakit yang membuatnya tidak kuat untuk berjalan.

Setelah menamatkan Madrasah Aliyah di pondok pesantren al-Fadhlu tahun 1993, Hamdani muda melanjutkan ke Ma’had ‘Ali al-Fadhlu (lulus 1995) sambil berkuliah S1 di IAIN Walisongo Semarang. Ia merupakan santri al-Fadhlu pertama yang berani mendobrak tradisi dengan masuk perguruan tinggi, padahal pada saat itu ada semacam larangan tak tertulis bahwa santri tidak boleh kuliah. Masuknya Hamdani di IAIN Walisongo tentu atas restu gurunya yang amat ia kagumi, KH. Dimiyati Rois. Baginya, restu dan ridho guru adalah yang utama. Ia sering mengabaikan keperluan pribadinya ketika sang guru memanggil dan meminta waktunya.

Berbekal keilmuan pesantren yang mumpuni, Hamdani muda mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Ketika menjadi mahasiswa, ia aktif di berbagai organisasi kampus baik intra maupun ekstra. Di organisasi intra kampus, Hamdani aktif di Nafilah, sebuah organisasi intra kampus yang fokus pada pengembangan bahasa Arab, ia juga aktif di Walisongo Studi Club (WSC), menjadi ketua Senat Fakultas (sekarang BEM) dan Institut (DEMA) pun pernah diembannya. Di organisasi ekstra kampus, ia bergabung dengan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dengan menjadi aktivis kampus, jiwa kepemimpinannya semakin terasah. Sebenarnya jiwa kepemimpinan Hamdani sudah terbentuk sejak di sekolah dasar, yaitu lewat kegiatan pramuka. Pramuka menjadi kegiatan yang paling ia sukai, karena mengajarkan kemandirian di samping membentuk jiwa kepemimpinannya.

Sebagai aktivis, Hamdani muda cukup vocal menyuarakan kepentingan mahasiswa dan menyuarakan kritik terhadap pemerintah orde baru. Pernah suatu ketika dalam aksi demonstrasi, ia diamankan oleh anggota TNI, ia bahkan ditodong dengan pistol. Ketika itu, yang diingat hanyalah gurunya, KH. Dimyati Rois, dan amukan kawan-kawan santri al-Fadhlu jika ia ditembak mati. Untungnya, pistol yang ditodongkan ke arah kepalanya tidak mengeluarkan peluru. Melalui berbagai mediasi dan jaminan dari salah satu guru sekaligus dosennya, Drs. KH. Chabib Toha, Allahu Yarham, ia akhirnya dibebaskan. Pasca peristiwa itu, kedekatan Hamdani muda dengan Drs. KH Chabib Toha yang merupakan ayahanda dari KH Hasan Chabibie semakin erat. Ia menjadi asisten atau lebih tepatnya sering diminta bantuan oleh KH Chabib Toha di Ma’arif NU Jawa Tengah.

Setelah menyelesaikan studi S-1 pada tahun 1998, ia kemudian melanjutkan studi S-2 dengan mengambil konsentrasi Hukum Islam di kampus yang sama dan lulus pada tahun 2001. Setelah diterima menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Kyai Hamdani menikah dengan wanita pilihannya, mahasiswi lulusan Undip Semarang asal Kaliwungu, Ning Duroh, pada 4 Juli 1999. Dari pernikahan ini, ia dikaruni dua orang putri yaitu Sayyidah Nafisah dan Nadia Aulawia, dan satu orang putra, Imam Haddad. Penamaan putranya yang terakhir dengan Imam Haddad terinspirasi dari salah seorang ulama besar asal Tarim Yaman, yaitu Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad ketika ia berkunjung ke Hadromaut pada tahun 2005. Pada tahun yang sama, Kyai Hamdani juga mengikuti Workshop Bahasa Arab di Universitas Leipzig Jerman.

Rasa haus dan hasrat intelektual yang kuat, mendorong Kyai Hamdani untuk melanjutkan studi S-3. Namun, keinginan untuk melanjutkan studi S-3 harus dipendamnya untuk sementara waktu karena berbagai alasan. Baru pada tahun 2005, ia bisa melanjutkan studi S-3. Dengan berbagai pertimbangan, ia memilih Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai tujuan studinya. Pada studi S-3, ia mengambil konsentrasi tafsir, cabang ilmu yang digandrunginya sejak masih di PGA. Selain tafsir, ada dua cabang ilmu lain yang ia senangi, yaitu ushul fiqh dan tasawuf. Dalam menekuni bidang tafsir, ia mengagumi tokoh tafsir perempuan asal Mesir, Aisyah bint Syati, murid sekaligus istri Amin Khuli, yang juga tokoh tafsir. Kekagumannya pada Aisyah binti Syati ini ia tuangkan dengan menjadikan tokoh yang dikaguminya itu sebagai objek kajian dalam desertasinya yang berjudul “Metodologi Tafsir Bint Asy-Syati”. Pada tahun 2007, ia berkesempatan berkunjung ke Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Di Mesir, ia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, membaca karya-karya Aisyah binti Syati, dan berbagai khazanah ilmu keislaman lainnya yang diwariskan para ulama. Di luar aktivitas membacanya, ia juga berkeliling dan berziarah ke para ulama. Dua di antaranya, Imam Syafi’i dan Imam Ibn Athoilah al-Sakandari. Tidak lupa ia menikmati keindahan sungai nil sambil menikmati secangkir kopi. Setahun setelah kepulangannya dari Mesir, Kyai Hamdani dapat menyelesaikan program doktonya di UIN Jakarta pada tahun 2008.

Selain aktif sebagai dosen di UIN Walisongo Semarang, Kyai Dr. Hamdani juga disibukkan dengan kegiatan lain seperti mengisi acara seminar, mengisi pengajian, Bimtek dan lain sebagainya. Ditengah kesibukannya yang luar biasa, beliau meluangkan waktu khusus untuk mengisi pengajian rutin satu minggu sekali di desa Bebengan, Boja, Kabupaten  Kendal setiap malam selasa. Kitab yang dikaji yaitu Tafsir Jalaian dan Bulug al-Maram. Pengajian ini dimulainya sejak tahun 2002 sampai awal 2017. Ketika penglihatan kiyai Hamdani mulai bermasalah, pengajian rutin di Boja mulai sering libur, meski sesekali beliau tetap berangkat, memberikan siraman rohani dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu agama. Pengajian rutin malam selasa baru benar-benar berhenti karena udzur syar’i, yaitu ketika penglihatannya mulai tidak bisa membaca rangkaian huruf. Mengisi pengajian rutin di Boja dijalani kiyai Hamdani tanpa bisyaroh, beliau dengan ikhlas mengajar dan membagikan ilmunya pada masyarakat Boja yang “tidak tersentuh” oleh kiyai-kiyai besar. Kyai Hamdani ingin memberikan pelajaran kepada masyarakat untuk belajar ikhlas, dan tentu saja melatih dirinya sendiri untuk ikhlas dan tidak thoma’.

Di tengah kesibukannya mengisi pengajian dan acara lainnya, Kyai Hamdani juga tidak lupa mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Ibrohimiyah. Seperti umumnya jadwal mengaji di Kaliwungu, pengajian di Pondok Ibrohimiyah hanya libur setiap selasa dan jum’at. Kitab yang dikaji dipondok yaitu tafsir Jalalain, Minhajul ‘Abidin, dan al-Luma’. Pada santri-santrinya, Kyai Hamdani selalu menekankan pentingnya belajar. Beliau selalu mendorong santrinya untuk jadi orang-orang besar, menjadi para pejuang yang berkontribusi untuk masyarakat, bangsa dan negara. Beliau juga senantiasa mengajarkan santrinya untuk berjuang tanpa pamrih, tanpa selalu mengharapkan amplop. Perjuangan yang tanpa pamrih, mendidikasikan hidup untuk kepentingan orang banyak tanpa memiliki kepentingan kecuali berkhidmah dinamakan beliau sebagai high politik, politik tingkat tinggi.

Sebagai kiyai, ada haliyah yang berbeda antara kiyai Hamdani dengan kiyai-kiyai pada umumnya. Sekalipun sebagai kiyai dengan gelar doktor, beliau tidak pernah memosisikan dirinya sebagai kiyai. Beliau selalu memosisikan dirinya sebagai teman, sahabat, dan patner bagi santri-santrinya. Berbeda dengan kiyai pada umunya, kiyai Hamdani juga tidak suka santrinya menghormati beliau seperti penghormatan umumnya santri kepada kiyai, seperti berjalan merangkak, dan bentuk penghormatan lain yang berlaku bagi santri. Selain itu, ketika beliau punya keperluan dan hendak menyuruh santri untuk melakukannya, beliau selalu menggunakan bahasa minta tolong, dan terlebih dahulu bertanya kepada santri, sedang kosong atau tidak. Haliyah ini secara konsisten dilakukan beliau sampai akhir hayatnya.

Di samping sibuk sebagai dosen dan kiyai, Dr. Hamdani juga aktif di JATMAN (Jam’iyah Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdhiyah), organisasi thoriqoh yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya. Sejak aktif di JATMAN, Dr. Hamdani banyak menghabiskan waktunya mengurusi berbagai keperluan organisasi, sehingga waktu mengajarnya di pondok mulai berkurang. Di JATMAN, Dr. Hamdani mendedikasikan waktunya untuk berkhidmah kepada para masyayikh, para guru mursyid, para kiyai, bahkan beliau hampir tidak punya banyak waktu untuk keluarga. Cukup sering pulang ke rumah hanya untuk berganti pakaian dan kemudian berangkat lagi.

Sebagai dosen yang banyak berkecimpung di organisasi dan punya kepedulian besar terhadap generasi muda, Dr. Hamdani mulai gelisah melihat para mahasiswa khususnya para aktivis kampus yang dihinggapi pragmatisme dan kurangnya adab. Dalam pandangan beliau, hal tersebut terjadi karena kekeringan spiritual. Mahasiswa sementara ini diajari materi yang mengasah nalar, tetapi minim materi yang menyentuh aspek spiritual, kalaupun ada, tidak lebih dari sekedar teori. Penyebab lain yang memicu lahirnya pragmatisme dikalangan mahasiswa adalah cara berpikirnya yang bersifat duniawi. Pikiran mahasiswa mengarah pada bagaimana mereka mendapat kerja, sehingga pikiran untuk berjuang dan bagaimana bisa berkontribusi untuk bangsa dan negara cenderung diabaikan.

Tidak hanya menyoroti mahasiswa, Dr. Hamdani juga mengikuti isu-isu aktual dan perpolitikan nasional. Kegelisahannya bertambah ketika melihat perilaku para politisi yang sibuk berebut kekuasaan demi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. Cukup sulit menemukan politisi yang berjuang untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Kegelisahan yang dirasakan Dr. Hamdani semakin hari semakin membuat sesak hati dan pikirannya, waktunya habis untuk memikirkan solusi terkait permasalahan tersebut, di samping tetap aktif mengajar dan melakukan aktivitas lainnya. Dalam pandangannya, salah satu solusi atas permasalahan yang tengah menimpa mahasiswa, para politisi dan masyarakat pada umumnya adalah thoriqoh-tasawuf. Di tengah kegelisahannya dan dalam upaya mencari pembenar dan penguat atas pandangannya, Dr. Hamdani sering melakukan ziaroh beserta santri-santrinya seperti kang Asep Dzulfikar, kang Dedi Rosadi, kang Mahfud, kang Nurul Muamar, dan kang Riyadi. Santri-santri beliau semuanya mahasiswa di IAIN Walisongo, dan juga ikut organisasi PMII. Di samping ziaroh, Dr. Hamdani dan para santrinya sering sowan kepada para kiyai, seperti KH. Mustofa Bisri, KH. Maimoen Zubair, KH. Sahal Mahfudz, dan kiyai-kiyai lainnya.

Kegelisahan yang dirasakan Dr. Hamdani sering beliau diskusikan dengan gurunya, KH. Dimyati Rois. Puncak dari diskusi itu, yaitu ketika Dr. Hamdani dan para santrinya sowan ke ndalem Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan. Setelah menyampaikan kegelisahan yang selama ini dirasakan, Habib Luthfi bin Yahya berkata: “kita dirikan MATAN”!!! seketika Dr. Hamdani bertanya? MATAN nopo (apa) bah? Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdhiyah. Dr. Hamdani merasa mendapat jawaban atas kegelisahan yang beliau rasakan selama ini. Beliau meyakini bahwa ini adalah jawaban atas kegelisahan yang dirasakan selama ini, dan jawaban yang selama ini dicari. Dengan perasaan lega, Dr. Hamdani meminta undur diri kepada Habib Luthfi bin Yahya. Sejak saat itu, yaitu pada tahun 2009, Dr. Hamdani mulai memikirkan tentang bagaimana tata kelola organisasi dan lain sebagainya. Dengan penuh semangat, Dr. Hamdani dan para santrinya sering melakukan diskusi di pondok pesantren Ibrohimyah, Kaliwungu-Kendal. Berbagai persiapan dan kebutuhan organisasi telah disiapkan dengan harapan bisa segera dideklarasikan. Namun harapan itu tidak kunjung terwujud, semangat yang membara sedikit berubah menjadi kecewa. Kekecewaan kenapa tidak segera dideklarasikan baru terjawab beberapa tahun kemudian, yaitu ketika rapat JATMAN di Pekalongan. Waktu itu, Habib Luthfi bin Yahya berkata: “itu Dr. Hamdani ngebet ingin MATAN segera dideklarasikan, tapi ndak saya turuti, saya tidak ingin MATAN lahir karena nafsu”. Jawaban dari Habib Luthfi bin Yahya seakan menampar Dr. Hamdani, ditengah hatinya yang bergetar beliau seakan tersadarkan bahwa mungkin selama ini yang dianggap semangat ternyata bukan semangat, melainkan nafsu. Baru pada 14 Januari 2012 M atau 20 Shafar 1433 H, saat Muktamar JATMAN ke XI yang dilaksanakan pada 10-14 Januari 2012 M / 16-20 Shafar 1433 H di Pondok Pesantren Al-Munawariyyah Bululawang, Malang, Jawa Timur, MATAN resmi dideklarasikan. Setelah MATAN resmi berdiri, Dr. Hamdani diberi amanah sebagai Ketua Umum MATAN.

Menjabat sebagai Ketua Umum, kesibukan Dr. Hamdani bertambah. Dengan semangat dan daya juang yang luar biasa, beliau sibuk berkeling untuk mengenalkan MATAN ke berbagai daerah di tanah air. Beliau waqafkan hidupnya untuk membesarkan MATAN dan untuk membumikan thoriqoh, terutama di kampus-kampus. Tanpa kenal lelah dan tanpa memperhatikan kesehatan fisiknya, Dr. Hamdani terus bergerak berkeliling mengibarkan bendera MATAN. Beliau seringkali berkata, “yang bisa menghentikan saya di MATAN hanya Abah Luthfi atau kematian, di luar itu, tidak akan ada yang bisa menghentikan saya. Selama Abah Luthfi tidak menegur dan meminta saya berhenti, saya akan terus bergerak, atau biarkan ajal yang menghentikan saya”. Beliau dedikasikan waktunya untuk berjuang di MATAN, pikiran dan hatinya hanya untuk MATAN. Beliau menjadikan MATAN sebagai media untuk berjuang, mengabdi dan berkontribusi untuk bangsa dan negara. Beliau selalu berharap agar dari MATAN lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual. Beliau juga berharap akan lahir dari matan kader-kader yang memiliki integritas, dan integritas hanya bisa lahir dari orang yang hatinya bersih, selalu merasa dirinya dipantau oleh guru mursyid, dan tentu saja oleh Allah swt.

Pada akhir 2018, aktivitas Dr. Hamdani di MATAN mulai berkurang, penyebabnya tiada lain karena sakit yang membuat fisiknya terus melemah. Meski fisiknya terus melemah, tetapi semangat perjuangannya tidak pernah melemah. Di tengah sakitnya, Dr. Hamdani masih tetap mengajar mahasiswa. Dalam kondisi yang tidak kuat untuk berjalan, beliau masih memaksakan diri untuk tetap masuk kelas dengan digandeng santrinya. Saat tidak bisa masuk kelas karena sedang dirawat di rumah sakit, beliau merasa sedih karena tidak mampu menunaikan kewajibannya sebagai pengajar. Semangat beliau untuk mengajar dan memberi pencerahan kepada mahasiswa, baru benar-benar berhenti ketika kakinya sudah tidak mampu bergerak, itupun sebenarnya masih tetap ingin berangkat mengajar. Pernah suatu ketika dalam keadaan lemah,  beliau hendak memaksakan diri berangkat ke kampus untuk mengajar dengan menggunakan kursi roda. Semangat mengajar dan memberi pencerahan serta semangat berjuang Dr. Hamdani berakhir ketika beliau dipanggil kekasihnya, Allah Swt. pada hari ahad, tanggal 22 Desember 2019. Semoga perjuangan, pengabdian, amal baik, dan keihlasan beliau menjadi amal saleh. Amiin, alfatihah…