Serial Ababil & Israel

Seri Ketiga

Inilah kenapa agama adalah penyempurnaan akhlak. Yang berarti sebuah nilai belajar, dynamic, bukan perebutan materi yang mensifati suasana statis. Segala bentuk aktifitas apapun mulai yang bersifat materi sampai ghaib klenis dipelajari, disempurnakan laku ilmunya, di islamkan, diberserahdirikan sampai tuntas. Kepada siapa ? Ya jelas kepada Maha Akhir, Maha Pamungkas, Allah.

Dan sebagai catatan, bukannya anti materi.Melainkan memahami bahwa dunia ( materi ) hanyalah la’ibun wa lahwun. main-main dan senda gurau belaka. Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadikan dunia ini menjadi sebuah senda gurau. Tentu saja harus dengan menguasai sungguh-sungguh setiap keahlian yang dipasrahkan Allah kepada kita.

Logika sederhana, kalau orang nggak bisa nyetir mobil, ketika belajar lalu ada mobil menyalip, pasti gugup dan bisa-bisa mengumpat menganggap mobil tadi bikin gara -gara. Tapi bagi sang ahli tidak. Ia sudah terbiasa dengan pola berfikir global bahwa ya begini ini jalan raya. Ia sudah bisa memetakan apakah mobil tadi melanggar aturan lalu lintas atau terburu nafsu. Tak ada reaksi amarah dalam dirinya. Ia sudah mampu memprediksi bahwa orang yang melanggar rambu dan terburu nafsu ya tinggal nunggu waktu apes saja. Bahkan ia berfikir begitu dengan tetap tenang mengendarai sambil ngobrol bersenda gurau dengan penumpang sebelah. Karena dia pembalap yang sangat serius menekuni bidangnya. Dan ia bisa saja menyalip lagi mobil tadi kapanpun ia mau.

Kuncinya yang terpenting, mulai dari tahap belajar sampai expert bukan terhenti pada apa yang dipasrahkan, bukan pula pada kekhalifahan, melainkan berhenti kepada siapa yang memasrahi dan yang mengamanatkan kekhalifahan itu sendiri. Allah.

Materinya tetap, Allah juga tetap, permainannya dari jaman ke jaman tetap, model ilmunya saja yang berubah-ubah. Sekarang kita tinggal terhenti di materi, berhenti di Hadapan Wajah Allah dan berpuasa selain Allah atau macet ditengah-tengah perputaran ilmu yang selalu silih berganti berubah wujud dan metodenya. Monggo -monggo saja, nggak ada yang membantah, nggak ada yang melarang. Lha wong semuanya sangat jelas kok bagi yang memahami…

Sikap puasa terhadap selain Allah inilah dalam Al Fiil laksana ulat yang memakan daun. Sebuah semangat keduniaan beserta penguasaanya akan pupus sendiri oleh sebuah sikap kesederhanaan hidup. Qana’ah. Sederhana saja, seperti prinsip hukum ekonomi, supply and demand. Kalau nggak ada yang mau beli, orang jualan akan frustasi dan bangkrut dengan sendirinya.

Ealaah..tapi namanya orang kok ya nggak kurang akal. Maka terciptalah ilmu rayuan yang bernama marketing dan advertising. Ilmu yang intinya merubah sesuatu yang sebenarnya hanya sebuah keinginan kecil, menjadi suatu kebutuhan besar dan mutlak yang tak boleh dilewati….