Deklarasi MATAN

MEMECAH BELAH ATAU MENYATUKAN ORGANISASI MAHASISWA (YANG MENGAKU) NU?

Oleh: Syukron Ma’mun

Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya _ Pendiri MATAN

Mahasiswa Ahli Ath-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (selanjutnya disingkat MATAN) merupakan organisasi kemahasiswaan baru yang resmi dideklarasikan pada tanggal 14 Januari 2012 di PP.Al-Munawwariyah Bululawang Kabupaten Malang pada muktamar XI Jam’iyyah Ahli Ath-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Beberapa pihak terutama dari PMII dan IPNU/IPPNU mempertanyakan motif di balik pendirian atau deklarasi MATAN kepada penulis, karena ditengarai ada motif pemecahan mahasiswa NU melalui MATAN, apalagi di balik berdirinya MATAN terdapat banyak orang-orang yang alumni PMII dan IPNU, bahkan masih aktif di dalamnya.

    Penulis tidak akan menjawab secara langsung terhadap pertanyaan yang juga menjadi judul tulisan ini, namun penulis akan mengajak pembaca untuk berfikir dan kemudian pembaca menyimpulkan sendiri jawabannya berdasarkan data-data yang penulis paparkan dalam tulisan ini. Pertama penulis akan memberikan perbandingan dari tujuan organisasi IPNU/IPPNU, PMII, dan MATAN, yaitu :

1.    Tujuan IPNU/IPPNU menurut PD  IPNU/IPPNU adalah membentuk pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT., berilmu, berwawasan kebangsaan, serta menegakkan syariat islam berpaham Ahlu As-sunnah wa al-jama:’ah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

2.    Tujuan PMII sesuai dengan pasal 4 AD PMII adalah terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT., berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

3.    Tujuan MATAN sesuai dengan SOP (standart organization procedure) MATAN pasal 6 adalah visi ATAN adalah lahirnya generasi dan calon pemimpin bangsa yang memiliki ketinggian intelektual dan kearifan serta kedalaman spiritual sebagai basis untuk membangun bangsa dan Negara demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan dalam muqaddimah SOP MATAN alinea pertama disebutkan:”MATAN merupakan sinergisitas antara intelektualitas dengan spiritualitas bagi generasi muda bangsa Indonesia terlebih di kalangan mahasiswa.

Berangkat dari tujuan-tujuan organisasi tersebut maka secara garis besar dan tujuan PMII, IPNU/IPPNU, dan MATAN memiliki kesamaan tujuan meskipun secara tekstual atau literal berbeda. Akan tetapi, JATMAN selaku orang tua kandung yang telah melahirkan MATAN memandang bahwa perlu untuk melahirkan MATAN karena IPNU/IPPNU dan PMII di banyak tempat dewasa ini telah terjebak dan larut dalam pragmatisme dan rasionalisme serta tindakan-tindakan atau sikap-sikapnya telah terlepas dari nila-nilai spiritual sebagaimana yang telah termaktub dalam tujuan organisasi.

Upaya yang dilakukan oleh JATMAN lebih sebagai bentuk perjuangan bagi mahasiswa di sisi yang lain yang belum terisi oleh PMII dan IPNU/IPPNU sehingga tiga organisasi bisa saling berdampingan dan melengkapi. Oleh karena itu, keanggotaan MATAN tidak bersifat mengikat. Mengikat di sini dalam artian bahwa anggota MATAN selama dia telah berbaiat kepada salah satu thariqah al-mu’tabarah an-nahdliyyah dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai anggota MATAN dan meninggalkan larangan-larangan sebagai anggota MATAN, maka dia tetap diperbolehkan bergabung dan aktif di organisasi lainnya selama organisasi yang dirangkapnya tidak memiliki azas dan tujuan yang bertentangan dengan MATAN (JUKNIS MATAN Bab IV pasal V).

Untuk mengetahui lebih mendalam apa itu MATAN dan bagaimana arah gerak MATAN, maka penulis akan menjelaskan mengenai Thariqah itu sendiri, karena antara MATAN dan Thariqah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mempelajari dan memahami MATAN tidak cukup atau tidak sempurna tanpa mempelajari dan memahami Thariqah.

Apa itu Thariqah ?

Dalil tentang Thariqah terdapat di surat Jin ayat 16 yang artinya:

“Dan sungguh jikalau mereka berjalan di atas jalan yang lurus (ath-thari:qah/agama islam) maka kami benar-benar memberi mereka minuman air yang segar”.

Sementara dalam kitab Al-Ma’a:rif al-Muhammadiyyah halaman 81 disebutkan:

“Sanad para wali kepada Rasulullah Saw. itu benar (shahih), dan shahih pula hadits bahwa Ali RA. pernah bertanya kepada Nabi Saw. Kata Ali,”Wahai Rasulallah, tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat (aqrab ath-thuruq) kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama bagi Allah?” Rasulullah Saw. bersabda,”Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan Allah.”.

Sedangkan pengertian Ath-Thari:qah dalam kitab Maraaqi al-‘Ubu:diyyah fi: Syarchi Bida:yah al-Hida:yah adalah melaksanakan kewajiban dan kesunatan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah yang tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari syubhat (apalagi keharaman) sebagaimana orang yang wara’i, dan menjalani riyadlah, misalnya beribadah sunnat pada malam hari, berpuasa sunnat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tanpa guna”.

Adapun pengertian Thariqah dalam kitah tanwi:rul qulub adalah menjauhi hal-hal yang haram, yang makruh, dan hal-hal yang mubah yang tidak berguna, serta melaksanakan hal-hal yang wajib, dan sekuat tenaga melaksanakan hal-hal yang sunnat, di bawah asuhan seorang mursyid yang arif yang maqamnya tinggi.

Adapun pengertian Ath-Thariqah al-Mu’tabarah ialah Thariqah bersambung sanadnya kepada Rasulullah Saw. beliau menerima dari Malaikat Jibril as. Malaikat jibril as. dari Allah Swt. Sedangkan penambahan kata An-Nahdliyyah disebabkan para penganutnya selalu bergerak untuk melaksanakan ibadah dan dzikir kepada Allah swt. yang syariatnya menurut Ahlissunnah wal Jama’ah berdasarkan empat mazhhab fiqih dan tasawwufnya mengikuti ajaran ulama salaf shalihin serta ikut mengerjakan pembangunan Indonesia.

Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Thariqah merupakan cara atau metode dan aliran tasawwuf yang bertujuan: (1) Al-Wushu:l ila: Allah, thariqah adalah tidak semata-mata bentuk amalan bacaan atau dzikir untuk mencari pahala tetapi thariqah bertujuan membentuk manusia seutuhnya, lahiriyah bathiniyah yang bisa mengembangkan dan merasa didengan dan dilihat oleh Allah atas dirinya sehingga dapat memiliki sikap atau rasa Al-Khauf (takut), Ar-Rajaa’ (Berharap), Ash-Shidiq (jujur/benar), Al-Mahabbah (cinta), Al-Wara’ (menghindari hal-hal yang makruh), Az-Zuhud, Asy-Syukur, Ash-Shabar, Al-Hayya’ (Malu), dan Al-Khusyu’.

Penutup

Masa depan bangsa dan agama Islam merupakan milik generasi muda khususnya mahasiswa. Sehingga generasi muda (baca: mahasiswa) merupakan simbol ikon manifestasi untuk masa depan sebuah bangsa, karena dengan kemampuan intelektual dan kekritisannya mampu melahirkan sebuah gejala baru dan perubahan yang sangat luar biasa. Namun intelektualitas dan kekritisan mahasiswa menjadi hal yang absurd dan semu apabila kering akan nila-nilai keilmuan islam dan spiritual, sehingga yang kemudian muncul adalah gerakan-gerakan atau sikap-sikap yang lebih mengedepankan rasionalisme, pragmatisme dan hedonisme.

Oleh karena itu, MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah) sebagai lajnah baru di bawah JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah) memandang perlu melakukan suatu upaya dan wadah yang bisa mengakomodir antara sikap, gerakan, dan aspirasi dengan sisi ruhani-spiritual yang bisa mengisi kekosongan pikiran dan batin akan ajaran-ajaran dan nilai-nilai keislaman dengan kejernihan hati. Kemudian muncul sebuah gagasan untuk mengenalkan dan memasukkan ajaran-ajaran keislaman khususnya tasawwuf di kalangan mahasiswa, karena tasawwuf merupakan sebuah ilmu untuk mengetahui hal ihwalnya nafsu dan sifat-sifatnya, sehingga dapat membentuk jiwa yang kokoh berdasarkan kejernihan berfikir dan bisa membedakan mana perbuatan yang harus dijauhi dan ditinggalkan dan mana perbuatan yang harus diamalkan.

Selain itu, upaya yang dilakukan oleh MATAN ini juga bertujuan untuk melestarikan ajaran Islam ‘ala Ahlis Sunnah wal Jamaah yang moderat, toleran, dan inklusif secara konsisten dalam bidang syariat dan tasawwuf di tengah masyarakat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Wallahu a’lam bi ash-Shawa:b.

Allahummahdina Ath-Thari:qa al-Mustaqi:m

    Thari:qan min Allahi Rabb al-‘A:lami:n

*Penulis adalah peserta muktamar dan deklarasi. sekarang ngekost di Jl. Jombang Gg.I No.99C Malang dan masih nimba ilmu sebagai murid dan santri kepada mursyid TQN hadlratusysyaikh KH.Abdurrahman Yahya.

*Tulisan ini disampaikan di diskusi Komunitas Reboan Almaturidi FS UM.