Maqamat Ridla

(Catatan Pengajian Kanzus Sholawat Jumat Kliwon 7 November 2014)

Bab maqamatur ridlo bukan bab yang ringan. Kelihatannya sepele mohon keridloan Allah Ta’ala bukan hanya di akhirat, tapi di dunia juga. Di anataranya apa? Apa Cuma ‘ubudiyyah saja? Tidak. Memohon keridloan Allah bukan hanya ubudiyyah, tapi ada keridloan yang bersifat timbal balik. Lha kok bisa keridloan timbal balik? Semisal kita berdoa atau mengucapkan, “Ya Allah, saya ingin mendapat ridlo-Mu, diridloi langkah saya”. Dijawab oleh Allah, “Apa benar ingin ridlo? Ya sudah, kamu saya kasih penyakit dulu, sakit gigi dulu, kamu ridlo tidak sama sakit yang ku kasihkan ini?”. Karena ridlo itu karena rahmat Allah, bukan karena amal ibadah kita, sebagaimana nanti di akhirat, masuk surga itu karena rahmat Allah, bukan karena amal ibadah.

Tidak usah berbicara jauh-jauh ridla Allah. Begini saja, dalam kehidupan sehari-hari, kalau merasa punya orang tua, apa mu’amalah kita kepada orang tua? Ridlollaah fii ridlol waalidain, Ridlo Allah di dalam ridlo orang tua. Kalau dalam umat, ridlollaah fii ridlo Rasulillaah. Ridlo rasulillah lebih unggul dari ridlol walidain, karena tanpa Rasul kita tak akan mengenal iman, islam, dan Birrul waalidain, ta’at kepada orang tua.

Merasa mempunyai orang tua artinya menghargai perjuangan orang tua. Manaqib atau sejarah hidup orang tua, mengetahui pengalaman orang tua menuju kesuksesan dan ketika mendidik anak. Berfikir, bagaimana orang tua yang petani itu musim kemarau gini berfikir, karena sawah kering, takut gagal panen, kalau gagal panen lalu anak yang masih sekolah bagaimana tidak bisa sekolah, kekurangan makan, dan lain-lain. Tahu derajat kepayahan orang tua dan ikut membantu meringankan beban orang tua.

Belajar minta ridlo pada orang tua dan bersikap ridlo pada orang tua. wallahu a’lam bish showaab

* Semoga Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya selalu diberi kesehatan, panjang umur sehat wal ‘afiyah, dan semoga kita diakui sebagai murid beliau dunia dan akhirat… aamiin alfaatihah