Puasa dan Sarjana Kuliner

Puasa Bagian Pertama

Dalam hidup ini segala keilmuan entah ilmu lahir ataupun batin, eksak atau non eksak, ilmu logis maupun spiritual akhirnya hanya mengerucut pada dua pola kesarjanaan.

Pertama, yang diharapkan oleh Allah adalah sarjana kekhalifahan. Kedua, segala sesuatu kepakaran yang ujungnya hanya sekedar pemenuhan kebutuhan perut alias sarjana kuliner.

Kedua pola kesarjanaan ini terjadi karena ada tawar menawar antara nalar dan niat. Sarjana kuliner diwakili oleh nalar. Sarjana kekhalifahan diwakili oleh niat.

Nalar ada di kepala, niat ada di dada. Nalar adalah pencarian. Niat adalah ketetapan hati. Proses tawar menawar ini sangat ribut sekali melebihi keributan lantai bursa ataupun lelang pasar ikan.

Nalar tanpa niat bagaikan orang yang jago berpetualang tapi tak punya rumah berteduh. Selalu bingung mau dikemanakan simpanan nalar yang begitu banyak. Begitu juga niat tanpa dijalankan dengan nalar akan membuat seseorang terlihat ganteng tapi pakai kacamata kuda. Sedikit lucu dan suka menabrak orang lain

Intinya kedua hal ini sebenarnya sederhana, siapa yang harus unggul mengendalikan tanpa menafikan salah satu unsur. Bila yang unggul niat, lapanglah dada kita. Bila yang unggul nalar, ya siap –siap saja ketombean dan merasakan kepala yang berkabut. Gamang sampai akhir hayat.

*

Kalau diri kita tidak memiliki kemampuan identifikasi perbedaan antara nalar dengan niat, bisa cilakak tigabelas…Karena di dalamnya banyak sekali syubhat – syubhat ruhani yang sangat halus dan samar. Kayaknya niat, padahal nalar. Dan sebaliknya.

Contoh kecil dalam urusan dakwah, bisa jadi sesuatu yang semula sifatnya niat tulus merasa berkewajiban, tiba – tiba secara halus membuai berubah menjadi nalar merasa berhak. Dulunya hanya berkewajiban menyampaikan yang haq, sekarang merasa berhak mendapat imbalan atas hukum wajib yang telah ditularkan.

Hal ini tak lain karena orang yang sudah mendapat enlight pencerahan pun belum tentu bisa teguh memegang amanah kekhalifahan. Sebab setiap pencerahan juga akan dibarengi terbukanya syaraf nalar yang luar biasa.

Padahal semua itu masih wilayah zhon atawa persangkaan. Dan postulat persangkaan ini dilembagakan secara mendasar menjadi yang kita sebut nalar.

Di wilayah ini Allah menuruti seratus persen manusia. Aku sesuai persangkaan hambaKU. Ketika seseorang beriman dan bermain di wilayah ini, maka yang berlaku adalah iradah atau kehendak dan keinginan-keinginan manusia. Bahasa modernnya Law Of Attraction.

Dan apapun pasti terpenuhi wong bumi ini seratus persen untuk manusia. Pek-pek en kabeh Rek ! aku gak arep….tapi lek koen gak arep karo Aku yo goleko dunyo liyo. Allah begitu dahsyat menantang diri kita.

Ambil semua…tapi kalau kamu tak mau kembali kepadaKU Sang Pemilik, cari jagad lain selain milikKU. Waduh ! nyari kemana ya kira –kira …?

Sebenarnya untuk mengetahui parameter mana dominasi nalar mana dominasi niat itu mudah. Namun saking mudahnya, parameter itu akhirnya juga gampang dibelokkan karena dahsyatnya nalar.

Bila akhirnya segala sesuatu itu mengerucut pada kemakmuran diri sendiri atau paling besar kelompok, maka itu adalah syahwat nalar kuliner. Kalau sesuatu itu mengarah kayak lagu hymne guru alias pahlawan tanpa tanda jasa, maka itu adalah keridhaan kekhalifahan.

Untuk mempertajam deteksi dua hal ini, diperluka metode puasa. Metode dimana orang dilatih untuk tidak menuruti kepentingan diri dalam jangka waktu tertentu. Sampai ultimate goalnya seseorang menjadi abdullah total. Dalam hidupnya sampai akhir hayat seratus persen nggak ada ambisi pribadi.

Ketika orang lapar biasanya angan-angannya akan berkurang.Dari angan-angan ingin menguasai negara, majelis, ribuan hektar tanah, bisnis dan sejenisnya tiba –tiba luruh mengecil hanya ingin menguasai meja makan saat buka puasa.

Tapi ini juga tidak dibenarkan karena sebenarnya inti puasa adalah menghilangkan angan-angan dan kehendak kepentingan pribadi guna mengasah jiwa kekhalifahan sampai pada tingkat paling ideal, Rasulullah.

Benar kata Rasul bahwa setan menguasai jalan darah dan hanya bisa ditundukkan dengan puasa. Permainan darah inilah pada puncaknya akan memunculkan pengulangan tragedi Qabil dan Habil. Sebuah permainan nalar dan niat yang disindirkan Allah dalam Quran melalui cerita persembahan makanan.

Yup, kata kuncinya memang pengendalian makanan dan darah. Sebuah komposisi yang menentukan ke arah mana perjalanan seorang anak manusia.

Sedihnya banyak manusia menyerah terhenti menganggap bahwa dirinya hanyalah sebatas mahluk biologi layaknya seperti sapi, ayam kecoak dan kawan-kawan yang menjadikan makanan sebagai faktor ahad.

Dan pembenarannya bukan hal main –main karena rabaan iptek dan tafsir kitab suci dilibatkan untuk mendukung urusan kuliner ini.

Padahal moment puasa itu sangat jelas, untuk meraih hari kemenangan. Analogi kebalikannya berarti orang yang malas berpuasa alias suka makan, pasti hidupnya sering kalah. Entah kalah dari segi persoalan hidup sehari-hari sampai kalah tak punya daya tawar terhadapan peradaban yang sangat membius ini.

*Serial tulisan Dody Iskandar Dinata