Serial Ababil & Israel

Seri Kedua

Lalu bagaimana kita bisa menang hanya dengan ngotot mengandalkan jihad fisik yang tak lebih dari tulang dan daging ini ? padahal sang gajah telah ber evolusi-bermetamorfosa berkali-kali menjadi bentuk -bentuk baru yang telah melewati kadar ukuran fisik. 

Ataukah kita melawan dengan ilmu dan filosofi gajah itu sendiri ? Pertanyaannya, apakah kita bisa melebihi kebesaran pasukan gajah ? Mengingat bahwa plagiat tak pernah akan lebih baik dari yang asli. Paling banter mentok setingkat dibawahnya. Tak kan mampu sejajar.

Cara terbaik melawannya bukanlah dengan mengandalkan kemampuan diri kita seperti harta, keringat ataupun ilmu. Walaupun semua itu tetap harus dipenuhi sebagai sarana. Satu – satunya jalan akhir, seperti terjelaskan dalam surat Al Fiil, hanyalah pertolongan Allah semata. 

Bagaimana bentuk pertolongan itu ? berbondong – bondonglah menjadi sang Ababil… berjamaah lah menjadi burung – burung perkasa yang suci itu…

Tapi siapkah kita menjadi burung – burung Ababil ? Burung yang secara maknawi adalah mahluk yang sedikit sekali berurusan dengan tanah alias sumber kenikmatan materi. Hidupnya lebih banyak hinggap pada pohon. 

Ya, pohon sebagai perlambang kekuatan hidup, petikan nilai luhur, sistematika kebajikan, keteduhan, penyerap zat kotor dan penghasil zat suci. Hijau daunnya memaknakan semangat dan keberkahan. Akarnya mengajarkan sifat keteguhan. Batangnya mengajarkan kesejajaran derajat. Bunganya mengajarkan keindahan. Buahnya memberi rasa nyaman. Rantingnya mengajarkan jembatan hidup.

Porsi utama burung adalah udara yang meliputi alam frekwensi, rumusan gerak angin, zat etheric, zat hidup dan kelembutan partikel. Dan ini semua adalah jembatan langit

Tapi sekali lagi, siapa yang mampu menjadi burung – burung pasukan Allah ini ? Burung yang mampu mencengkram panasnya peradaban batu dunia…

Orang yang mengambil sikap hidup puasa lah yang sanggup menjadi burung dan mampu mengalahkan pasukan gajah. Tarmiihim bihijaratin min sijjil adalah gambaran lemparan batu dari tanah yang terbakar. Lalu apakah tanah yang terbakar itu ? jelas itu adalah manusia. Bukankah manusia terbuat dari unsur tanah ? dan proses pembakaran adalah sebuah konsep puasa yang membakar kalori tubuh, menggerus kotoran usus menjadikan bentuk energi murni. 

Ini manfaat puasa yang sangat basic. Manfaat bumi lapis pertama. Di wilayah ini akan terjadi proses body cleansing atau detoksifikasi. Proses yang menjadikan manusia lebih stabil secara fisik dan open mind. Manusia yang lamat-lamat mulai mampu menangkap ilham tersembunyi.

Ahh..tapi kira – kira siapa ya rombongan ababil yang sanggup melempari gajah dari atas dengan batu panas ini ? Pelemparan dari atas bermaknakan mempunyai ilmu yang lebih tinggi yang lepas dari pijakan bumi alias alam materi. Batu panas bermaknakan perubahan dan pemuaian materi padat menjadi bentuk energi dahsyat yang dihasilkan oleh tanah alias manusia itu sendiri, The Atom Man.

Kalau saya kayaknya nggak mungkin banget. lha wong orang seperti saya ini kalau lihat soto dan rawon masih ngiler rek ! Paling banter ya jadi manusia kacang atom. Manusia kacangan. Bukan manusia kesadaran atom. Tapi supaya ada sedikit pengharapan dan GR, kata nggak mungkin diganti dengan kata belum mungkin saja. Eeh siapa tau suatu saat bisa…he he…optimis dong ! wong kita ini muslim…

Pada tahap berikutnya, tahap orang berpuasa tidak sekedar urusan menahan masuknya makanan dan memindah jam kapan makanan masuk ke tubuh. Puasa para orang alim, puasa orang yang mengetahui seluk beluk hukum relativitas dunia. Dimana ia hanya mau mempelajari, mendekat dan bermukim di wilayah yang bukan relatif. Wilayah eksak, wilayah abadi, Allah. Sehingga bertemulah realitas hadits qudsi ; “”Bila Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya ” 

Maka terjadilah wilayah tak ada yang tak mungkin. Sebab ia adalah perantara Tuhan setelah rasul.

Tahap expert inilah tahap dimana manusia telah menjadi pewaris nabi, menjadi penyiar. Bukan penangkap siaran, bukan menjadi manusia yang terombang -ambing oleh megatrend kecanggihan aktifitas dunia. Manusia ini telah mempunyai kekuatan mengendalikan apapun bentuk siaran frekwensi dan partikel atom. Tingkat hacker frekwensi. Tingkat penggerak energi. Tingkat pengendali omongan atau suara. Tingkat mukimin cahaya tanpa warna. Tingkat penghulu ilmu. Tingkat sebuah rangkuman kekompleksan segala bentuk kecerdasan manusia tanpa terlalu banyak perantara dalam perwujudannya. 

Kalau ciri utama kekuatan Israel adalah kecerdasan mengolah informasi melalui tumpangan frekwensi atau cahaya, maka begitu mudahnya bagi tingkat pengendali ini membelokkan cahaya , frekwensi, atau struktur partikel. Hanya dengan menggeser satu derajat sudut kemiringan satelit, kacaulah segala indera dan tranformasi data sang gajah. Di sinilah jihad fisik baru bisa dimulai dimana israel tanpa tehnologi akan sangat kecut. Face to face berhadap – hadapan sangat tidak diharapkan mereka. Sedangkan umat Islam malah kebalikannya, ingin segera mati syahid.

Hal ini seperti yang dicontohkan rasulullah. Beliau hijrah dulu ke Madinah membangun kekuatan yang tidak sekedar fisik. Segala ilmu dan sistem sosial beliau arahkan menjadi sebuah kesolidan Tauhid yang menggiring Ilmu dan kekuatan konstruksi kelengkapan unsur manusia sampai tahap mentok. Sehingga ketika beliau bersama para sahabat mudik menahlukkan Makkah, malah pasukan Quraisy yang terlihat gagah, rontok sebelum perang dimulai.