Catatan Pengajian Jumat Kliwon Kanzus Sholawat 12 Desember 2014

Amal perbuatan yang kelihatan baik, bisa berbelok kepada amal dunia. Akibat memandang Allah lebih kecil dari selain Allah (makhluq). Contoh seperti yang disabdakan Baginda Nabi SAAW, banyak amal akhirat yang menjadi amal dunia, amal dunia menjadi amal akhirat.

Mengapa doa-doa kita jarang dikabulkan? Pertama, kita dalam berdoa hanya merasa butuh, tidak merasa faqir, sehingga tidak menjiwai kefaqiran kita sebagai hamba dalam berdoa, masih ada rasa sombong dalam hati, hatinya sudah siap-siap bila tidak diterima akan berfikir macam-macam kepada Allah, suu uzh-zhann pada Allah.

Hendaknya sebelum berdoa kita merasa faqirFaqir disini bukan hanya faqir harta, tapi juga faqir ilmu, faqir amal baik dan lain sebagainya. Faqir merasa kita makhluk yang rendah hina, bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa. Semisal kita ini bisa sholat, kalau kita tidak diberi pertolongan, taufiq, dan hidayah oleh Allah, apa kita bisa sholat? Jadi kita merasa faqir di hadapan Allah. Untuk apa? Untuk kemudian kita merasa faqir di hadapan manusia.

Al-Faqir ini bukan pakaian tawadlu’ ulama salaf, biasanya dalam kitab-kitab itu ditulis Al-Faqir Syaikh Fulan bin Fulan, kemudian kita ngomong, “Ulama-ulama salaf ini orangnya tawadlu’-tawadlu’, merasa dirinya faqir. Bukan seperti itu beliau-beliau, tapi beliau-beliau itu memang benar-benar merasa faqir, bukan sekedar pakaian, apalagi gaya-gayaan biar dianggap tawadlu’ seperti kita-kita ini. Para ulama salaf itu benar-benar merasa faqir, tidak merasa paling ‘alim, paling baik, dan lain-lain. Sama seperti ketika sujud, ruku’ dalam sholat mengucapkan subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdih, Subhaana Rabbiyal ‘azhiimi wa bi hamdih, itu timbul kesadaran dalam hati bahwa Maha Agung itu hanya milik Allah, kemudian tidak merasa Agung karena keagungan hanya milik Allah.

Seperti juga dalam makan. Lidah kita ini bisa merasakan manis, asin, asem, pahit, dan lain-lain. Jika rasa-rasa itu dicabut dari lidah sehingga lidah tidak bisa merasakan lagi itu bagaimana? Ini satu hal yang terlihat sepele, tapi begitu besar. Lalu saat kita makan, makanan ditelan, mampukah kita mengatur agar makanan yang masuk ke usus harus begini dan begitu? Ini satu contoh dari makanan. Contoh lain, saat pasangan suami istri, ini bagi yang sudah menikah atau memasuki dewasa, melakukan hubungan badan, bisakah si suami atau istri ini mengatur sperma yang masuk ke rahim istri agar sesuai dengan keinginan? Semisal agar anaknya laki-laki atau perempuan, atau agar anaknya tampan seperti artis film, atau biar anaknya itu hidungnya mancung seperti Habib Luthfi? Bisakah mengaturnya?

Itu tanda bahwa kita itu al-Faqiir. Lalu kalau sudah begitu, kita masih mau sombong?

Al-Faqiir itu mengerti, meyakini, dan mengamalkan subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdih, Subhaana Rabbiyal ‘azhiimi wa bi hamdih, untuk kemudian mengamalkan iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, merasa lemah karena hanya Allah yang mampu menolong. Siapa itu Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin yaitu Huwallaahu al-Khaaliqu al-Baari-u  al-Mushowwiru lahul asmaa-ul Husnaa, yusabbihu lahuu maa fiss samaawaati wal ardl, wa huwal ‘aziizul hakiim (Al-Hasyr: 24).

Buahnya adalah tawadlu’ dan merasa lemah. Hanya Allah yang Agung dan berkuasa. Inilah yang dimaksud min atsaris sujuud. Wallahu a’lam bis showaab

–          Disarikan dari keterangan Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya

–          Penulis : Syukron Ma’mun